Belajar dari Tetangga Sebelah

5 Feb

Budi Hernawan OFM

Dalam perjalanan pulang dari Belanda ke Australia, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Provinsi OFM Vietnam selama 4 hari: 18-22 Mei lalu. Kunjungan ini bermula dari perkenalan saya dengan Minister Provinsi Vietnam, F.X. Phan Long, saat kami bersama-sama menghadiri perhelatan Kapitel Umum di Assisi tahun 2009. Karena hanya 4 hari kunjungan, maka yang sempat saya lihat dan rasakan adalah suasana masyarakat di Ho Chi Minh City (HCM) dimana rumah induk provinsi ini berada.

Saat tiba di bandara, saya disambut dengan ramah oleh Sekretaris Provinsi, Tran Hanh, seorang bruder muda untuk sebuah tugas di tingkat provinsi, bersama seorang frater teologan. Dengan bahasa Inggris semampunya dari dua belah pihak, kami bercerita sedikit sepanjang jalan menuju ke provinsialat. Bisa dirasakan dalam sekejap mata, kesamaan arus lalu lintas Ho Chi Minh City alias Saigon dengan Jakarta. Keruwetan dan lautan kendaraan berebut cari jalan. Yang membedakan barangkali hanya dua hal: toleransi dan jenis kendaraan. Di Jakarta, kita begitu mudah mendengar klakson sedangkan di HCM kurang meski kepadatan jalan kira-kira sama. Kedua, di jalan-jalan HCM lebih banyak motor terlihat daripada mobil. Ini juga berbeda dari Jakarta.

Membangun citra baru
Saat itu Pemerintah Vietnam sedang menyelenggarakan pemilu. Sdr. Phan Long, Sang Provinsial, bilang, ‘Ya mau dibilang pemilu juga susah karena hanya ada satu partai saja.’ Tapi terkesan tidak ada pengawasan yang ekstra ketat di Wilayah Selatan negara itu terhadap penduduk yang tidak memilih. Sebagian Saudara tidak pergi “mencoblos” (sebenarnya hanya memilih nama) kertas suara. Ada yang pergi untuk mencoret semua calon anggota DPR yang tertera di surat suara. Inilah suasana negara komunis yang sedang beralih ke ekonomi pasar mengikuti jejak Cina.

Menurut Sdr. Xuan Thanh, bruder muda yang bergerak di bidang audio-visual dan teknologi informasi, Facebook dan sebagian situs diblokir oleh pemerintah. Saat saya mencoba membuka Facebook dari kamar ternyata memang tidak bisa. Tetapi, dia sendiri punya software untuk menembus blokade pemerintah. makanya selama ini dia tenang-tenang saja. Inilah kehebatan orang IT yang selalu punya jalan tikus. Dia memang luar biasa. Sambil menamatkan pendidikan audio-visual, oleh Provinsinya dia ditugaskan untuk berkarya di bidang itu dan sedang mengerjakan tugas untuk membuat riset untuk film sejarah Fransiskan Vietnam selain berbagai permintaan dari gereja dan dunia perfilman.

Ekonom Provinsi, Sdr. Nguyen Duy Lam, lain lagi ceritanya. Menurutnya, wilayah Selatan lebih terbuka daripada di wilayah utara sekitar Hanoi. “Di Utara, komunis jauh lebih ketat daripada di sini, “katanya. Mengurus izin bangunan bisa makan waktu berbulan-bulan dan itupun tidak pasti apakah nanti saat pembangunan berjalan, bisa diteruskan sampai selesai. Tidak jarang pemerintah intervensi di tengah dan menghentikan proyek kami”. Provinsi sedang dalam proses mengurus izin mendirikan rumah pendidikan di sekitar Hanoi dan mereka sedang menunggu jawaban. Doktor teologi sistematik lulusan Washington Teological Union di Amerika Serikat ini katakan bahwa pemerintah setempat di Utara sebenarnya senang dengan Fransiskan karena mereka membaur dengan rakyat dan mengerjakan hal-hal yang menjadi tugas pemerintah seperti penanganan HIV/AIDS, pendidikan keterampilan, dsb. tetapi pemerintah kuatir karena kedekatan itu, rakyat lebih dengar Fransiskan daripada pemerintah. Unsur pengaruh kepada
masyarakat inilah yang menjadi sumber kekuatiran pemerintah setempat.

Di permukaan terlihat jelas usaha pemerintah untuk membangun citra baru Vietnam yang dinamis, melayani kepentingan pasar, memiliki infrastruktur yang prima serta layanan umum yang memadai. Dimana-mana ada spanduk gaya ‘Orde Baru’ (bagi mereka yang masih ingat) dengan lukisan atau potret yang menggambarkan pemerintah sebagai ‘bapak’ atau ‘ibu’ yang baik dan paham akan kebutuhan ‘anak-anaknya’ di bidang pertanian, sekolah, kesehatan, industri manufaktur dsb. Kota HCM juga terlihat bersih karena sistem kebersihan yang jauh lebih canggih daripada Jakarta. Setiap sore ada truk sampah yang biasanya terlihat di jalan-jalan Canberra, Sydney, Amsterdam, Jenewa, Singapura atau kota maju lain. Truk khusus yang didesain untuk mengelola sampah awal dan tidak hanya mengangkut dan kemudian menimbun. Akibatnya tidak ada timbunan busuk di sudut-sudut pasar atau sekolah atau selokan-selokan. Barangkali juga tradisi Budha yang berakar kuat, seperti halnya di Thailand, membantu menjaga kebersihan air selokan karena selalu ada upacara-upacara keagamaan yang menghormati air sehingga tidak bisa dibayangkan kalau selokan penuh sampah dan berbau busuk.

Pemasaran citra ke dunia luar juga terlihat dari bangunan gedung opera di tengah kota yang cantik tetapi bergaya romantik-Eropa. Bagaimanapun selera Eropa tidak bisa dihindarkan dari upaya menata wajah di negara berkembang. Mal-mal baru dan mahal tertata di pusat kota dan tukang ojek berseliweran juga cari penumpang. Turis asing baik dari Eropa, Amerika dan Asia kelihatan tumpah ruah di kota meski tidak seramai Bangkok atau Kuta. Kesan saya tingkat kriminalitas cukup rendah sehingga orang dengan santai jalan di pinggir jalan tanpa gangguan copet atau perampok
seperti Port Moresby. Kaum perempuan juga lebih rileks dengan cara berdandan karena tidak ada tekanan ala syariah Islam. Sehabis kerja sore, orang umumnya kumpul di taman-taman atau warung-warung untuk minum kopi sambil cerita.

Yang tak boleh dilewati adalah makanan. Bagi mereka yang pernah mencicipi makanan Inggris, Irlandia, Belanda atau Jerman, makanan Vietnam akan terasa amat menyegarkan. Bumbu-bumbu, cara memasak, dan harga sama dengan di tempat kita sehingga membuat kita tidak akan merasa asing. Yang khas adalah mie kuah (pho: dibaca fe) dalam mangkok besar yang dikombinasi dengan daging babi, sapi, ayam dan kadang-kadang bebek. Warung-warung di segala sudut membuat kita tidak perlu jalan jauh atau perhatikan jam-jam buka seperti di negara-negara industri. Harga berkisar antara Rp. 5.000-20.000,- karena 1 Dong = Rp. 2. Barang-barang di toko juga relatif sama dengan harga-harga di toko-toko Abepura atau Jayapura.

Kesan saya jam kerja Vietnam lebih pagi daripada di Indonesia. Orang sudah aktif sekitar jam 7.30 karena makan siang sekitar jam 11.30. Saya sendiri kurang tahu berapa UMR (Upah Minimum Regional) di HCM untuk membandingkan dengan harga-harga sembako dan kebutuhan lainnya. Dari situ kiranya baru bisa diraba sedikit kenyataan hidup masyarakat setempat dan tantangan yang dihadapi. Sepintas lalu harga barang di pertokoan biasa tidak jauh beda dengan Mal Saga Abepura atau Jayapura. Tentu mal di tengah kota untuk turis bule tidak bisa jadi ukuran.

Persaudaraan muda
Saat Ordo merayakan 800 tahun pada tahun 2009 yang lalu, Provinsi Vietnam merayakan 80 tahun provinsi. Jadi umur tidak terlalu jauh dengan provinsi Indonesia yang sudah merayakan 75 tahun tapi memang berbeda jauh dengan kita di Kustodi yang baru 2 tahun sebagai Kustodi Independen. Di usia yang masih muda dibanding usia Ordo, provinsi ini memiliki visi yang jelas terlihat dari keteguhan dan keberanian dalam investasi tinggi dalam sistem formasi mereka.

Selama perjalanan 2 hari bersama Br Hanh, Sang Sekretaris, yang mengantar saya keliling kota dan juga persaudaraan di sekitar HCM, termasuk salah satu dari dua biara Klaris di kota itu, saya diperkenalkan dengan keseriusan provinsi dalam membangun persaudaraan dan masyarakat Vietnam untuk jangka waktu panjang. Seperti kita, mereka bukan orang kaya raya. Hubungan dengan provinsi asal, yakni Perancis, juga ada tetapi sudah mandiri.

Berbeda dengan kaum religius di Indonesia dan Papua, model STFT rupanya tidak terlalu diminati. Pusat pendidikan bersama masih ada tapi ditinggalkan oleh tarekat-tarekat dan sebagai ganti, tarekat-tarekat memiliki ‘seminari tinggi’ sendiri seperti lazim di Indonesia sebelum tahun 1970an. Karena itu masing-masing tarekat memiliki dosen-dosen sendiri tetapi juga saling tukar. Saat diantar ke Seminari OFM, saya terkagum-kagum dengan bangunan yang luar biasa luas; sekolah dengan dua lantai tapi liku-liku di dalam jauh lebih menarik.

Berbeda dengan gaya kita dan Provinsi Indonesia, formasi Vietnam mulai dengan aspiran dua tahun yang sudah tinggal di komunitas. Saat itu ada 57 aspiran. Sewaktu rektor seminari, seorang doktor teologi lulusan Universitas St. Thomas Manila, menemani saya jalan-jalan kenalan dengan para aspiran, dia menjelaskan bahwa pilihan ini diambil untuk meningkatkan pendidikan dasar mereka sebelum bisa masuk ke tingkat universitas. “Karena itu kami fokus pada Bahasa Inggris dan sedikit spiritualitas” jelasnya. “Untuk itu selama masa tugas saya, saya datangkan saudara-saudara dari Provinsi Hati Kudus California sebagai guru-guru. Saya mau mereka sudah punya basis yang kuat saat belajar lebih lanjut”. Niat ini memang kelihatan nyata. Dengan mudah saya omong-omong dengan aspiran dan para seminaris dalam bahasa Inggris. Saat makan siang, saya tanyakan bagaimana dengan urusan visa masuk? Dia jawab, “Dano (Fransiskan dari California yang mengajar di situ) masuk dengan visa turis untuk tiga bulan. Nanti yang lain juga begitu”.

Selain aspiran ada sekitar 40 Saudara Muda tinggal dan juga kuliah di situ sehingga saat makan siang ada sekitar 90 orang di ruang makan. Meja makan untuk aspiran, Saudara muda dan Saudara senior tidak dipisahkan seperti yang biasa kita buat di sejumlah komunitas.

Sdr. Hanh lanjutkan antar keliling kintal. Di bagian lain dari kompleks seminar dikhususkan sebagai rumah retret, seperti Sanggar Samadi St. Klara di Sentani. Di taman mereka dirikan beberapa pondok dan ditata indah. Yang lebih mengesankan adalah upaya untuk menghadirkan riwayat hidup Fransiskus dalam wujud fisik dan visual. Dengan cermat, didirikan miniatur kota Assisi di tengah taman lengkap dengan kali-kali kecil yang membantu pengunjung, aspiran dan orang lain membayangkan apa arti Assisi bagi Fransiskus dan Fransiskan. Patung lain adalah Fransiskus dan serigala di Gubbio bahkan kapel Portiunculapun dibangun lengkap dengan tiruan gambar Salib San Damiano. Ide ini menarik bagi saya karena cara semacam ini amat membantu mereka yang berusaha mengenal hidup Fransiskus yang datang dari zaman, wilayah, waktu dan kebudayaan yang sangat asing bagi kita di Asia dan Pasifik.

Di tengah taman ada kolam kecil dengan tiga batu besar dan coretan huruf Vietnam tua di bawah rimbunan bambu. Saya tanya Hanh apa artinya. Dia bilang, “Tiga batu itu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.” Canggih memang. Di tengah budaya Budhis, persaudaraan Vietnam mencoba memperkenalkan spiritualitas kita dengan berbagai cara. Apalagi kalau nanti film yang dibuat Tanh selesai, maka upaya kontekstualisasi Fransiskan dalam dunia Vietnam pasti akan lebih terbantu juga.

Sesudah keliling seminari, Hanh ajak saya kunjungi biara Klaris di seberang jalan saja. Kami menikmati suasana teduh di situ. Berbeda dengan Pacet, pakaian suster klaris lebih kontekstual di HCM karena memakai model pakaian perempuan Vietnam yang berupa kombinasi antara celana panjang dan baju kebaya. Mereka sedang kerja rumah dan ada satu dua tamu. Suster penerima tamu kelihatan senang dengan kedatangan kami dan di sinilah saya rasa pentingnya memahami bahasa-bahasa Asia. Saya tidak tahu samasekali bahasa Vietnam dan suster juga tidak tahu bahasa Indonesia atau Inggris. Untung Hank membantu jadi juru bahasa.

Dari pembicaraan singkat itu, diperoleh informasi bahwa panggilan Klaris cukup tinggi di Vietnam. Orang-orang muda tetap tertarik hidup dalam dunia kontemplatif. Gambaran yang amat berbeda dengan Klaris kita. Dari segi formasi mereka juga amat terbantu dengan kehadiran seminari di seberang jalan dan jaringan kerja antar tarekat di HCM. Tak lama kemudian kami berpamitan dan kembali ke seminari.

Saatnya makan siang, saya bergabung dengan semua penghuni biara. Jumlahnya sekitar 100 orang karena terdiri dari 57 aspiran, 40 Saudara muda, dan sisanya Saudara senior termasuk beberapa yang lansia dan pensiun. Rame suasana makan siang. Gardian memperkenalkan saya ke komunitas dan kami menikmati santap siang. Gardian sendiri seorang dosen kitab suci, doktor dari Universitas Sorbonne, Paris. Makan siang Vietnam selalu bermacam-macam. Ada sayur, lauk daging dan ikan, nasi putih, sup, rica buah ada juga, plus teh pahit bening. Tidak seperti orang Eropa dan Amerika Utara, kelihatannya tidak ada urutan: sup dulu baru makanan pokok dan penutup. Orang bebas saja mulai dan berakhir dimana. Rileks. Ini Asia!

Sesudah makan seperti biasa ada rame-rame cuci piring dan kemudian siesta sama seperti kita. Makan siang juga agak cepat bagi perut saya karena itu baru jam 11.30! Setelah beberapa waktu tinggal di dunia yang tidak kenal siesta seperti Australia, sebenarnya saya menjadi kurang terbiasa lagi. Tapi karena udara begitu panas mirip APO, ya tidak ada salahnya baring-baring sejenak. Setelah agak segar, kami dua Hank pulang kembali provinsialat. Tapi sebelum cabut, kami singgah dulu ke bengkel kerja dua Saudara pematung yang sedang mengerjakan pesanan patung dinding untuk sebuah gereja. Saya tanyakan apakah patung keluarga kudus a la Vietnam yang ada di depan seminari juga mereka buat? Mereka bilang, “Iya” Patung itu mengesankan karena kedua Saudara yang masih muda ini mampu menerjemahkan gambaran keluarga kudus dalam wujud budaya lokal. Tidak hanya model pakaian tapi juga postur, tatanan rambut, dan terutama wajah. Barangkali ini salah satu tanda keberanian dan keteguhan investasi dalam formasi mereka. Mereka berani ambil langkah untuk ambil dua tahun aspiran sebelum postulan dan dengan serius memperbaiki tingkat pendidikan dan kepribadian dengan porsi keterampilan Bahasa Inggris yang memadai. Mereka berani mengutus Saudara-saudara untuk belajar ke berbagai tempat baik di dalam provinsi maupun di luar dan akhirnya berkarya sesuai dengan bakat masing-masing. Yang paling mengesankan bagi saya adalah visi mereka tentang pendidikan tidak hanya terbatas pada filsafat dan teologi. Karya seni seperti pematung, pemusik, audio-visual tidak hanya diberi tempat tetapi digarap dengan serius. Pastilah ini semua tidak murah tapi saya yakin mereka tidak mau mengikuti pepatah, “If you give peanuts, you get monkeys”.

Provinsialat
Ekonom dan Provinsial mereka mengajak saya untuk datang lagi tapi lebih lama supaya bisa kenal persaudaraan karena “Fransiskan ada di luar HCM bukan di HCM”. Dibanding dengan mengurus proyek di Papua, kiranya Vietnam jauh lebih sulit. Pemerintah tidak mengizinkan Gereja atau Tarekat mengadakan kontrak-kontrak langsung dengan Missionzentrale misalnya atau Missio atau lembaga donor lain. Padahal untuk lembaga-lembaga seperti ini ketiadaan kontrak mendatangkan kesulitan karena mereka hidup di alam ‘administrasi tertulis yang legalistik’. Tanpa ada bukti hitam putih, kerjasama secara hukum juga tidak ada. Akibatnya dana juga tidak bisa dialirkan. Ini hanya salah satu pergumulan yang belum juga ada jalan keluar.

Terkesan bahwa hubungan Provinsi Vietnam dengan provinsi-provinsi lain tertata baik. Dengan Filipina mereka kirim orang studi di Manila. Mereka kirim 2 orang Saudara kerja di Provinsi Australia. Tiga Saudara sedang merintis komunitas di Kamboja dan 2 orang Saudara yang sudah cukup lanjut akan dikirim ke Provinsi Perancis karena hanya tinggal sedikit Saudara yang fasih berbahasa Perancis, mantan penjajah. Hubungan dengan Provinsi “Hati Kudus” di California juga terbangun dengan program Bahasa Inggris dan dengan Provinsi New York terjalin lewat pendidikan teologi di Washington Theological Union di Washington DC. Selain itu beasiswa Kuria juga mereka manfaatkan. Sewaktu saya di situ, gardian komunitas yang merayakan 40 tahun hidup membiara sedang bersiap-siap untuk menjalankan tahun sabat ke California selama 6 bulan.

Meski pendek, saya menikmati kehidupan sehari-hari di provinsialat ini. Rumah besar dengan 3 lantai berbentuk U dan dihuni sekitar 20 orang. Model mirip seperti Pikhe hanya ini dicat abu-abu muda dan putih. Irama harian memang jauh lebih keras daripada kita punya karena mereka mulai dengan meditasi bersama jam 5 pagi sebelum misa jam 5.30. Saya sendiri tidak berhasil mengikuti irama ini dalam masa kunjungan singkat itu. Kemudian semua pergi kerja dan jam 11.30 umumnya kembali untuk makan siang dan siesta. Sore kerja rumah dan jam 5.30 doa sore sebelum makan jam 6.15. Seluruh irama ditutup dengan completorium jam 7.30.

Boleh jadi irama ini bagian alamiah dari hidup rakyat setempat yang mulai pagi-pagi buta dan sore sudah selesai. Ketika Hanh dan saya mengunjungi satu biara Budha yang sudah berumur 300 tahun, kepala biara jelaskan bahwa mereka mulai bangun jam 3 pagi dan kemudian meditasi lalu jam 4 berlatih kungfu. Jam 5 mereka berdoa bersama dst. Irama-irama setempat tentunya memberikan pengaruh pada persaudaraan di Vietnam ini seperti di tempat kita juga.

Apa yang bisa dipetik?
Bagi saya mengenal tetangga bermakna mendalam bagi perjalanan hidup saya selaku ‘musafir dan perantau’ di dunia ini karena selalu ada unsur baru yang bisa saya petik dari perjumpaan tersebut. Bercermin dari pengalaman Provinsi tetangga ini kiranya kita memiliki banyak kesempatan untuk saling belajar. Pertama, provinsi ini memiliki visi menyeluruh atas suatu formasi Fransiskan yang kuat, utuh dan berakar pada konteks sosial, politik, cara berpikir dan hidup religius orang Vietnam.

Kedua, provinsi ini berani berinvestasi dengan menerapkan dua tahun aspiran dengan tekanan pengolahan hidup dan ketrampilan berbahasa Inggris. Keseriusan ini dapat dilihat dari guru, fasilitas belajar mengajar, perpustakaan, dan juga kesinambungan. Investasi ini kiranya juga bersifat strategis karena makin muda orang belajar bahasa asing, biasanya makin mudah sehingga sebenarnya relatif murah.

Ketiga, sistem formasi mereka mampu menerjemahkan macam-macam kharisma dalam persaudaraan dengan memberikan sarana yang serius. Yang berbakat untuk berpikir dan berekspresi secara visual diberi kesempatan belajar khusus. Yang berbakat membuat patung juga demikian. Yang berbakat filsafat dan teologi diberi ruang yang sama. Investasi sedemikian memampukan provinsi menyumbangkan jasa dan pelayanan besar kepada masyarakat luas termasuk Gereja setempat dan persaudaraan sendiri.

Terakhir, menghadapi pemerintah komunis, mereka tidak bungkam. Meski mereka tidak turun ke jalan untuk berdemonstrasi, pilihan untuk hidup di tengah petani miskin dan bekerja di desa-desa terpencil itu tanpa menonjolkan simbol-simbol kaum berjubah, kiranya merupakan kebijakan nyata akan pilihan untuk berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Tentu masih banyak yang bisa saya simpulkan tetapi baiklah saya batasi pada potret sepintas lalu. Tentu baik di tengah masa persiapan Kapitel Kustodi pertama sebagai entitas mandiri, pimpinan Kustodi dan Dewan Pendidikan bisa mempertimbangkan model investasi hidup Fransiskan di Vietnam yang saya sajikan ini. Boleh jadi salah seorang formator diberi kesempatan untuk datang dan menggali sendiri pengalaman dari entitas ini karena transportasi toh gampang, tidak perlu visa, dan biaya jauh lebih kecil daripada ke Eropa apalagi makanan amat lezat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: