Archive | Refleksi RSS feed for this section

ASISTENSI NATAL

6 Feb

Elias Hardiman OFM

Pengalaman natal tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Natal tahun ini merupakan kesempatan perdana bagi saya untuk berasisitensi. Saya berasisistensi di stasi Nuri, tepatnya di Ecko lima. Dalam perjalanan rasanya jauh, namun meyenangkan karena semua saudara muda yang berasistensi di paroki santa klara Taja-Lere memakai satu mobil sehingga di dalam mobil penuh dengan bercanda ria antara satu sama lain. Sampai di Juk semua saudara terpisah menuju tempat asistensi masing-masing. Namun ada beberapa saudara yang berasisitensi di stasi Nuri menunggu mobil hingga sore hari. Saya bersama saudara Tri (mahasiswa STPK) tiba di tempat asisitensi jam tujuh malam.

Sampai di tempat tersebut kami berdua langsung menuju rumah yang akan kami tinggal. Situasinya sangat ramah dan menyenangkan. Walaupun situasinya ramah dan menyenangkan namun ada satu hal yang membuat saya tidak enak yaitu ketidakcocokan antara sesama umat. Saya sebagai orang yang terpanggil merasa bahwa situasi ini tidak boleh ada karena itu perlu ada kedamaian antara satu sama lain dan sikap saling memaafkan sangat penting. Bagi saya ini merupakan suatu pengalaman yang berharga, sebab asisitensi perdana ini langsung berhadapan dengan situasi seperti ini sehingga dalam perjalanan selanjutnya tidak asing lagi bagi saya. Ada beberapa hal yang yang kurang menyenangkan dalam kehidupan masyarakat yaitu saling menceritrakan keburukan satu sama lain.

Hal seperti ini sebenarnya tidak boleh ada dalam kehidupan kita sebagai sama-sama orang yang percaya akan Yeusus Kirstus. Jika kita mengimani Yeusus Kristus namun dalam kehidupan setiap hari selalu ada percecokkan antara sesama itu berarti kita mengimani Kristus tersebut hanya sebagai sandiwara saja. Sebab jika kita betul-betul mengimani Kistus denga hati yang terbuka dan tulus maka pasti dalam kehidupan setiap hari selalu rukun dan damai.

Situasi masyarakat
Penduduk yang ada di Ecko lima berasal dari berbagai macam daerah. Ada yang dari Flores, Timor, Kei, Tanimbar dan orang asli Papua. Jumlah penduduk yang beragama katolik cukup banyak namun orang-orang yang datang beribadah di Gereja sangat sedikit. Yang paling disayangkan adalah orang yang malas ke gereja menonton orang yang pergi ke gereja. Situasi seperti ini mau menunjukan bahwa orang sudah tidak pusing lagi dengan agama. Yang mereka pentingkan adalah uang dan bebagai macam sarana duniawi lainnya.

Sebagai seorang calon pelayan gereja saya melihat bahwa situasi ini memberi tanda bahwa manusia zaman sekarang lebih suka hidup tanpa beragama ketimbang hidup beragama. Kalau menyadari bahwa agama merupakan sarana keselamatan tentu saja iman akan mendorong mereka untuk datang ke gereja dan berkomunikasi dengan Tuhan. Namun kesadaran bahwa gereja adalah sara keselamatan sepertinya hilang sebab yang namapak adalah sikap malas tau dan cuek. Selain itu juga relasi antara sesama masyarakat kurang harmonis sehingga dalam pergaulan setiap hari sangat tertutup dan kurang komuniktif.

Persolan-persoalan seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika dalam hidup kita bersama, tumbuh rasa cinta kasih dan kedamain dalam diri kita msing-masing. Pun sebaliknya jika dalam kehidupan kita sebagai manusia selalu ada kecurigaan yang kurang baik maka sampai kapan pun pasti selalu ada persoalan. Oleh sebab itu satu tugas yang harus saya jalankan dalam situasi seperti ini adalah berusaha mendamaikan mereka dan mampu merangkul mereka untuk lebih komunikatif dalam pergaulan setiap hari. Di samping itu juga memberi pengertian kepada mereka untuk tidak boleh menciptakan situasi yang tidak harmonis. Karena itu sebagai orang katolik yang telah dibaptis hendaknya harus mewujudnyatakan iman kita dalam kehidupakan kita setiap hari.

Ada banyak hal yang saya dapatkan pada asisitensi perdana ini. Dari pengalaman-pengalaman ini semua mau menuntut saya untuk lebih kuat dan lebih kritis dalam menjalankan hidup ini. Namun di tengah situasi yang berat tersebut saya selalu merenungkan bahwa Tuhan tidak akan pergi dari diri saya. Dia akan terus mendampingi perjalanan hidup saya dalam keadaan apapun bentukya. Kebaikannya selalu kurasakan dalam perjalanan hidup saya lebih khusus pada waktu asistensi natal ini. Kebaikan Tuhan itu saya rasakan lewat pelayanan dari umat yang begitu baik sehinga sebagai seorang calon imam saya juga belajar dari cara umat melayani saya.

Cara melayani orang dengan hati yang tulus dan terbuka merupakan suatu hal yang baik untuk saya kembangkan dalam hidup saya di hari-hari yang akan datang. Dari pengalaman-pengalaman nyata seperti ini meyadarkan saya bahwa kebikan Tuhan sunguh nyata dan meyenangkan. Walupun dalam melayani orang sangat baik namun masih ada hal lain yang kurang baik yang seringkali terjadi di tempat ini. Salah satu persoalan yang saya alami adalah umat sangat malas untuk datang ke gereja. Realitas seperti ini menjadi suatu pelajaran bagi saya bahwa sekarang umat lebih suka tinggal di rumah ketimbang pergi ke gereja untuk berdoa. Sikap umat seperti ini memberi tanda bahwa dalam perkembangan selanjutnya umat manusia lebih suka hidup dalam keenakan duniawi ketimbang berkorban untuk memuji dan memuliakan Allah.

Bersama Anak-Anak Asmat di Asrama Putra St. Martinus de Pores Agats

6 Feb

Peter Supardi OFM
 
Para fransiskan yang berkarya di Keuskupan Agats diberi kepercayaan mendampingi dan mendidik anak-anak Asmat yang tinggal di asrama putra St. Martinus de Pores Agats. Sejak Januari 2011, Sdr. Alex Suprapto OFM menjadi kepala asrama ini. Mengingat tidak ada yang membantunya sebagai pembina, maka Sdr. Alex OFM menangani seluruh gerak asrama mulai dari urus makan-minum hingga mendampingi anak-anak saat belajar.
Sejak tiba di Agats, pada 26 Agustus 2011, saya dilibatkan untuk mendampingi anak-anak asrama ini. Namun, saya hanya bisa melaksanakan tugas ini kalau saat ada di Agats. Tugas yang saya kerjakan adalah mendampingi anak-anak kelas I SMP, latih lagu, doa pagi bersama anak-anak, dan pernah juga memberikan renungan (rekoleksi singkat).

Saat Sdr. Alex OFM diundang ke Jayapura pada 17-25 Oktober 2011, untuk mengikuti pertemuan para pimpinan asrama se-tanah Papua, saya diberi kepercayaan untuk mendampingi anak-anak Asmat di asrama ini. Rangkaian pengalaman ada bersama anak-anak Asmat inilah yang hendak disharingkan dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi kita dalam tugas perutusan kita, terutama dalam pelayanan kita kepada kaum termarginal di tanah ini.
 
Harapan Masa Depan Asmat
Tunas muda Asmat, yang tinggal di asrama putra St. Martinus de Pores Agats berasal dari berbagai kampung, yakni Ewer, Yepem, Pirimapun, Warse, Omor, Safan, Ocenep, Tareo, Basim, Semendero dan Yamas-Yeni. Mereka umumnya masih duduk di bangku SMP, hanya beberapa orang saja yang berstatus sebagai siswa SMA. Jumlah seluruh penghuni asrama semula 50-an orang, tetapi sebagian sudah keluar dengan berbagai alasan; hingga kini tinggal 38 anak.

Sejak ditangani oleh Sdr. Alex OFM kehidupan di asrama ini berjalan tertib dan teratur. Pk 05.00 WIT para penghuni bangun untuk berdoa dan sebagian lagi masak untuk sarapan pagi. Setelah doa, ada yang belajar, tetapi sebagian besar tidur lagi, lalu mandi (cuci muka), sarapan dan berangkat ke sekolah. Siang hari, pk 13.00 WIT, mereka makan siang dilanjutkan dengan istirahat siang. Sore hari kerja bakti di sekitar asrama sesuai jadwal yang ada. Pada pk 18.00-19.00 WIT, mereka belajar sore. Pk 19.00 WIT makan malam. Setelah makan malam, mereka melanjutkan aktivitas belajar malam, lalu doa dan istirahat malam.

Ada waktu istirahat, kerja bakti, latihan nyanyi, rekoleksi dan rekreasi. Namun, untuk melaksanakan  berbagai program dan tata tertib yang telah disepakati ini tidaklah mudah. Kalau kita melihatnya sepintas, tentu akan ada stigma negatif terhadap anak-anak ini: malas, kepala batu, suka melawan, suka tipu, pencuri, dan lain-lain. Tetapi, saya sendiri memulainya dari apa yang ada, dan berangkat dari pikiran dan hal positif yang bisa dikembangkan. Kepada Sdr. Alex OFM, saya selalu mengatakan bahwa: “Anak-anak Asmat tinggal di asrama saja, itu sesuatu yang luar biasa.” Mengapa? Karena itu bukan budaya dan kebiasaan mereka. Maka kalau terjadi gerakan tambahan, kita perlu mengerti latar belakang dan situasi mereka.

Pengalaman selama seminggu ada bersama anak-anak Asmat di asrama St. Martinus de Pores Agats, memang membuat urat-saraf tegang. Sebab saya menjumpai anak-anak yang tidak mau ke sekolah, tidak mau masak, kasih rusak gagang pintu dan ada anak yang memotong terminal lampu di kamar makan. Belum lagi, saya harus mencari mereka ke lapangan Yos Sudarso untuk mengajak anak-anak yang bertugas masak untuk pulang masak makan malam. Ditambah lagi sebagian anak berkeliaran di kota Agats pada saat jam belajar sore. Bahkan ada yang tidak mau bangun pagi untuk doa pagi dan juga untuk misa pagi di Katedral.

Ada pengalaman bahwa saya pernah menegur salah satu penghuni SMA karena dia tidak mau ikut doa, kerja dan ke sekolah. Namun apa jawabnya? Dia mengatakan: “Kamu kalau mau jadi Pastor dan frater itu, jangan marah-marah.” Jawaban ini membuat tensiku naik, tetapi syukur bahwa saya masih bisa mengendalikan diri sehingga tidak terjadi percecokan. Kalau mau menggunakan kekerasan untuk mendidik anak-anak ini, bagiku tidak sulit. Namun, Sdr. Alex OFM selalu menasihati bahwa kita mendidik anak-anak ini dengan penuh pengertian dan kasih sayang. Sebab, anak-anak ini mungkin tidak tahu apa yang mereka katakan dan perbuat. Pendekatan kasih, merangkul dan selalu memberikan nasihat-lah yang mewarnai seluruh proses pembinaan di asrama putra St. Martinus de Pores Agats.

Meskipun sepintas lalu tampak bahwa anak-anak ini nakal dan menjengkelkan, tetapi kami tidak berlaku kasar terhadap mereka. Sikap kasih yang dikedepankan dalam pembinaan ini, justru ditanggapi berlainan oleh para penghuni. Ada yang senang, tetapi ada juga yang kurang setuju. “Kaka kalau ada yang malas dan tukang melawan, pukul saja boleh,” ungkap salah satu penghuni kepadaku. Tetapi kepada mereka saya jelaskan bahwa pendekatan kasih yang dilakukan di asrama ini menunjukkan bahwa para fransiskan melihat anak-anak Asmat sebagai manusia, anak-anak Allah, sehingga jalan kekerasan bukanlah solusinya. “Kalau kami pukul kamu, berarti kami lihat kamu tidak lebih dari pada binatang. Tetapi kami lihat kamu adalah anak-anak Allah. Kamu berharga. Dan kami sangat menghargai dan mengasihi kamu. Kalau kami sangat menghargai kamu, maka kamu harus lebih menghargai kamu punya diri,” nasihatku.

Saya sendiri amat menghargai anak-anak Asmat di asrama ini. Tatkala berjumpa, saya selalu berusaha menyapa mereka terlebih dahulu. Saat ada di Agats, saya selalu menyempatkan diri bercerita dan berbagi pengalaman dengan anak-anak ini. Demikian halnya dalam doa dan kegiatan lainnya, saya selalu berpesan dan memberikan motivasi agar mereka belajar sungguh-sungguh, menyiapkan diri dengan baik untuk menjadi pemimpin masa depan Asmat.

Walaupun tidak mudah mendampingi, memberikan arahan dan motivasi terhadap anak-anak Asmat di asrama ini, tetapi selalu ada harapan dan kepercayaan bahwa kini dan kelak, asrama ini akan melahirkan generasi Asmat yang berakhlak mulia, yang akan menjadi pemimpin tanah Asmat ke depan.
 
Catatan Refleksi
Tidak mudah bagi manusia dunia ini berada di tengah orang-orang kecil yang dicap sampah, bau, bodok dan lain sejenisnya. Namun, hal ini tidak mustahil bagi para fransiskan. Sdr. Agus Adil OFM telah membuktikannya dengan merawat orang dengan HIV/AIDS. Sdr. John Kea Kebu OFM sekian lama melayani orang-orang sakit di RSUD Dok II, Marthen Indey dan Dian Harapan serta mereka yang ada di penjara. Hal yang sama dilakukan oleh Sdr. Alex Suprapto OFM di asrama St. Martinus de Pores Agats. Di tempat ini, Sdr. Alex OFM mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendampingi anak-anak Asmat yang tinggal di asrama ini.

Saya turut merasakan pendekatan dalam pendampingan yang diterapkan oleh Sdr. Alex OFM, yakni mengedepankan kasih dan merangkul anak-anak. Hal ini cocok diterapkan bagi anak-anak di asrama ini yang tidak jarang dicap bodok, malas, terbelakang dan lain sebagainya. Hanya dengan mengasihi dan merangkul mereka, kita dapat menyelami isi hati dan pergumulan mereka. Dan dari sanalah, hendaklah dimulai suatu pendampingan yang intensif bagi anak-anak ini, agar mereka dapat berkembang ke arah yang lebih baik.
Memang tidak mudah memiliki sikap tenggang hati terhadap sesama, sebab seringkali kita dikuasai oleh nafsu untuk memperlakukan orang lain (sesama), bukan sebagai saudara dan sahabat, tetapi kita lebih menekankan relasi berdasarkan peran (fungsi), sehingga tercipta jurang antara atasan dan bawahan (bdk Pth 18). Akibat lebih lanjut adalah kurangnya penghargaan dan kasih apa lagi merangkul mereka yang tersisih.

Sejak ada bersama anak-anak Asmat di asrama ini, saya tidak pernah memandang mereka sebagai anak-anak bodok dan lain sejenisnya, apa lagi merendahkan mereka. Saya melihat mereka sebagai rekan seperjalanan. Mereka adalah sahabat-sahabat saya. Kami sering berbagi cerita, sharing pengalaman, baku cari gara dan lain sebagainya. Saya menyempatkan diri untuk mengajari mereka menulis dan membaca. Saya juga sering melihat mereka saat masak atau belajar. Dengan demikian, kami sangat dekat. Saya terharu, kalau saat tiba dari Yamas, ketika mereka melihatku, ada yang berteriak: “Kaka datang … kaka datang.” Penghargaan yang kami berikan kepada mereka, lambat laun menghasilkan buah yang baik. Dan ke depan tentu akan lebih baik lagi.

Kalau mau jujur pada diri sendiri, saya belajar banyak hal dari anak-anak ini dan juga orang-orang Asmat yang saya jumpai di Paroki St. Silvia Yamas. Saya dituntun untuk menjadi pribadi yang rendah hati, setia, mendengarkan, mengasihi, mengampuni dan merangkul semua manusia, tanpa membedakan latar belakang budaya, suku dan lain sejenisnya. Mereka mengajari saya untuk makin mengasihi orang-orang Papua yang seringkali mendapat stigma bau, bodok, kaskado dan lain-lain. 
Saya juga belajar banyak hal baik dari Sdr. Alex OFM. Kami sering berbagi cerita dan saling menukar pikiran tentang mendampingi anak-anak ini. Ia telah mengajariku untuk selalu sabar dan merangkul mereka yang kadang kepala angin.

Di akhir refleksi ini, baiklah bila kita masing-masing berjuang mengalahkan diri kita sendiri untuk dapat mengasihi dan merangkul sesama kita pun yang paling kecil. Hendaklah kita memandang sesama sebagai rekan sekerja dalam perziarahan hidup kita. Sekecil apa pun seseorang, hendaklah kita hargai dan hormati. Dan jangan memperlakukan mereka sebagai bawahan, sebab di hadapan Allah kita sama. Kita sama-sama memiliki kerapuhan dan dosa. Maka hendaklah kita saling mengasihi satu sama lain.

Yamas, 19 November 2011

Kisah Natal di Stasi Yufri-Yaun

6 Feb

Peter Supardi OFM

Dalam kisah dan refleksi turnei Natal 2011 di stasi-stasi, yang ada di Paroki St. Silvia Yamas terungkap sejumlah pengalaman perjumpaan yang menarik, menggembirakan tetapi juga menantang. Pada kesempatan ini hendak disharingkan pengalaman perayaan Natal bersama umat di Stasi St. Yusuf Tukang Yufri-Yaun. Semoga untaian kata yang terungkap dalam catatan sederhana ini membantu kita, para fransiskan untuk senantiasa mengolah hidup dan panggilan kita serta menempatkannya dalam salah satu serpihan spiritualitas kita, yakni menjadi hamba Allah yang tetap rendah (Pth XVII & XIX).
 
Rekam Perjalanan dan Misa Natal
Pagi ini, Senin, 26 Desember 2011, cuaca mendung dan sungai Pomats, yang terletak di depan Pastoran St. Silvia Yamas sedang naik tinggi, menutupi seluruh wilayah daratan Kampung Yamas-Yeni. Sesuai rencana, kami akan berangkat ke Stasi St. Yusuf Tukang Yufri-Yaun. Setelah sarapan keladi goreng, kopi dan teh  hangat, kami pun langsung menyiapkan diri dan berbagai perlengkapan untuk segera berangkat.
Setelah semua persiapan beres, pk 08.10 WIT kami (Sdr. Anton OFM, Sdr. Peter OFM &  Sdr. Ulis-motoris) meninggalkan dermaga Yamas menuju Stasi  St. Yusuf Tukang Yufri-Yaun. Sebetulnya, Sdr. Ulis masih ragu (takut) ke Kampung Yufri-Yaun mengingat peristiwa pembunuhan dan pertikaian 10 September 2011 lalu, antara orang Yamas-Yeni dengan orang Yufri-Yaun. Namun, ia memberanikan diri mengantar kami karena tidak ada motoris lain. “Frater, saya takut, tetapi Pater Anton minta saya harus berani,” ungkap Ulis kepadaku.

Cuaca agak mendung dan ombak mengiringi perjalanan kami pagi ini. Tidak jarang air masuk ke dalam speedboad dan membasahi kami. Namun ini tidak berlangsung lama, sebab hanya pada tempat-tempat tertentu saja, yang ombaknya besar; misalnya saat melintasi muara anak sungai pasti ada ombak cukup besar karena pertemuan air.

Setelah sekian lama melaju pada pk 08.40 WIT, kami tiba dengan selamat di dermaga darurat Yufri-Yaun yang terletak di belakang pastoran. Kami disambut dengan hangat oleh Katekis, Sdr. Jolentinus Jumilena, Ketua Dewan Gereja, Sdr. John dan beberapa umat lain. Cuaca kembali cerah bahkan panas. Matahari memancarkan sinar teriknya dan kian lama kian panas. Sementara di gereja, tampak sudah banyak umat yang sudah berkumpul untuk merayakan perayaan Natal.

Meskipun umat telah siap, tetapi karena Sdr. Anton OFM masih lelah dan cape maka disepakati bahwa misa Natal akan dilaksanakan pada pk 15.00 WIT. Waktu yang ada digunakan oleh Sdr. Jolen untuk memberikan pembinaan bagi umat yang anaknya hendak menerima sakramen baptis, komuni dan perkawinan. Sementara orang muda Katolik (OMK) menggunakan waktu ini untuk latihan koor.

Meskipun cape, Sdr. Anton OFM masih menyempatkan diri ke Jew Kampung Yufri. Saya langsung masak nasi, goreng ikan asin dan tumis daun singkong campur mie goreng. Beberapa saat kemudian, Sdr. Anton OFM kembali dari Jew dan makanan pun telah siap sehingga kami langsung makan bersama. Setelah makan kami langsung beristirahat dan menyiapkan diri untuk mengikuti misa sore hari nanti.

Cuaca yang sebelumnya mendung, berubah menjadi sangat panas, bahkan menjelang sore pun hawa panas masih menyelimuti Kampung Yufri-Yaun. Hal ini menjadi salah satu alasan misa terlambat dan baru dimulai pada pk 15.44 WIT. Sdr. Anton OFM dalam khotbahnya menegaskan bahwa perayaan Natal merupakan perayaan syukur, saling mengunjungi dan berbagai rejeki. Hal ini pantas dilakukan manusia karena Allah sendiri telah memberikan diri-Nya bagi umat manusia. “Allah kasih berkat untuk manusia tanpa batas. Allah kasih berkat-Nya secara cuma-cuma, tanpa pikir panjang,” tegas Sdr. Anton OFM. Ia juga mengharapkan agar umat saling mencintai satu sama lain. “Cinta harus menjadi pusat persaudaraan di antara kita,” tambahnya.
Usai khotbah dilanjutkan dengan upacara penerimaan sakramen perkawinan, baptis dan pada bagian ekaristi dilanjutkan dengan penerimaan komuni pertama bagi anak-anak yang telah mengikuti pembinaan sambut baru. Ada pun jumlah mereka yang menerima sakramen adalah baptis 15 anak, komuni 8 anak dan nikah 3 pasang. 
Misa Natal di Kampung Yufri-Yaun berakhir pada pk 17.20 WIT. Selesai Misa, kami langsung pulang ke pastoran. Sdr. Anton OFM pergi ke Jew Kampung Yufri, sementara saya masak untuk makan malam. Tidak ada menu istimewa; hanya ada nasi, mie goreng dan ikan asin. Setelah semuanya siap, kami pun langsung makan dan beristirahat.

Keesokan paginya, Selasa 27 Desember 2011, pk 06.50 WIT, kami berangkat kembali ke Yamas. Cuaca mendung, awan hitam menutupi langit. Sementara sungai Unir kembali melepaskan ombaknya, yang kadang membuat jantung sedikit berdebar. Setelah sekian lama menyusuri sungai Unir dan Pomats, pada pk 07.19 WIT, kami tiba dengan selamat di dermaga Yamas.

Catatan Refleksi
Kondisi hidup umat dan medan pastoral di Asmat terbilang unik. Medan pastoral, yang terdiri atas laut dan sungai, rawa dan lumpur amat menguji nyali setiap petugas pastoral yang bertugas di daerah ini. Demikian halnya, kondisi hidup umat yang serba terbatas, ditambah lagi minimnya perhatian umat terhadap para petugas pastoral menambah deret panjang tantangan yang harus dihadapi oleh para pelayan Allah di tanah ini.

Walaupun demikian, sebagai para hamba Allah, selalu ada pengharapan bahwa Allah sendirilah jaminannya. Pengharapan ini selalu menjadi kekuatan untuk melangkah bersama umat Allah yang dilayani. Bagaimana kita bergumul dengan diri sendiri, medan pastoral dan karakter umat yang sedang berproses menuju suatu kedewasaan hidup menggereja. Berbagai pergumulan tersebut perlu diolah dan direfleksikan demi Allah dan sesama umat manusia.

Kalau kita mau memakai akal sehat tentu akan muncul pikiran berikut: “Untuk apa tinggal di Asmat, di kampung terpencil dan melayani umat yang kadang buat sakit kepala? Hidup sepi, jauh dari keramaian, bahkan bahaya mengancam setiap saat!” Namun bagi kita para hamba Allah, di dalam setiap pengalaman tersebut Allah tetap hadir, bahkan dengan cara demikian Allah mau mendidik kita untuk menjadi hamba-Nya yang rendah hati dan setia.

Perayaan Natal di Kampung Yufri-Yaun, sebuah kampung kecil, yang tidak terlalu jauh dari kota Agats mengajarkan kita untuk kembali kepada panggilan awal kita. Kita juga dihantar untuk berserah diri, kepada Dia yang memanggil kita. Allah sudah kasih Putera-Nya untuk kita. Dialah jaminan dan pengharapan kita. Dialah satu-satunya tumpuan hidup kita. Allah Putra sudah sudi hadir bagi kita, bahkan dengan cara yang tidak lazim, lahir di sebuah kandang. Maka sebagai para hamba-Nya, sudah sepatutnya kita pun menerima tugas perutusan yang dianugerahkan kepada kita dengan hati gembira, bukan dengan muka murung dan cemberut.

Ada gejala bahwa kadang kita tidak mau menerima peristiwa dan pengalaman yang sulit dan tidak enak. Kita hanya mau dan senang bila mengalami peristiwa yang menggembirakan. Padahal sebagai hamba Allah, kita perlu siap sedia menerima segala kemungkinan demi Allah dan sesama. Di sini dibutuhkan sikap serah diri, pasrah kepada Allah, yang memanggil kita. Kita sering berontak. Secara manusiawi wajar dan normal, tetapi adalah kurang tepat bagi kita para hamba Allah. Sebagai hamba, kita hanya melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuan, tidak lebih.

Semoga perayaan Natal tahun ini membangkitkan dalam diri kita semangat pengabdian tanpa pamrih. Kita dipanggil dan diutus untuk membagikan kasih Allah kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita. Dan sebagai fransiskan, hendaklah Natal selalu mengingatkan kita tentang panggilan hidup dan janji setia kita untuk mengabdi Allah dalam ketaatan tanpa milik dan dalam kemurnian. 

Yamas, 28 Desember 2011

“Tanah Papua, tanah yang kaya, Surga kecil jatuh ke bumi….. Hitam kulit, keriting Rambut, Aku Papua….”

5 Feb

David Losor Ofm

Sepenggal syair di atas saya ambil dari sebuah lagu yang berjudul “Aku Papua”. Sepintas terdengar lagu ini mengisahkan tentang keadaan Papua sebagai tanah yang kaya, subur, menyimpan sejuta pesona. Karena begitu mempesonanya, sampai-sampai ia disebut sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Di hadapan alam yang kaya raya ini, tentu saja empunya tanah merasa bersyukur atas kebaikan Tuhan yang telah memberikan berkat-Nya yang melimpah kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang hitam kulitnya dan keriting rambutnya. Apakah surga kecil ini masih menjadi milik mereka yang hitam kulit dan keriting rambut?
Refleksi saya selanjutnya tidak bermaksud untuk mengorek kembali luka, trauma yang dialami oleh para saudara pada kejadian 19 Oktober 2011, melainkan hanya sebuah torehan rintihan jiwa sebagai seorang sesama manusia yang dipanggil oleh sesamanya yang lain untuk berpartisipasi, merasakan apa yang mereka rasakan.

Rabu siang itu, 19 Oktober 2011, lapangan Zakeus dipadati oleh orang-orang yang berkulit hitam dan berambut keriting. Mereka semua begitu antusias mengikuti jalannya acara penutupan Kongres Rakyat Papua III. Hujan sempat menggujur bumi, namun tak menyurutkan semangat mereka untuk memungkasi pertemuan akbar itu. Dalam hati saya merasa tersentuh akan keantusiasan mereka untuk berkumpul bersama, membicarakan bersama hal-hal yang menjadi pergumulan mereka. Lebih dari pada itu kehadiran mereka tidak lain untuk saling menguatkan, meneguhkan sebagai sesama orang yang berkulit hitam dan berambut keriting yang selalu menjadi korban ketidakadilan di atas tanah mereka yang adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Mereka adalah kaum suara yang tidak bersuara /voice of voiceless. Dalam keterbatasan kata-kata mereka berusaha untuk menyuarakan ketidakadilan yang terjadi dan kehilangan harga diri sebagai manusia yang seutuhnya. Suasana siang itu begitu meriah semeriah tarian yang dibawakan oleh para peserta kongres setelah kongres dinyatakan tutup dengan sebuah keputusan yang bulat. Pantaslah kalau mereka bergembira karena dari awal sampai akhir kegiatan akbar itu berjalan dengan baik, aman dan lancar.

Pukul 15.30, entah dari mana datangnya bunyi tembakan itu, masyarakat mulai melarikan diri dan menyelamatkan diri. Tembakan demi tembakan membuat suasana menjadi kacau, hiruk pikuk dan diliputi kecemasan. Yang pastinya bahwa bunyi tembakan itu berasal dari para serdadu negara yang ditugas untuk mengamankan jalannya kongres. Dari kaca jendela kamar di lantai dua, saya mengamati orang-orang yang berkulit hitam dikejar, di seret. Tua muda, laki-laki perempuan diperlakukan tidak manusiawi. Di hadapan kejadian ini, hati saya terasa pilu. Entah apa yang harus saya perbuat untuk menolong mereka agar terhidar dari pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan kepada mereka. Saya bingung, bercampur sedih, takut. Apalagi pengalaman ini merupakan pengalaman pertama dalam hidupku menyaksikan orang lain disiksa seperti itu. Pemandangan lain yang membuat nadi saya tersayat ialah ketika melihat orang-orang tua dipukul. Dalam hati saya bertanya, sempatkah mereka berpikir bahwa jika hal yang sama diperlakukan kepada orang tua mereka? Adakah perasaan sebagai manusia yang masih mereka miliki, ataukah hati mereka sudah menjadi benteng yang tertutup sehingga yang lebih menguasai mereka ialah naluri kebinatangan? Anjing saja akan menjerit apabila dipukul oleh tuannya, apalagi mereka adalah manusia yang punya perasaan sama dengan manusia yang lain, punya darah sama-sama merah dan menghirup nafas dari udara yang sama. Di hadapan Tuhan kita sama, tidak ada yang membedakan kita.

Sebagai seorang yang tidak berkulit hitam dan tidak berambut keriting, saya merasa sungguh-sungguh diadili di hadapan mereka yang berkulit hitam dan berambut keriting. Apakah hitam kulit dan rambut keriting menjadi aib bagi mereka? Mengapa realitas kekerasan demi kekerasan yang menjadi santapan mereka hampir tak berujung di atas tanah ini? Masih pantaskah kalau tanah ini dikatakan sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi? Tanah ini lebih pantas seperti neraka kecil yang jatuh ke bumi dan menimpa mereka yang berkulit hitam dan berambut keriting.

Aroma ketidakadilan yang tercium dari pusat sampai ke pelosok terasa menyengat kalbu. Seorang koruptor kelas kakap yang menjadi buronan bersenang-senang di luar negeri. Ketika ditangkap, ia diperlakukan bak seorang tuan besar yang dijemput dengan pesawat dan diperlakukan dengan baik. Tidak ada tindakan kekerasan yang dialaminya. Berbeda dengan rakyat kecil yang berkumpul untuk membicarakan nasib hidup mereka sambil mengais secuil kebahagiaan bersama dengan sesamanya yang lain ternyata di kejar, diseret, dipukul dan dianiaya. Apakah mereka kedapatan membunuh sesamanya yang lain? Apakah mereka mencuri uang negara miliaran rupiah? Tidak! Mereka adalah orang-orang kecil yang miskin namun kaya akan nilai-nilai budaya, sopan santun, tata krama dan semangat untuk tetap bertahan di tengah situasi yang neraka yang mereka alami. Tanah mereka yang dulunya adalah surga yang kecil kini telah hilang karena direbut oleh oknum-oknum tertentu.

Kehadiran sesama yang menderita dan diperlakukan tidak adil, ibarat “wajah-wajah telanjang” yang menuntut kita untuk memberi pertolongan. Ketelanjangan wajah mereka sebenarnya mau mengisyaratkan bahwa “engkau tidak boleh membunuh aku, engkau tidak boleh menyakiti aku.” Di sinilah arti ketelanjangan wajah muncul sebagai pribadi yang tidak melindungi dirinya sendiri. Kehadiran mereka juga menempatkan kita dalam posisi sebagai orang yang tertuduh. Mereka menjadi hakim di depan kita dan mempertanyakan tanggung jawab kita akan mereka, pun pula menjadi sumber nilai moral bagi kita. Konsekuensi etisnya ialah bahwa kita wajib bertanggung jawab terhadap “ketelanjangan mereka”.

BEREVANGELISASI DI TENGAH HIDUP ORANG PAPUA

5 Feb

Peter Supardi OFM

Akar perutusan dan kehadiran kita di tengah umat
Siapa yang mengutus kita dan kepada siapa kita diutus? Yesuslah yang mengutus kita kepada umat-Nya. Apa pun alasannya, kita tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa kita dipanggil, dipilih, ditetapkan dan diutus untuk menjadi gembala umat-Nya. Yesus kembali menegaskan kepada kita dengan bersabda: “Aku mengutus kamu, seperti domba di tengah serigala.,…..”. Yesus sendiri menunjukkan bahwa setiap utusan akan menerima banyak tantangan, cobaan, godaan, tidak diterima, dianiaya, disiksa, bahkan ada yang mati dibunuh karena memberikan kesaksian tentang imannya akan Yesus Kritus.

Tampak bahwa misi perutusan yang kita emban memiliki konsekuensi yang tidak sedikit. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Dalam sharing pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil, di sana terungkap aneka pergumulan yang dihadapi setiap saudara saat melaksanakan tugas perutusannya. Berbagai tantangan dan pergumulan tersebut banyak kali menguras energi yang tidak sedikit, bahkan hampir seluruh daya dan sumber daya yang ada pada setiap saudara dikerahkan untuk menghadapi tantangan yang datang silih berganti. Atas keadaan ini, Sdr. Frans Lieshout OFM memiliki resep untuk mengatasinya yaitu: “Terimalah ini sebagai nasibmu dan jangan terlalu memikirkannya; yang penting kita jujur pada diri kita.” Artinya, inilah konsekuensi dari melaksanakan misi perutusan yang diberikan oleh Yesus kepada kita, maka pun kita bisa menjelaskannya dengan menggunakan akal sehat, tetapi jika tidak diterima oleh umat yang dilayani, terimalah itu sebagai sebuah kesempatan emas untuk melatih kerendahan hati dan kebijaksanaan dalam hidup kita.

Kepada siapa kita melaksanakan misi ini? Kita diutus ke tengah umat. Di sana kita ada bersama umat, terlibat dalam seluruh pergumulan mereka dan bersama-sama berjalan kepada sang pengutus yakni Yesus Kristus. Misi perutusan yang kita emban akan berhasil dan kena sasaran sejauh kita melakukannya berdasarkan kehendak sang pengutus yakni mewartakan Kerajaan Allah, kerajaan kasih, damai, keadilan dan sukacita, bukan sebaliknya menyiramkan benih perpecahan di tengah umat.
Kita mesti mengakui dengan jujur dan rendah hati bahwa kadangkala kita tidak memiliki komitmen teguh untuk melaksanakan kehendak Allah, melainkan mengikuti kemauan dan selera kita. Situasi ini membuat kita jauh dari umat, bahkan umat pun tidak mengenal kita, karena kita lebih mengutamakan hobi kita ketimbang melaksanakan misi dan kehendak Allah yang mengutus kita. Keadaan ini pula yang kadang membuat kita stress, kecewa, marah dan bersikap acuh tak acuh terhadap umat yang kita layani. Kita mencap mereka kepala batu, dan lain sejenisnya. Tetapi apakah kita sadar dan memahami sejauh mana pendidikan dan pengalaman mereka? Mungkin mereka marah kepada kita atau bertindak kasar atas dasar keterbatasan pendidikan, pengetahuan dan refleksi, tetapi juga bisa jadi karena kehadiran kita yang tidak menyentuh pergumulan mereka. Karenanya, sebagai orang terpelajar, kitalah yang mesti mencoba memahami keadaan umat yang dilayani dan usahakan jangan berharap banyak perubahan dari pihak umat, tetapi kitalah yang mesti mengubah cara pikir kita. Kita harus bertobat dari sikap egois yang kita bangun dan bersikap rendah hati agar untuk lebih dekat dengan umat.

Tantangan berpastoral saat ini
Saat ini kita berhadapan dengan umat yang heterogen, baik suku, budaya dan adat-istiadat. Kita juga berada pada era global, yang menawarkan berbagai bentuk kemudahan, yaitu transportasi dan komunikasi yang kian mempersempit jarak di antara kita. Ada begitu banyak fasilitas yang menunjang kegiatan pastoral kita. Sesungguhnya berbagai kemudahan ini merupakan peluang berpastoral guna meningkatkan pelayanan kepada umat Allah. Di sisi lain sarana dan prasana ini justru menjadi tantangan sebab kadang justru menciptakan jarak dengan umat yang kita layani.

Tidak dapat disangkal bahwa kadang kita lebih dekat bahkan melekat pada sarana penunjang ketimbang terbuka terhadap pergumulan umat. Kita cenderung berlama-lama di depan leptop, otak-atik HP (blackberry), nonton TV, main bola dan lain sebagainya. Sdr. Frans OFM menilai bahwa sekarang tantangan berpastoral lebih berat karena kemudahan sarana komunikasi dan transportasi, telah mereduksi relasi interpersonal menjadi kerdil. Dulu para saudara jalan kaki, sehingga ada kesempatan untuk bertemu dengan umat, sekarang semua menggunakan motor, sehingga kesempatan bertemu dengan umat dan sharing menjadi hampir tidak ada.

Dewasa ini, para saudara berkarya di tengah umat yang heterogen, cenderung mendapat stigma terlalu berpihak pada kaum pendatang, ketimbang umat orang asli Papua. Ada rumor bahwa Pastor (juga para fransiskan) lebih suka dekat dengan orang yang punya uang, kedudukan dan lain sejenisnya. Ada juga saudara yang dicap terlalu terlibat dalam urusan politik praktis dengan mendukung calon Bupati/Wakil Bupati tertentu, dan lain sebagainya. Ini adalah hal umum yang beredar di tengah umat, juga menjadi bahan perbincangan dalam persaudaraan kita, terutama di komunitas-komunitas kita. Ini adalah tantangan yang perlu dihadapi dan kalau memang kita tidak melakukannya, maka tidak perlu ambil pusing dengan menguras banyak energi untuk memikirkannya. Hal pokok bagi kita adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus kita dan tantangan harus menjadi bagian integral pastoral kita. Kita tidak bisa lari dari kenyataan bahwa memang kita diutus pun ke tempat yang tidak kita sukai. Di sanalah kita mewartakan kabar baik yang dikehendaki Allah, baik melalui kesaksian hidup juga dengan melibatkan diri dalam seluruh pergumulan umat setempat.

Apa pun situasinya, kita dipanggil dan diutus untuk mewartakan kerajaan Allah. Sumber kekuatan kita adalah Allah sendiri. Kita harus bersandar pada Dia yang memanggil dan mengutus kita. Kadang tatkala mendapat tantangan kita cenderung mencari perlindungan di luar kekuatan Allah, tetapi kita patut menyadari bahwa Allah yang memanggil dan mengutus kita tidak pernah meninggalkan kita. Permasalahannya adalah apakah kita mau datang kepada Allah atau tidak?

Kembali ke panggilan asali kita
Sebagai fransiskan, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian. Mengikuti pikiran Sdr. Ferdinand Sahadun OFM, bahwa ada tiga hal penting yang harus menjadi kesaksian sepanjang hidup seorang fransiskan yakni kemiskinan, persaudaraan dan pertobatan. Inilah letak panggilan dan perutusan kita. Kita adalah orang-orang yang sadar, tau dan mau memiskinkan diri demi Injil. Dengan ini, kita kemudian tidak menjadi orang yang konyol dan hidup tidak teratur, melainkan justru harus membuat kita menjadi pribadi yang semakin merendah dan terus merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama.

Kita juga dipanggil menjadi saudara bagi semua makhluk yang ada di muka bumi ini. Di manapun, kita dipanggil menjadi saudara bagi sesama, tanpa memandang asal-usul budaya, latar belakang keluarga, status dan kedudukan. Hal ini sangat penting karena Bapa Fransiskus sendiri dalam Pth XIX ayat 2 menegaskan bahwa: “Sebab, seperti apa nilai seseorang di hadapan Allah, begitulah nilai orang itu dan tidak lebih”. Kita sadar bahwa kini dalam persaudaraan kita, tidak jarang dijumpai masih ada saudara yang berpikiran “rasial”, misalnya dengan ungkapan: “ko orang ini, mereka ini begini…dst”. Kalau diungkapkan satu-dua kali sebagai rumor tidak ada masalah, tetapi kalau jadi ritme yang agak tetap, maka sudah tidak sehat! Di dalam persaudaraan saja kita masih sering memilah-milah, apa lagi kalau kita ke tengah umat, apa yang hendak kita wartakan? Kita mau mewartakan kerajaan Allah, tetapi masih pilih-pilih. Apakah ini cocok dengan semangat persaudaraan universal yang dihayati oleh persaudaraan kita?
Sejak menjadi fransiskan hingga saat ini, saya menemukan kadang ada saudara yang karena jabatannya, masih menjaga jarak dengan saudara yang lebih mudah. Ini tidak cocok dengan semangat persaudaraan yang kita anut dan hendak kita wartakan. Kita semua sama di hadapan Allah, sesama dan alam ciptaan. Martabat kita sebagai manusia melampaui embel-embel yang ada pada kita. Apa pun jabatan dan posisi kita, baik dalam persaudaraan, Gereja maupun di tengah masyarakat, kita tetap sesama saudara, sebab sesungguhnya nilai hidup kita tidak terletak pada status yang melekat pada kita, melainkan adanya kita di hadapan Allah.

Kemiskinan dan persaudaraan harus bermuara pada pertobatan. Seluruh perjalanan kita di dunia ini dalam misi perutusan kita harus menjadi jalan pertobatan. Setiap waktu yang tersedia adalah kesempatan untuk melakukan pertobatan. Kadangkala kita tidak mau bertobat karena ada kecenderungan untuk menutup diri terhadap karya Roh Kudus yang hadir melalui dan dalam berbagai cara. Kita lebih memilih untuk melakukan apa yang kita mau, ketimbang mendengarkan bisikan Roh Kudus untuk bertobat.
Kapitel Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua kali ini merupakan kesempatan untuk merefleksikan kembali sejauh mana usaha pertobatan kita selama ini? Kini dunia makin berkembang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seakan turut merasuki jiwa para fransiskan, yang tidak hanya berdampak positif, tetapi juga mempengaruhi gaya hidup para saudara fransiskan menjadi semakin sekular. Contoh konkret adalah pada masa ini, berapakah yang masih setia untuk mengakukan dosanya secara pribadi kepada seorang imam?
Kita banyak berbicara dan berteori tentang pertobatan, tetapi hal paling sederhana kita tidak pernah buat. Kita mau langsung melakukan hal spektakuler supaya dilihat orang bahwa kita sudah bertobat, padahal sikap hidup kita setiap hari justru membuat sesama saudara lain menderita. Kita malas bangun pagi untuk berdoa, sibuk kerja, sibuk dengan diri sendiri, memfitnah, dan lain sebagainya. Kita harus segera bertobat dan minta pengampunan Allah.

Penutup
Evangelisasi tetaplah sebuah kebutuhan yang tidak akan pernah berakhir untuk didiskusikan dan direfleksikan untuk selanjutnya direalisasikan. Kita harus bergaul dengannya dan memilikinya, sebab seni berevangelisasi amat menentukan sejauh mana kita bisa menyampaikan kabar baik.

Kita juga perlu kembali ke sumber yang mengutus kita untuk berevangelisasi yakni Yesus Kristus. Ia memanggil kita, sebagaimana Ia memanggil dan menetapkan murid-murid-Nya untuk mewartakan kabar baik, Kerajaan Allah. Kita pun diberi tugas dan tanggung jawab yang sama yakni menjadikan semua orang menjadi milik-Nya. Perutusan kita tentu berhadapan dengan banyak tantangan, baik internal kita maupun dengan umat yang dilayani, walaupun demikian, kita diminta untuk tetap teguh melaksanakan tugas perutusan yang dipercayakan kepada kita.

Akhirnya, agar kita mantap sebagai fransiskan, maka tidak ada pilihan lain selain kembali kepada sumber yang memanggil dan mengutus kita, yakni Yesus Kritus dan melaksanakan spiritualitas kita yakni hidup sebagai saudara bagi seluruh ciptaan, hidup miskin dan mau terus-menerus melakukan pertobatan. Integrasi semua aspek ini, akan memantapkan kita dalam melaksanakan misi perutusan dan menguatkan kita, tatkala harus berhadapan dengan berbagai tantangan.
Semoga Tuhan Yesus yang telah memanggil, memilih dan menetapkan kita menjadi utusan-Nya senantiasa menguatkan, melindungi dan memberkati kita dalam usaha mewartakan kabar baik, Kerajaan Allah. Amin.

Sanggar Semadi St. Klara Sentani
16 September 2011

Belajar Berorentasi di Tengah Kehidupan Umat Paroki Santa Clara Taja/Lereh

5 Feb

Maxi Dora, OFM

Pada hakekatnya, situasi stasi – topografi Paroki Santa Klara Taja terbentang antara dua bagian. Pertama, daerah perbukitan. Ada tiga stasi yang letaknya di atas perbukitan yakni Stasi SP1, Stasi SP2, Stasi SP5 dan Stasi Kuarja. Kedua, daerah dataran rendah yakni Stasi Pabrik, Stasi Juk, Stasi Rajawali, Stasi Garuda, Stasi Kasuari, Stasi Mambruk, dan Stasi Nuri. Dari semua stasi hanya stasi Kwarja yang sulit dijangkau karena medannya sangat berat. Sedangakan stasi-stasi yang lain rata-rata bisa dijangkau dengan menggunakan sepeda motor. Jarak antara stasi kurang lebih 10 sampai 20 km.
Umat Paroki Santa Klara adalah masyarakat transmigrasi dan karyawan perusahaan Kelapa sawit. Mereka terdiri dari beberapa suku bangsa; suku Flores (Maumere, Ende, Bajawa, Manggarai dan Flores Timur), Timor ( Alor, Sumba, Belu dan Kupang), Jawa, Makasar, Manado, Toraja, Palu, dan Papua (Wamena, Sentani dan Serui).
Umumnya mereka adalah orang-orang sederhana, orang-orang yang datang dari kampungnya masing-masing untuk mengadu nasibnya di Tanah Papua. Dengan bermodalkan pengalaman mereka datang untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit(Sinar Mas).
Berkaitan dengan aspek sosial-ekonomi, umat Paroki Santa Klara merupakan umat yang sangat sederhana. Mereka umumnya bertani dan berkebun. Artinya, mereka bertani dan berkebun secara alami. Ada juga yang hanya menggantungkan hidupnya pada upah kerja di perkebunan kelapa sawit. Kekayaan alam dan kesuburan tanah menjadi alasan bagi mereka untuk tidak perlu meragukan makanan dan minuman di hari esok. Selain gereja Katolik, di Taja/Lereh ada ± 5 denominasi Gereja Kristen dan juga muslim. Keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan Gerejawi cukup baik. Karena hanya satu imam di sebuah wilayah yang besar maka diberdayakan tenaga-tenaga pastoral dan dewan paroki agar bisa membantu pastor Paroki untuk mengunjungi umat yang ada di stasi-stasi yang jauh. Mereka adalah tenaga-tenaga sukarela yang tidak dibayar, tetapi dengan kehendak baik dan keikhlasan membantu pelayanan Gereja.

Mengenai Tugas Orientasi
Saya menjalakan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Santa Klara-Taja/Lereh. Sebagai pribadi yang sedang berorientasi, tugas utama saya adalah belajar dari dan bersama dengan umat Paroki Santa Klara Taja/Lereh tentang bagaimana hidup menggereja secara baik, benar, tepat dan kontekstual sesuai dengan tradisi Gereja Katolik dan Tradisi Budaya serta kebutuhan umat pada umumnya. Saya ditugaskan oleh pastor pembimbing sebagai pelayan sacramental seperti ibadat komuni tiap hari Minggu, pelayanan ibadat kematian dan pelayanan sacramental lainnya jika dibutuhkan kehadiran saya. Saya juga belajar tentang administrasi di paroki, mengunjungi umat di stasi-stasi sesuai jadwal yang dibuat. Mendampingi kegiatan-kegiatan kategorial (Bina Iman Anak dan Remaja (BIA/BIR) dan kelompok ibu-ibu. Tuntutan untuk tujuan ini adalah mengunjungi umat, berdialog dan bekerja bersama mereka.

Saya juga belajar dari saudara Hendrikus Nahak, OFM dan Saudara Modestus Teniwut, OFM, anggota dewan paroki, petugas pastoral dan umat yang telah berkarya di Paroki Santa Klara Taja/Lereh ini. Kehadiran tenaga-tenaga pastoral ini sungguh menjadi berkat bagi pelayanan umat di paroki.
Di samping tugas sentral di Paroki Santa Klara Taja/Lereh, saya juga terlibat dalam pendampingan terhadap OMK. Rencana kerja satu tahun adalah belajar atau berorientasi secara sungguh-sungguh dalam kehidupan menggereja di Paroki Santa Klara Taja. Belajar realitas pola hidup menggereja di Paroki Taja/Lereh untuk bekal panggilan saya. untuk tujuan inilah, rencana jangka pendeknya adalah memampukan diri untuk sungguh-sungguh melihat/mengamati, mendengar dan merasakan pergumulan umat paroki Taja/Lereh berkaitan dengan praktek hidup menggereja dan bermasyarakat.

Kesulitan pokok yang saya alami adalah belum mengenal, mengalami dan memahami secara komprehensif budaya, pola pikir dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam umat paroki Taja. Saya sadar bahwa kesulitan ini dilatarbelakangi oleh situasi umat transmigrasi yang datang dari berbagai tempat di Indonesia. Acapkali menghambat proses relasi dengan umat Taja/Lereh. Sehingga bagi saya untuk bisa memahami dan mengenal umat secara dekat yaitu dengan cara berdialog dan bekerja bersama mereka.
Tugas pokok yang dipercayakan kepada saya adalah belajar bagaimana umat Paroki Taja/Lereh mempraktekan pola hidup menggereja sambil melayani dan mendamping umat paroki Taja/Lereh dalam memahami Yesus Kristus.

Refleksi Pribadi
Sejak awal menginjakan kaki di Paroki Santa Klara Taja/Lereh dan khususnya hidup bersama masyarakat di Taja/Lereh, saya merasa sungguh dihargai dan diterima oleh umat di Paroki ini. Semangat kebersamaan dan kekeluargaan untuk saling membantu satu sama lain sangat tampak. Adanya para guru agama, sangat mendukung kerjasama para petugas pastoral dalam mewartakan kabar gembira Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Saya berupaya untuk membangun kerjasama yang baik dengan para pengurus stasi, membangun relasi yang harmonis dengan seluruh anggota petugas pastoral, mengenal umat di stasi masing-masing dengan kunjungan ke keluarga-keluarga.

“Belajar dari realitas! Melihatlah, mengalami dan merasakan semuanya yang ada di paroki ini. Belajarlah banyak hal tentang kehidupan beriman umat dan kenalilah panggilanmu sebagai fransiskan dalam pelayananmu.” Demikianlah pesan dari P. Hendrikus Nahak OFM, selaku pendamping TOP. Saya mendengar dan mencena baik-baik perkataan ini. Sebagai konkritisasi dari pesan ini, saya berusaha untuk mengunjungi umat di stasi-stasi Paroki Santa Klara. Terhitung sejak keberadaan saya di Paroki yakni 17 Juni 2011 hingga penyerahan laporan pertama, saya sudah mengunjungi 6 stasi dari 12 Stasi yang meliputi 38 Kombas di Paroki Santa Klara Taja/Lereh.

Sejujurnya ada pengalaman peneguhan terhadap keberimanan saya akan Kristus Yesus. Peristiwa kematian dan totalitas antusiasme setiap pengurus-pengurus stasi yang walaupun tidak digaji namun semangat pengabdian dan pelayanan mereka sungguh-sungguh mengubah paradigma dan pola pikir yang serba formal yang pernah saya dapatkan di kampus, dan tak jarang radikal, sehingga pada akhirnya menjadikan saya untuk berpikir sederhana dan kontekstual. Tidak ada sikap yang tepat kecuali mengaku keterbatasan dan melakukan transformasi hidup seturut pesan-Nya.

Berkaitan dengan umat yang sangat terikat dengan adat/kebudayaan, saya berefleksi bahwa perlulah diadakan pengenalan dan pemahaman tentang kebudayaan Melanesia/kebudayaan Papua sendiri sehingga kebudayaan-kebudayaan yang dibawa dari luar bisa mengenal dan mengerti bagaimana budaya orang Papua. Hal ini penting diberikan pemahaman kepada mereka yang datang dari luar Papua agar bisa mengerti budaya dan karakter orang Papua pada umumnya, sehingga tidak saling mendominasikan budaya yang satu dengan yang lain atau adat istiadatnya sendiri.

Dalam kehidupan sebagai seorang fransiskan, DOA selalu mendapat posisi yang pertama dalam kehidupan kami di rumah karya. Boleh dibilang doa dan karya seiring sejalan. DOA adalah sumber yang menguatkan, dikala merasa jenuh dengan pekerjaan. Doalah yang menjadi tempat curhatku yang terakhir kala saya mengalami kesepian. Karena doa merupakan bagian dari hidupku maka, saya selalu melakukannya dengan baik.
Akhirnya, saya yakin dan percaya bahwa TOP di paroki Taja/Lereh dan tugas-tugas yang dipercayakan dan waktu yang disediakan untuk saya selama menjalani TOP ini, kiranya dapat membantu saya untuk bisa mengekspresikan talenta dan kemampuan saya bagi diri dan umat Paroki Taja/Lereh. Sehingga saya sadar bahwa saya tergolong orang yang masih mau setia untuk menjalani panggilan ini.

Berjalanlah terus … (Refleksi Atas Keputusan Kapitel Kustodi FDD 2011)

5 Feb

Peter Supardi OFM

Syukur bagi-Mu Tuhan. Engkau menganugerahkan rahmat berlimpah bagi persaudaraan fransiskan yang berkarya di tanah Papua. Berkat kuat kuasa-Mulah persaudaraan melaksanakan Kapitel sejak 14-21 September 2011, yang berjalan dengan lancar, aman, damai dan penuh kasih persaudaraan. Kapitel kali ini amat berarti karena merupakan kapitel perdana pasca kustodi otonom sekaligus mewarnai refleksi para saudara tentang penginjilan di Papua, yang bertepatan pula dengan ulang tahun KFDD Papua ke-3 dan suasana menyongsong perayaan Yubelium Agung 75 tahun fransiskan (OFM) hadir di tanah Papua.

Catatan refleksi ini hendak mengajak kita, para saudara dina yang ada di wilayah KFDD Papua untuk senantiasa membangun komitmen yang teguh dan berjalan terus dalam jalan yang telah dipilih sejak awal, yakni hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian (bdk. AngBul 1). Itulah panggilan yang telah kita ikrarkan, yang kini, pada masa ini, diterjemahkan secara konkret melalui keputusan-keputusan Kapitel, yang akan kita jalankan bersama selama tiga tahun ke depan.

Kita berani memulai
Ada sekian banyak keputusan Kapitel yang menjadi komitmen kita bersama. Inti semua keputusan tersebut mengarahkan kita kepada fokus untuk selalu ada dekat dengan Allah yang memanggil kita, melalui bidang karya yang telah disepakati. Hendaklah keputusan-keputusan Kapitel, yang telah disepakati ini, tidak menjadi beban, melainkan kesempatan bagi kita untuk memberi kesaksian tentang iman dan spiritualitas kita. Adalah tidak mudah untuk melaksanakannya secara sempurna, namun kita memiliki keyakinan bahwa Roh Kudus akan membantu kita, pun dalam hal yang paling sulit.

Kita telah berani dengan suara lantang mengambil keputusan untuk meneruskan misi kita di Moanemani. Suatu keputusan yang patut dihargai, karena di tengah badai dan tantangan yang hebat, kita tidak lari, tetapi mau tetap ada bersama umat, yang mungkin kadangkala menyakitkan kita. Inilah kesaksian hidup kita, yang merupakan perwujudan nilai-nilai injili. Mungkin ini amat rohani, secara manusiawi tidak mungkin, tetapi ada Saudara, sebut saja Sdr. Tarsi OFM setia ada di sana selama enam tahun satu bulan. Suatu kesaksian yang patut dihargai dan diteladani. Kita juga patut mengakui bahwa pengalaman masa lalu yang kelam di Moanemani, merupakan suatu rambu peringatan bagi para saudara yang nantinya bertugas di sana, tetapi janganlah menjadikan pengalaman tersebut sebagai alasan untuk kemudian tidak dekat dengan umat. Kepada kita semua, hendaklah menanamkan dalam hati kita bahwa di mana pun kita berkarya, umat yang kita layani adalah orang-orang baik. Kita perlu memiliki pikiran positif dan memulai pastoral kita dengan pikiran yang positif pula.

Hal lain, kita juga menerima tawaran Minister General untuk mengirimkan saudara menjadi misionaris. Ini adalah suatu ungkapan syukur tak terhingga yang diberikan oleh persaudaraan KFFD Papua terhadap persaudaraan universal. Kita telah berani, dan memang tepat, di usianya yang ke-75, kita mau mengirimkan saudara untuk daerah misi. Yakinlah bahwa dengan memberikan satu saudara, kita akan menerima lebih banyak lagi. Allah sendiri akan melihat dan membalas jasa baik kita itu. Tetapi itu bukanlah alasan utama kita menerima tawaran Minister General. Kita mengirimkan saudara sebagai ungkapan syukur atas apa yang telah kita terima selama ini dan tentu saja demi Dia yang telah memanggil dan memilih kita menjadi abdi-Nya.

Pekerjaan rumah
Dalam Kapitel ini, kita memilih dan mengangkat Kustos dan Dewan Konsilium yang baru, untuk periode tiga tahun mendatang. Di pundak mereka, ada amanat Kapitel yang harus dilaksanakan dalam rentan waktu ini. Namun, mereka akan mampu melaksanakan amanat tersebut, sejauh kita semua memiliki komitmen yang teguh untuk mendukungnya.

Memang dalam Kapitel kali ini, pokok menangani pendidikan sendiri ‘ala’ fransiskan menjadi salah satu diskusi hangat, yang berujung pada voting, yang kemudian belum menerima/belum setuju akan ide tersebut, namun ke depan pikiran untuk mendirikan sekolah sendiri tetaplah terbuka. Untuk maksud tersebut, kita perlu memikirkannya secara serius dan masing-masing saudara harus mau menyediakan dirinya untuk merealisasikan pikiran tersebut. Apakah kita mau berani bermimpi untuk memiliki sekolah sendiri yang khas fransiskan? Apa pun alasannya, kekuatan kita adalah sebagian saudara telah memiliki komitmen dan mimpi untuk mewujudkan ide ini. Kalau diminta pendapat, saya sendiri salah satu yang memiliki mimpi itu. Apa pun alasan dan tantangannya, kita perlu memulai. Seorang bayi hanya akan bisa berjalan sejauh dia berani memulai berjalan, walaupun harus jatuh-bangun. Kita tidak akan pernah bisa memulai, kalau kita menunggunya hingga sempurna. Saya ingat dan tau pengalaman Sdr. John Kore OFM. Dia memulai Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Waena, dari awal dengan tantangan yang tidak sedikit. Saya salah satu siswa KPA, yang turut mengalami jatuh-bangunnya, pada masa-masa awal. Memang sulit, kami mengalami kekurangan di sana-sini, belum lagi suara-suara sinis, yang menantang Sdr. John, namun berkat kegigihannya, kini kita bisa melihat hasilnya.

Pengalaman yang sama juga paling tidak dialami oleh Sdr. Agus, yang semula dari rumah ke rumah, kemudian bersusah payah mencari dana dan lobi sana-sini untuk mendirikan Hospis bagi para pengindap HIV/AIDS dan terus merawatnya. Ada banyak tantangan yang dihadapi dan dialami oleh Sdr. Agus, ada banyak saudara yang merasa sinis, tidak yakin, tetapi sekarang hospis berdiri dengan gagah di bukit Waena. Demikian halnya, pembentukan SKPKC Fransiskan Papua di Sentani, mula-mula ada pro dan kontra, namun kini berjalan dengan amat baik. Inilah sejumlah pengalaman yang hendaknya menguatkan kita, untuk memulai lagi. Dan jangan sekali-kali mematikan mimpi untuk mengelola sekolah sendiri.

Setialah…
Kadangkala kita tidak mudah setia pada apa yang telah kita sepakati dan putuskan bersama dalam Kapitel. Pengalaman masa lalu, yang banyak kali menimbulkan kebingunan, hendaklah tidak terulang pada masa ini. Kita perlu lebih tegas dan berani mengambil posisi, terhadap berbagai tawaran baru. Seringkali di tengah jalan kita membelok, mengikuti permintaan pihak lain. Semoga pada masa ini, pengalaman ini tidak terulang lagi, kalau tidak keluhan: “Saya sendiri tangani tiga paroki. Saya setengah mati,” akan terus bergema. Kita mesti jujur terhadap diri kita sendiri dan seluruh persaudaraan bahwa kita manusia yang terbatas, ada kelemahan di sana-sini, maka kita perlu fokus pada apa yang telah kita sepakati.
Memang dengan berkata demikian, tidak berarti kita menutup mata dan telinga terhadap jeritan penderitaan umat di sekitar kita. Namun, kesetiaan kita pada apa yang telah kita sepakati dan putuskan merupakan suatu kesempatan pembelajaran bagi “majikan” untuk juga memperhatikan umat di wilayah pelayanannya. Memang kadang kita mesti sedikit tegas dan setia pada keputusan kita, walaupun ada banyak suara-suara yang tidak enak di telinga kita.Keputusan-keputusan Kapitel akan sampai ke tangan kita. Hendaklah kita membacanya dengan sungguh-sungguh dan mendiskusikan serta melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mari, kita terus bersyukur atas anugerah besar, rahmat persaudaraan yang dianugerahkan Allah bagi kustodi kita yang hari ini merayakan ulang tahun yang ke-3 sebagai Kustodi otonom. Khusus kepada para saudara muda yang telah mengutusku untuk ikut dalam Kapitel kali ini, saya menyampaikan limpah terima kasih. Semoga kita tetap semangat menjalankan hidup sebagai fransiskan, mengembangkan kerendahan hati yang mendalam, saling menerima sebagai saudara dina dan menghargai satu sama lain. Kita tidak dapat menyangkal bahwa masa depan fransiskan Papua, bahkan persaudaraan universal ada di tangan kita, saudara-saudara muda. Demikian halnya, hendaklah kita senantiasa meningkatkan doa dan kesaksian hidup, di komunitas kita dan juga di manapun kita berada. Kita fransiskan, jadilah fransiskan yang baik bagi diri sendiri, sesama dan seluruh makhluk ciptaan Allah.

SELAMAT HARI PERDAMAIAN & PESTA KFDD PAPUA KE-3
Aula SSSK Sentani, pada waktu penetapan keputusan-keputusan Kapitel KFFD Papua
21 September 2011, Pkl 13.00 WIT

Aneka Pemandangan Kota Agats

5 Feb

Petrus Supardi OFM

Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan TOP di Agats-Asmat. Namun, dalam seketika semua rencana semula, yakni TOP di Kimbim berubah dan saya mendapat kesempatan untuk melaksanakan TOP di kota tanpa debu, Agats. Ini adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di kota yang dijuluki sebagai kota ukir, kota lumpur dan sebagainya. Apa pun julukan yang diberikan, Agats menyimpan sejuta misteri yang sulit dijawab dengan akal sehat, sebab bagaimana mungkin manusia bisa hidup di atas lumpur pekat yang menutupi hampir seluruh wilayahnya.
Pertanyaan pertama, ketika menginjakkan kaki di bandara Ewer adalah: “Apa arti semua yang saya lihat ini: orang hidup di atas papan, karena seluruh wilayahnya berair dan lumpur; tidak ada tanah untuk tanam sayur, dll. Bagaimana orang bisa hidup di daerah seperti ini?”

Menemukan Keindahan
Keindahan pertama yang saya temukan, bukanlah berasal dari luar diriku, melainkan dari dalam diriku sendiri yakni kegembiraan dan sukacita, karena saya diterima oleh Sdr. Alo Murwito OFM dan Sdr. Sil OFM dengan senyum hangat mereka. Di Bandara Ewer, itulah tempat kami berjumpa, saling berjabat tangan dengan hangat sembari mengucapkan salam jumpa. Ucapan selamat datang, dengan nada peringatan: “Sudah dua minggu, tidak hujan, air di rumah kamu, mungkin habis, tetapi bisa cari di tempatku,” yang dilontarkan oleh Sdr. Alo OFM mengawali hari-hariku di Agats, sebuah keuskupan terunik, yang sulit dijumpai di daerah lain.

Dalam perjalanan ke kota Agats, Sdr. Sil OFM bersenda-gurau: “Ini saya bawa kepiting khusus untuk menyambutmu.” Inilah ungkapan kehangatan yang terjadi, saling menyapa sebagai saudara. Saya merasa terharu, karena di tengah badai dan pergumulan hebat yang melanda hidup dan panggilanku sebagai fransiskan, masih ada saudara yang menerima saya sebagai saudara, mau menjadikan diriku sebagai rekan sekerja dalam pelayanan kabar baik. Itulah sekelumit pikiran yang terlintas di benakku tatkala tiba di Ewer dan dalam perjalanan menggunakan spedboat menuju kota Agats.

Keindahan lain yang harus diakui ialah keunikan kota Agats yang terletak di atas papan. Semua arsitek bangunan menggunakan kayu besi. Di mana-mana kita dapat menjumpai ukiran-ukiran hebat, yang dikerjakan oleh tangan-tangan berahmat. Memandang alam Agats dan melihat ukirannya, terlintas pikiran dan refleksi tentang Dia yang meng-ADA-kan segalanya. Sang ADA, yang membuat segalanya mungkin dan sulit dipecahkan dengan akal-sehat. Dalam benak, saya hanya mengulangi kata-kata kesukaanku: “TUHAN ENGKAU LUAR BIASA”.
Allah memiliki rencana sendiri menempatkan wilayah geografis dengan manusia Asmat yang memiliki karakter demikian unik. Tentu kita sulit membaca kehendak Allah, tatkala kita memandangnya hanya sebagai objek eksploitasi ikan, ukiran, sumber proyek dan lain sebagainya. Kita perlu melihat wilayah Agats, dalam perspektif kemahakuasaan Allah. Sebab bagaimana mungkin, orang hidup di atas lumpur, rumah-rumah dengan tiang-tiang dipancangkan di lumpur, hanya mengandalkan air hujan, dan lain-lain, tetapi orang Asmat mampu hidup dan bertahan sejak nenek moyang mereka hingga saat ini? Apa yang hendak diperlihatkan Allah melalui realitas ini?

Walaupun Allah mahakuasa dan tidak membutuhkan pengakuan tentang kemahakuasaan-Nya, namun melalui keunikan geografis dan budaya, Allah mau memperlihatkan belaskasih-Nya bagi umat manusia. Bahwa Allah mampu melampaui rancangan dan pikiran manusia. Allah berkuasa atas seluruh makhluk dan kekuasaan-Nya semata-mata demi kasih-Nya bagi umat manusia. Itulah nilai dan makna keindahan yang perlu dirajut oleh kita semua, yakni hidup dalam kasih, sebagaimana Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita.
Membaca tanda-tanda alam Agats, merupakan suatu kesempatan untuk melihat lebih dalam, betapa Allah mau kita hidup lebih dekat lagi dengan-Nya. Kita patut mengakui dengan jujur bahwa secara fisik, kita tidak melihat Allah, tetapi melalui pengalaman perjumpaan dengan sesama, dengan alam ciptaan dan dengan realitas sosial, kita mampu membaca dan mengenal Allah. Karena itu, setiap waktu adalah kesempatan untuk mengalami indahnya kasih Allah. Di sana kita belajar tentang mengasihi, mengampuni dan saling menerima satu sama lain.

Realitas kehidupan sosial di kota Agats
Bagi banyak orang, situasi dan keadaan kota Agats biasa saja. Masyarakat asli Papua hidup di bevak atau perumahan kumuh. Mereka mencari ikan, kepiting, kayu bakar, dan lain-lain. Ironinya banyak anak usia sekolah yang harus bekerja, entah menjaring ikan maupun menjadi tukang pikul kayu balok, guna mendapatkan uang untuk biaya hidup dan sekolahnya. Bahkan banyak di antara mereka tidak bersekolah karena berbagai alasan, entah karena orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah, uang asrama dan lainnya, maupun mereka yang tidak bersekolah karena mengikuti orang tuanya ke hutan untuk mencari makanan. Mereka ibarat ‘sampah’ di tengah kemegahan kota yang dikuasai oleh kaum imigran.
Hal umum yang dijumpai adalah sampah yang tidak tertangani. Kota Agats sebagai kota ukir, warisan budaya dunia, justru dinodai oleh wajah kota yang amat kotor karena hampir di setiap jalurnya berserak berbagai jenis sampah. Demikian halnya, air bersih sangat susah, sebab hanya mengandalkan air hujan. Jika tidak hujan, maka penduduk Agats tidak bisa masak dan mencuci. Kalaupun ada air bersih yang disiapkan oleh PDAM sangat terbatas.

Sebagaimana umumnya kota-kota besar, kota Agats pun memiliki bar, meja biliard dan tempat prostitusi. Di sinilah kaum adam dan hawa saling melampiaskan hasratnya, yang diakibatkan oleh berbagai alasan, entah sekedar mencari kenikmatan sesaat, menghabiskan uang, atau pun demi mencari sesuap nasi. Inilah kenyataan yang terjadi, setiap orang yang hidup di kota Agats tentu melihat dan mengetahui kondisi ini, tetapi tidak banyak yang peduli, sebab masing-masing mengadu nasib guna meraih impian mereka, yakni mendapatkan uang yang banyak, kedudukan dan jabatan di atas penderitaan orang Asmat. Akibatnya, suasana yang kontras antara masyarakat asli yang hidup miskin di bevak-bevak kumuh disandingkan dengan kaum pendatang yang hidupnya terbilang mewah, sebab mereka memiliki rumah yang bagus, motor listrik, sepeda, TV, HP dan lain-lain. Sementara penduduk asli, untuk mendapatkan nasi sepiring saja amat sulit, sebab mereka tidak memiliki keterampilan sehingga tersisih di antara kaum pendatang yang dibekali dengan pendidikan dan pengetahuan yang memadai.

Bukan hanya bidang perekonomian yang dikuasai oleh kaum pendatang, melainkan juga pemerintahan sesungguhnya dikuasai oleh kaum imigran. Bupati, Ketua DPRD dan beberapa kepala dinas dan badan dipimpin oleh anak-anak asli Asmat, tetapi tidak berdampak banyak bagi

Infrastruktur dasar seperti rumah layak huni untuk masyarakat asli, sarana air bersih dan tempat sampah jarang ada di kota Agats. Kita dapat melihat bahwa rumah yang bagus, bersih dan rapi pasti milik para pegawai atau pendatang. Sementara masyarakat asli hidup terlantar. Mungkin bagi mereka hal itu wajar dan biasa, sebab mereka hanyalah orang-orang kecil yang tidak berpendidikan. masyarakat asli, sebab pos penting dikuasi oleh kaum pendatang, sehingga banyak kebijakan berpihak pada mereka yang menguasai birokrasi dan demi kepentingan kelompok tertentu.

Ada banyak kejanggalan kehidupan bermasyarakat yang patut dipertanyakan, misalnya banyaknya pegawai di kantor tertentu yang tidak berbuat apa-apa, dan lain-lain. Gambaran yang diuraikan di sini, hanyalah sebagian kecil dari realitas sesungguhnya kota Agats. Masih ada banyak peristiwa, permasalahan dan pergumulan, yang belum disebutkan, tetapi dapat dipastikan bahwa saat ini, pada era otsus ini, masyarakat (orang asli Papua, orang Asmat), masih hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, karena jauh dari standar minimal kesejahteraan yang ditetapkan pemerintah yakni terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan.

Refleksi Kritis
Beberapa petugas pastoral senior, yang telah lama bekerja di Keuskupan Agats kurang lebih mengungkapkan hal yang sama yakni: “Kita kerja di tempat ini, tidak boleh memasang target, karena nanti kita stres kalau target yang kita buat tidak tercapai. Kita juga jangan biasakan diri untuk kasih barang ke umat, karena kalau kita kasih, dan saat mereka minta lalu tidak ada barang, mereka akan berontak.” Itulah beberapa nasihat yang saya peroleh ketika berbagi pengalaman dengan beberapa petugas pastoral yang telah lama bekerja di Agats.

Sebagai fransiskan, tentu kita memiliki cara sendiri untuk mendekati dan ada bersama umat. Pendekatan pastoral kita bukanlah pastoral barang: supermie, tembakau, uang, rokok dan lain-lain. Pendekatan pastoral kita sudah seharusnya mengedepankan sikap hati yang penuh kasih, siap mendengarkan umat, tetapi tetap tegas untuk menjaga dan memelihara iman umat. Bahwasanya, kadang kita merasa bahwa pastoral kita tidak menyentuh substansi pergumulan dan permasalahan yang dihadapi oleh umat. Kadang kita tergoda untuk cepat-cepat mau mengubah situasi umat, tanpa mengikuti prosesnya. Kita berpastoral menurut hobi dan minat kita, yang penting umat senang pun itu harus mengorbankan banyak hal, termasuk hal-hal administrasi. Sesungguhnya, harus disadari bahwa para petugas pastoral, di mana pun berkarya bahwa pastoral kita bukan seperti mobil pemadam kebakaran. Melainkan, kita harus hadir sebagai gembala yang menuntun dan memotivasi kawanan domba untuk berpikir cerdas, guna menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya.

Pastor bukan “juru kunci” perubahan sosial dalam masyarakat, melainkan harus hadir sebagai gembala yang memberikan beberapa pemikiran alternatif dan menuntun umat untuk berjalan dalam rencana kasih Allah. Biarlah melalui pendampingan kita, mereka menemukan jawaban atas pergumulan dan permasalahannya. Hal ini penting, supaya mereka belajar bertanggung jawab atas hidup dan tugas mereka sebagai anak-anak Allah. Kita tidak dapat menyangkal bahwa banyak dari masyarakat asli Asmat yang hidupnya menderita adalah umat Katolik. Mereka tersisih di antara kaum imigran, pun yang beragama Katolik, seakan-akan memisahkan diri dari mereka. Akibatnya, jurang pemisah semakin dalam, jarak antara mereka yang hidup miskin dengan kaum berada makin jauh, bahkan sangat jauh.

Dalam situasi inilah kita berpastoral, mewartakan Injil Kristus, kabar sukacita. Apakah kita mampu menyampaikan Injil Kristus dalam situasi umat seperti yang digambarkan di atas? Tidak jarang ada suara penolakan, bahkan dinyatakan juga dengan cara yang frontal, misalnya marah kepada Pastor, tidak mau masuk gereja, bersikap malas tahu dan lain-lain. Hal ini wajar, sebab di satu sisi kita mewartakan Injil yang menawarkan berbagai kehidupan rohani, sementara umat membutuhkan barang-barang fisik, yang membantu mereka untuk hidup: makan, minum, perumahan yang layak dan lain-lain. Kadang memang ada suara: “Kamu kasih kami apa? Saya sudah kerja setengah mati, ko bayar, saya mau beli makan.” Ungkapan ini menggambarkan bahwa umat membutuhkan sesuatu yang dapat mereka gunakan untuk kelangsungan hidupnya.

Apakah umat yang mengungkapkan hal demikian salah? Tidak, mereka tidak salah! Gaya berpastoral kitalah yang kadang tidak mendidik umat untuk mandiri. Kadang kita berpikir dengan memberikan segala sesuatu yang mereka minta akan menyelesaikan permasalahan yang digumuli umat. Sesungguhnya, sikap demikian tidak mendidik, sebab akan menciptakan sikap ketergantungan, yang mematikan daya kreativitas mereka untuk berkreasi guna memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Panggilan dan tugas perutusan kita adalah membantu umat untuk mengekploitasi SDM yang dimiliki, sebab pada diri mereka ada kemampuan yang “sedang tidur” karena tidak digunakan. Kita hadir memberikan motivasi, agar mereka memiliki kemauan dan semangat untuk menggali kemampuan yang ada pada diri mereka.

Akhirnya, sebagai langkah awal memutus mata rantai pembodohan terstruktur yang tercipta, guna mengangkat harkat dan martabat orang Asmat, perlulah dimulai dari dua aspek yang berdampingan yakni budaya dan pendidikan. Pertama, budaya sebagai landasan pijak hidup orang Asmat perlu dijaga dan dikembangkan, sebab sesungguhnya kekuatan hidup orang Asmat bersumber dari adat-istiadat mereka. Selain itu, budaya harus menjadi filter yang menyaring segala tawaran dunia modern dewasa ini. Jika tidak akan terjadi degradasi moral, yang dapat menghantar generasi muda Asmat pada pola hidup instan: minta-minta, malas kerja, minum mabuk, main judi dan perempuan, palak orang, mental proposal dan lain sebagainya.

Kedua, pendidikan merupakan unsur penting yang harus dikembangkan dengan membuka kesempatan belajar bagi semua anak Asmat. Perlu ada kebijakan khusus yang mengharuskan setiap anak Asmat untuk sekolah. Pendidikan harus menjadi perhatian pemerintah, Gereja, tokoh adat, tokoh masyarakat dan semua orang Asmat. Pendidikan menjadi sangat penting sebab terbukti mampu membuka cakrawala berpikir dan mampu membekali setiap anak untuk menatap masa depannya. Keuskupan Agats dalam keterbatasannya telah berjuang membuka keterisolasian orang Asmat melalui jalur pendidikan. Hal ini patut diapresiasi dengan penghargaan dan rasa hormat yang tinggi. Namun, tetap diharapkan agar ke depan pastoral pendidikan semakin ditingkatkan, terutama mendidik anak-anak Asmat agar memiliki kemauan dan komitmen untuk melakukan gerakan perubahan bagi orang Asmat, terutama dalam mengembangkan perekonomian, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Agats, 31 Agustus 2011
dengan salam hangat dan doa saya

Belajar Mengasihi dan Mengampuni Sesama (Refleksi atas Allah Tritunggal)

5 Feb

Peter Supardi OFM

“Allah mahakuasa, Allah maha agung, Allah luar biasa. Ia menempatkan segala sesuatu indah pada tempatnya.” Itulah kata-kata yang mengalir dari lubuk hatiku, ketika menginjakkan kaki di halaman gereja Katolik Ifar Gunung pada Minggu, 19 Juni 2011. Saya termangu tatkala mengarahkan pandangan ke arah hamparan pegunungan Cyclop, yang diselimuti kabut tipis dihiasai pancaran sang surya. Pemandangan itu sangat indah, melaluinya saya teringat pada Bapak kita St. Fransiskus yang sangat mengagumi kebesaran Allah yang tampak dalam alam semesta. Di balik keindahan itu, termaktub sejumlah misteri yang menghantar kita untuk melampaui diri kita sendiri dan juga apa yang sedang kita saksikan. Allah mau memperlihatkan bahwa kasih-Nya kepada kita tidak mengenal batas dan melampaui kelemahan serta kerapuhan kita.
Pengalaman ini menarik karena bertempatan dengan perayaan Tritunggal Maha Kudus. Perayaan inti iman kristiani, yang menghayati keesaan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Allah imanen, yang saling mengalirkan kasih di dalam keimanensian-Nya, tetapi juga Allah pengasih dan pengampun yang beremanasi karena kasih-Nya bagi manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Di alam terbuka, hamparan pegunungan Cyclop yang diselimuti pepohonan yang rimbun nan hijau, udara sejuk dan segar membangkitkan hasrat menelusuri misteri Tritunggal Maha Kudus yang selalu menganugerahkan kasih-Nya bagi umat manusia dan ciptaan lainnya. Diakon Stafanus Sabinus OFM yang memimpin perayaan tersebut menjelaskan dengan cermat makna perayaan Tritunggal sembari menyentil alasan mengapa kita memulai dan mengakhiri doa dengan membuat tanda salib dan menyebut Bapa, Putera dan Roh Kudus. Kita melakukan ini, karena kita yakin bahwa Allah melingkupi seluruh hidup kita dan dengan membuat tanda salib serta menyebut pribadi Tritunggal, kita pun mengambil bagian dalam hakikat Allah yang adalah sang pengasih dan pengampun. Apa yang muncul dalam bayangan kita, jika Allah yang kita imani adalah Allah pencemburu dan pendendam? Tentu kita akan celaka, sebab ketika kita jatuh ke dalam pelanggaran dan dosa, Ia akan menghukum kita. Allah kita bukanlah demikian.
Bagaimana kita bisa mengalami Allah pengasih dan pengampun? Kita diminta untuk memiliki iman yang kokoh akan kemahakuasaan Allah. Iman menjadi kunci untuk membuka misteri kasih-Nya bagi umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Iman kita akan Tritunggal Maha Kudus mestinya memampukan kita untuk saling mengasihi dan mengampuni. Selanjutnya, kasih dan pengampunan juga memampukan kita untuk membaca tanda-tanda zaman, yang hadir dalam sesama kita, baik di komunitas, di tengah masyarakat dan realitas sosial yang sedang terjadi di sekitar kita.
Dalam konteks kehidupan persaudaraan Fransiskan, seringkali kita tidak mampu melihat realitas di sekitar kita sebagai sarana penyataan diri Allah. Kita melihat segala sesuatu sebagai hal biasa dan rutinitas belaka. Kita melihatnya berdasarkan cara pikir dan cara pandang yang kita ciptakan sendiri dan mengabaikan kehendak Allah. Tidak jarang kita terkungkung di dalam “lingkaran setan” yang kita ciptakan, yang tanpa disadari mengerdilkan iman kita kepada Allah.
Cara pandang kita terhadap suatu realitas, bahkan termasuk pengalaman-pengalaman eksistensial, seringkali membatasi ruang gerak kita untuk mengalirkan kasih dan pengampunan kepada sesama sebagaimana yang telah kita peroleh secara gratis dari Allah. Cara pandang kita bisa keliliru bahkan salah total, bilamana kita hanya mengandalkan kemampuan diri kita semata. Akibatnya, kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman, yang dengannya Allah hendak menyampaikan kasih dan pegampunan-Nya kepada kita. Cara pikir yang keliru bisa membuat kita selalu merasa dicurigai, diintai, takut dicemoohkan, diejek dan dipermalukan di muka umum. Situasi ini tentu saja membuat kita merasa tidak nyaman. Akibatnya, kita mengambil jarak, memupuk sikap dendam dan amarah terhadap sesama saudara, menceritakan kekurangan saudara sebagai bahan ejekan dan lelucon, menceritakan saudara sekomunitas kepada pihak lain, dan lain sebagainya.

Amat menyedihkan bahwa sebagai religius Fransiskan, kita selalu berkutat dalam sikap dendam, benci dan marah. Kita tidak mau memaafkan kesalahan sesama saudara. Kita membela diri, seakan-akan kita yang paling benar, kitalah yang paling suci dan tidak bercela. Padahal mungkin kitalah yang menjadi biang keladi dan batu sandungan bagi sesama saudara. Apakah kita menyadari hal ini, ataukah hati kita sudah membatu, sehingga doa dan ulah tapa pun tidak mampu meluluhkan hati kita untuk mengasihi dan mengampuni sesama kita?
Kita semua mengerti dan memahami bahwa hidup religius merupakan gambaran nyata hidup eskatologis, dimana keimanensian Allah terlaksana secara nyata. Bahwa keimanensian Allah hanya dapat terlaksana karena adanya saling mengasihi di antara ketiga pribadi: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Hal demikianlah yang hendak kita ikuti, bukan sebaliknya menaburkan sikap benci dan dendam di tengah hidup komunitas kita. Jika yang kita taburkan adalah dendam dan kebencian, maka kita pun akan menuai neraka, suasana kacau-balau, permusuhan, saling curiga, dan jika tidak segera ditangani, maka pihak yang merasa termarginalisasi di tengah komunitas segera pamit dan pergi meninggalkan persaudaraan.

Jika situasi demikian yang kita ciptakan, lalu apa yang hendak kita wartakan kepada sesama? Bagaimana mungkin kita mewartakan kasih dan pengampunan, sementara kita sendiri adalah pecandu dendam tingkat tinggi? Bukankah kita baku tipu? Saya ingin mengutip khotbah Sdr. Yonas OFM, saat memimpin misa di Kapel Antonius: “Kita harus keluar dari diri kita dan menjadi orang-orang yang berbeda yaitu mau sabar dan mengampuni. Itulah ciri khas hidup religius yang kita jalani. Jika tidak demikian, apa artinya hidup kita sebagai religius? Apa lagi Fransiskan!” tegas Sdr. Yonas dalam khotbahnya.
Tentu tidak dapat dimungkiri bahwa hidup religius di komunitas tidak luput dari gesekan-gesekan di antara sesama saudara, tetapi hendaklah kita saling menerima, saling mengasihi dan mengampuni. Kita harus ingat, bahwa dengan mengampuni kita pun disadarkan bahwa kita rapuh dan lemah, kita pun memiliki peluang untuk melakukan kesalahan yang sama. Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak mengasihi dan mengampuni sesama saudara.

Sebagai orang-orang kecil, hamba hina-dina, yang oleh Bapak kita Fransiskus mengidentikannya dengan cacing, ulat dan debu serta hanya memiliki dosa di hadapan Allah, hendaklah kita saling mengasihi dan mengampuni. Bahwa pilihan dan keputusan untuk mengasihi dan mengampuni akan mendatangkan “sakit”, tetapi yakinlah bahwa “sakit” yang disebabkan oleh kekuatan untuk mengasihi dan mengampuni akan melahirkan sukacita yang besar dan rahmat belimpah-limpah akan dianugerahkan kepada kita.

Doa: Allah Tritunggal Maha Kudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, tolonglah kami menjadi pengikut Fransiskus yang setia melayani Engkau dalam kerendahan hati, saling mengasihi dan mengampuni. Bantulah kami untuk mengatasi rasa dendam, marah dan iri hati yang setiap saat mau menguasai diri kami. Buatlah kami menjadi saksi kasih dan pengampunan-Mu bagi dunia ini. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin

Berdamai dengan Diri & Sesama (Catatan refleksi atas ret-ret para saudara muda dengan tema: “BERTUMBUH DALAM & BERSAMA KRISTUS” yang berfokus pada proses inner child)

5 Feb

Peter Supardi OFM

Setiap manusia memiliki pengalaman yang unik. Ada beragam pengalaman perjumpaan dalam hidup manusia, yang kadang tidak dapat dimengerti oleh akal-budi. Di sinilah refleksi diperlukan, dan hanya melalui refleksilah manusia dapat menemukan makna terdalam dari pengalaman eksistensialnya.

Selama mengikuti ret-ret yang dibimbing oleh Sdr. Yonas OFM, terutama dalam sharing bersama dengan para saudara, para saudara menemukan begitu banyak kekayaan rohani yang dimiliki oleh setiap saudara. Hal yang menakjubkan adalah bahwa ada begitu banyak pengalaman masa lalu yang suram dan kelam, tetapi para saudara tetap gigih berjuang mengatasi dan terus berjalan dalam mengikuti Tuhan dari jarak dekat melalui cara hidup sebagai Fransiskan. Secara pribadi, saya kagum dan bangga atas pengalaman-pengalaman tersebut, yang dikisahkan secara dramatis dan sungguh luar biasa.

Ketika mendengarkan pengalaman saudara lain, tentu kita pun diundang turut merasakan peristiwa yang dialami oleh saudara yang mengsharingkan pengalamannya. Kita dipanggil untuk mendengarkan dengan teliti dan merefleksikannya, sebab sesungguhnya dengan mensharingkan pengalamannya, di sana terungkap bagaimana Allah hadir dan berbicara kepada saudara tersebut melalui cara yang unik, yang melampaui daya pikir manusia.

Tidak jarang, bahwa ada interupsi dari saudara lain: “Kita sharing di sini, habis di sini! Jangan cerita lagi kepada orang lain.” Ini adalah tanda peringatan. Apa artinya? Kadang kita menganggap sharing saudara lain sebagai bahan lelucon di meja makan, bahan cerita di kamar tidur, bahkan kadang menjadi gosip di tengah hidup komunitas para saudara. Padahal dalam sharing, unsur kepercayaan, saling percaya satu terhadap yang lain merupakan faktor fundamental yang amat menentukan keterbukaan seorang saudara terhadap saudara lain.

Dalam hidup berkomunitas, kita diminta untuk saling percaya satu sama lain. Hal ini sangat penting, sebab kadangkala para saudara tertentu “digosipkan” entah oleh saudara sendiri dalam komunitas atau oleh pihak lain dan kita semua terlibat dalam siklus gosip yang diciptakan dengan berbagai motifnya, tanpa terlebih dahulu mengkonfrontirnya; apakah gosip tersebut mendekati kebenaran faktual atau sebaliknya hanya isu murahan yang sengaja dihembuskan oleh pihak tertentu untuk merusak persaudaraan kita? Kita harus mengakui bahwa kadang kita terjebak dalam siklus gosip yang justru menghancurkan kehangatan persaudaraan kita. Bahkan kadangkala, hanya karena gosip kita baku marah, tidak baku tegur-sapa hingga berbulan-bulan bahkan mungkin untuk selamanya kita tidak mau berdamai.

Jika itu yang terjadi, maka sesungguhnya kita merupakan manusia yang paling malang di muka bumi ini. Apa artinya, kita hidup sebagai fransiskan: tiap pagi dan sore pakai jubah ke kapel, kita berdoa Bapa Kami, kita mendaraskan Salam Maria dan sebagainya, tetapi yang ada dalam relung jiwa kita justru dendam, kebencian dan iri hati. Apa makna dari salam damai yang kita buat setiap pagi sebelum menerima komuni suci? Apa arti kita berkhotbah tentang kasih dan pengampunan, jika yang ada dalam hati kita adalah dendam dan kebencian?

Proses inner child yang disajikan oleh Sdr. Yonas OFM dalam ret-ret tahun ini, setidaknya membongkar cara pikir para saudara muda yang selama ini terkurung dalam beban hidupnya karena rasa marah dan jengkel terhadap setiap pribadi yang melukai hidupnya untuk berdamai kembali. Apa pun alasannya, bahwa masa lalu adalah sebuah pengalaman yang perlu diolah dan direfleksikan, sekalipun kadang menyakitkan, bukan untuk dilupakan. Inner child membutuhkan kasih sayang dan cinta yang besar, bukan cinta setengah hati dan asal-asalan. Ia membutuhkan kehangatan dan kasih yang melimpah. Adalah hal yang normal bahwa kadang kita mau lari dari pengalaman masa lalu yang suram, tetapi melalui proses inner child, kita dipanggil untuk kembali, mendatangi masa lalu kita, kita mau berbincang-bincang dan bersenda-gurau dengannya dan merajut kembali untaian benang yang mulai kusam dan menjadikannya bersinar kembali. Apa pun alasannya, kitalah yang harus memulainya, sebab kita sendiri yang mengalami langsung berbagai peristiwa tersebut.

Ketika selesai sharing bersama Sdr. David, dan Sdr. Ambros, saya berjalan hendak kembali ke kamar, pada saat itu, Sdr. David ada di depan, saya memanggilnya dan mengatakan: “Apa pun pengalaman kita, kita sendirilah yang mengetahuinya, maka sehebat apa pun proses ini, yang menentukan apakah kita sembuh atau tidak, semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Kita yang harus memulainya.” Saya mengatakan demikian, karena Sdr. Yonas OFM bersaksi bahwa dia pergi ke Roncalli dan di sana ia mengalami pemulihan (penyembuhan). Hal ini terjadi karena dia memiliki niat untuk sembuh. “Setelah proses inner child, saya ikut ret-ret agung dengan sungguh-sungguh karena saya mau sembuh. Teman-teman saya bilang, saya satu-satunya peserta yang paling serius mengikuti ret-ret agung. Itu betul karena saya punya niat untuk sembuh” kata Sdr. Yonas OFM.

Kita pun patut menyadari bahwa untuk sampai mengalami kesembuhan bukanlah hal yang mudah, ada banyak tantangan yang menghadang, tetapi kita perlu memiliki komintmen yang teguh untuk menata hidup kita. Hal ini sangat penting sebab sebagai pelayan umat, kita akan berhadapan dengan banyak orang, jika kita tidak sembuh dari luka-luka kita, maka kita akan menjadi pribadi yang sulit untuk menyampaikan Injil kepada sesama. Kita takut, grogi, malu merasa tidak pantas dan lain sebagainya. Bahkan tidak dapat dimugkiri bahwa kita bisa menjadi pribadi atau saudara yang sulit dalam komunitas kita. Akibat lebih lanjut, kita menjadi batu sandungan di tengah komunitas. Kita menjadi bahan cerita dan gosip saudara lain.

Di tengah gempuran pengalaman pahit masa lalu, kita dipanggil untuk terus maju dan melakukan perubahan-perubahan positif dalam diri kita. Kita harus berani memulai, entah dari mana arahnya, kitalah yang berhak menentukannya, orang lain dan sesama hanyalah fasilitator. Kitalah subjek, maka kita pula yang menentukan arah dan masa depan kita. Kita mau menjadi fransiskan seperti apa, kitalah yang memilih dan memutuskannya. Magister dan pimpin persaudaraan pasti membantu kita, asal kita mulai meretasnya terlebih dahulu.

Akhirnya, saya mempersembahkan refleksi ini kepada Saudaraku Ambrosius Sala OFM, dia yang banyak mengajari saya menjadi pribadi yang sabar dan setia. Kesabaran dan kesetiaannya itu, kembali terbukti tatkala ia dengan berani memulai rekonsiliasi dan pemulihan relasinya dengan ayah, ibu serta kakaknya. Kini, Sdr. Ambros OFM menjadi pribadi yang lebih segar, murah senyum dan mengalami penyembuhan. Terima kasih Sdr. Ambros OFM, terima kasih juga untuk Saudaraku Yonas OFM. Kalian adalah pribadi-pribadi transformatif yang telah mulai berani mengalahkan diri sendiri dan bergerak keluar untuk memulai hidup baru. Saya bangga dan turut bahagia atas usaha dan kerja keras serta ketekunannya hingga menemukan mutiara yang selama ini dicari.

Semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita dalam tugas perutusan kita masing-masing, salam hangat dan doa saya dari Bukit Pikhe, Biara St. Fransiskus Wenewolok-Pikhe,

Hari pertama masa TOP, 4 Agustus 2011.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.