Archive | Refleksi RSS feed for this section

MENJADI PENTOBAT

26 Jul

Peter Supardi OFM

 

Hari ini, Minggu, 18 Maret 2012 (Minggu Prapaskah IV), kita merayakan Pesta Yubelium 75 tahun kehadiran Ordo Fratrum Minorum (OFM) di tanah Papua. Di mulai dari Kokonao, para para saudara awal berkelana sampai di Sorong, hamparan Pegunungan Tengah, Pantai Utara Papua hingga Pantai Selatan. Terakhir, para Fransiskan hadir di Agats sebagai bentuk solidaritas dengan Sdr. Alo Murwito OFM, sebagai Uskup Keuskupan Agats. Dalam rentang waktu 75 tahun, para saudara dina hampir menyebar di seluruh tanah Papua guna mewartakan Injil Tuhan.

Kehadiran para fransiskan perdana di tanah Papua memberikan warna tersendiri bagi Gereja lokal, di setiap wilayah yang ditanganinya. Rahmat kedinaan, persaudaraan universal dan pertobatan yang dialami sejak awal mula oleh Bapa Fransiskus Asisi tetap menjiwai setiap saudara yang melayani umat Allah. Hasilnya, tidak sedikit umat yang terkesan ketika hidup bersama para fransiskan. Mereka merasa diterima dan dihargai sebagai saudara, rekan sekerja dan sahabat seperjalanan menuju Allah.

Namun, kita juga harus mengakui bahwa tidak sedikit pula umat yang mencercah dan mencaci maki para saudara, entah karena pendekatan dan cara hidup para saudara ataukah karena faktor lain. Kita patut berefleksi mengapa umat yang dilayani sering mengeluhkan pelayanan kita? Apakah kita sudah melayani dengan tulus-ikhlas dan dengan kasih yang besar, ataukah kita sekedar melayani untuk memenuhi kewajiban  kita?

Ada banyak aspek yang perlu kita renungkan setelah 75 tahun OFM hadir di Papua; lalu kita mau buat apa untuk tahun-tahun mendatang? Pada kesempatan ini, saya hanya mau fokus pada satu refleksi tentang kesaksian hidup kita sebagai para pentobat, yakni sejauh mana kita sudah menghayati dan mewujudkan identitas kita sebagai pentobat, dengan melakukan tindakan konkret melalui penerimaan dan pewartaan sakramen Tobat?

Sejak awal menjadi fransiskan kepada kita sudah diperkenalkan tentang identitas kita, yakni para pentobat, yang sedang berjuang untuk sedapat mungkin menepati Injil Tuhan. Kita juga belajar aneka ilmu rohani, salah satunya adalah Sakramen Tobat, sarana paling konkret menyatakan sesal dan tobat kita kepada Allah dan memulihkan relasi kita yang retak dengan-Nya karena dosa. Secara teoretis, kita mengetahui bahkan menghafal rumusan pengakuan dosa di hadapan imam. Kita belajar makna teologisnya dan manfaatnya bagi hidup kita dan sesama.

Rupa-rupa pengetahuan kita tentang Sakramen Tobat ternyata bukanlah jaminan menjadi pentobat. Seringkali kita menyangkal identitas hidup kita sebagai pentobat dengan bertahun-tahun tidak pernah menerima Sakramen Tobat. Kalau kita mau jujur, berapakah kita yang setia mengaku dosa minimal, sekali dalam sebulan? Mungkin kita bisa hitung dengan jari tangan kita.

Biasanya, pada masa Novisiat, kita sungguh-sungguh mempraktekkan ulah tapa dan tobat, dengan mengakukan dosa, tetapi selepas Novisiat, semua tinggal kenangan. Rupanya, kita sudah lulus ujian dan mungkin tidak buat dosa lagi, sehingga mengabaikan identitas kita sebagai pentobat.

Tidak jarang pula, kita menjumpai bahwa ada saudara yang bersendagurau: “Kita kan sudah buat pengakuan secara bersama, jadi tidak perlu pengakuan dosa secara pribadi.” Ada pula yang kalau saudara lain mengakukan dosa mulai mengejek: “Hmmm, orang suci.” Dan ada berbagai macam lelucon lain yang dilontarkan untuk “menyangkal” identitas diri kita sebagai pentobat.

Pada kesempatan ini, saya juga mau mengakukan dosa, bahwa saya yang menuliskan refleksi ini pun jarang mengakukan dosa secara pribadi. Dulu sewaktu masih di Novisiat dan awal masuk kuliah di STFT Fajar Timur, saya masih mengakukan dosa secara teratur, tetapi selanjutnya sudah tidak teratur lagi.

Mengapa kita enggan mengakukan dosa secara pribadi? Saya melihat dua hal yakni, pertama faktor pengolahan diri pribadi. Penghayatan kita terhadap Sakramen Tobat amat dangkal. Secara teoretis kita tahu dan mengerti, tetapi kita tidak mau menghayati dan melaksanakannya. Kita malas mengakukan dosa-dosa kita, bahkan tidak jarang membusungkan dada sebagai orang suci. Jika demikian adanya, lalu di manakah identitas panggilan hidup kita sebagai pentobat? Mari kita bertobat dan kembali kepada Bapa, sebab Dia sedang menanti kita di depan pintu-Nya yang maharahim (bdk Luk 15:11-32).

Kedua, – sejauh yang saya lihat dan renungkan – kita para fransiskan Papua (OFM) kurang mendengungkan pentingnya Sakramen Tobat. Hal ini mulai dari rumah pendidikan, yang mana penekanan akan pentingnya Sakramen Tobat kurang diangkat secara bersama-sama dalam komunitas. Memang Magister sering mengingatkan dalam pertemuan pribadi agar setiap saudara sedapat mungkin melakukan pertemuan pribadi dengan Bapa Rohani dan mengakukan dosa, tetapi sebagai sebuah diskusi, pergumulan dan permenungan bersama hampir tidak dilakukan. Demikian halnya, saya lihat di paroki-paroki yang dilayani oleh para Fransiskan (OFM), gema Sakramen Tobat redup. Biasanya, dibuat hanya pada menjelang Natal dan Paskah.

Saya mengusulkan, baiklah setelah 75 tahun OFM hadir di Papua, kita mulai merenungkan pentingnya Sakramen Tobat. Kita mulai bertobat sungguh-sungguh dan tidak jemu mengakukan dosa-dosa kita kepada Allah melalui para imam-Nya, agar kita dibersihkan dari dosa-dosa kita dan layak menjadi saksi-Nya. Sebab kita adalah para pentobat. Kita dipanggil dan diutus untuk mewartakan Injil Tuhan dalam semangat persaudaraan, kedinaan dan pertobatan.

 

 

 

 

 

 

Rehab Gereja Stasi St. Petrus & Paulus As-Atat

26 Jul

oleh Peter Supardi OFM

 

Proses rehab

Sejak Oktober 2011, Pastor Paroki St. Silvia Yamas, Pastor Antonius Satriya Nugroho OFM memusatkan perhatiannya pada pembangunan fisik di wilayah pelayanannya. Salah satunya adalah rehab gedung gereja St. Petrus dan Paulus As-Atat. Umat antusias menyambut usulan ini. Mereka segera menyiapkan umpak kayu besi, papan, balok dan empat belas tiang ukir.

Setelah semuanya siap, pada Rabu, 14 Maret 2012, Pastor Anton OFM langsung memimpin rehab gereja ini. Kegiatan ini dibuka dengan doa singkat yang dipimpin oleh Pastor Anton OFM. Kemudian dilanjutkan dengan pemancangan tiang ukir dan penggantian umpak yang telah hancur.

Umat dari kedua kampung As dan Atat mengambil bagian dalam pekerjaan ini. Kaum lelaki, mulai dari remaja, pemuda hingga orang tua saling bahu membahu memikul tiang-tiang ukir dan umpak untuk ditancapkan. Sementara ibu-ibu menyiapkan makanan, berupa sagu, pisang dan singkong. Ada beberapa ibu yang memasak air dan membuat kopi di pastoran.

Pekerjaan ini berjalan lancar, tanpa hambatan apa pun. Pada sore hari, usai kerja, dilakukan pertemuan antara Pastor Anton OFM dengan umat yang terlibat dalam pekerjaan ini. Kepada mereka, Pastor Anton OFM meminta agar mereka berkerja tanpa pamrih untuk Gereja. “Kamu di sini sudah terlibat aktif membangun Gereja. Saya harap kamu tidak ikut seperti kampung-kampung lain, yang suka tuntut Pastor bayar dan lain sebagainya, sebab gereja ini kamu punya.” Pekerjaan hari ini adalah awal, selanjutnya umat akan bahu membahu untuk menyelesaikan pekerjaan rehab gereja ini.

Sekedar diketahui bahwa pekerjaan hari ini terbilang sukses karena umat dapat mendirikan sepuluh tiang ukir dan beberapa umpak pun sempat diganti. Namun, di balik kesuksesan ini ada satu peristiwa yang mengejutkan yakni, ada seorang Bapak pengukir tiang dari Kampung Atat, yang marah-marah karena tiang ukirannya belum dipancangkan dalam gereja. Ia mengampak tiang ukirannya. Bukan hanya itu, ia juga memegang sepotong kayu dan bergegas ke gereja hendak membuat kacau, tetapi diamankan oleh umat yang sedang bekerja dalam gereja. Untuk menenangkan Bapak ini, maka tiang ukirannya langsung diusung ke dalam gereja dan dipasang pada bagian belakang altar.

Catatan refleksi

Impian dan cita-cita Gereja lokal Keuskupan Agats sebagaimana yang dirumuskan dalam visinya, yaitu Gereja Kesukupan Agats sebagai persekutuan dan persaudaraan umat Allah, yang dewasa dalam iman, dengan menggunakan pola budaya setempat seperti Jew dan Wair, yang diterangi dan diilhami oleh nilai-nilai Injil dalam mewujudkan keselamatan. Pekerjaan rehab gereja Stasi St. Petrus dan Paulus As-Atat melibatkan seluruh umat sebagai wujud penghayatan terhadap persekutuan, persaudaraan dan kerja sama sebagaimana yang biasanya dilakukan di dalam adat orang Asmat, misalnya waktu mendirikan Jew. Dengan melibatkan umat, diharapkan umat pun selain sehati sejiwa bekerja, tetapi juga mulai merasa memiliki gereja tersebut.

Rumusan visi Gereja Keuskupan Agats di atas amat kaya akan nilai-nilai budaya dan injili serta kontekstual dengan situasi umat. Namun, aplikasinya hampir tidak berjalan, karena minimnya kesadaran akan rasa memiliki Gereja. Gereja selalu dilihat sebagai pihak luar yang harus memenuhi kebutuhan umat. Gereja dilihat sebatas memberikan bantuan fisik. Akibatnya, segala pekerjaan yang berkaitan dengan Gereja pun harus dibayar. Pastor dituntut bahkan tidak jarang dipaksa bersikap seperti pemerintah yang suka mengobral proyek kepada masyarakat, untuk membayar apa saja yang dikerjakan umat untuk Gereja.

Salah satu cara untuk menyadarkan umat tentang identitasnya sebagai warga Gereja adalah dengan mengajak mereka terlibat dalam pembangunan gereja. Mereka dilibatkan sejak awal untuk pekerjaan rehab gereja agar tumbuh kesadaran rasa memiliki Gereja. Melalui pekerjaan ini mereka diarahkan untuk belajar memberikan diri bagi Gereja karena mereka adalah Gereja. Memang tidak mudah mengubah mentalitas resiprositas ketat semacam ini, tetapi tetap ada harapan bahwa melalui pembinaan yang berkelanjutan, pada waktunya umat akan sadar dan bisa memberikan diri bagi Gereja.

Sebagai fransiskan kita sering menjumpai umat yang bersikap malas tahu terhadap kehidupan menggereja. Ada umat yang kerja sedikit untuk Gereja lalu tuntut upah kerja. Ada pula yang malas terlibat dalam kehidupan menggereja. Tidak jarang pula ada kesan bahwa seakan-akan petugas pastoral yang mengemis pada umat untuk menjadi Katolik, dan lain sebagainya. Aneka tantangan ini menjadi batu ujian bagi karya pelayanan kita. Sejauh mana kita mampu merangkul mereka yang hendak menjauh dari Gereja?  Kalau mau cari enak, tentu kita biarkan saja, tetapi itu bukanlah sikap terpuji dari seorang pelayan Allah. Kita perlu membuka diri juga bagi mereka yang kadang menyakitkan kita.

Pengalaman kami bersama umat Paroki St. Silvia Yamas mengajarkan kita untuk senantiasa mengolah diri agar menjadi pribadi yang sabar dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Dan kepada kita semua diajak untuk melihat setiap tantangan sebagai kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, yang mengutus kita. Sebab hanya di dalam Dia, kita dapat menghadapi dan mengatasi aneka tantangan tersebut.

Tidak dapat disangkal bahwa seringkali kita terlalu sibuk pada karya sosial di tengah umat dan melupakan relasi kita dengan Allah. Akibatnya, kita mudah tersinggung, marah, kecewa dan lari ketika mendapat tantangan. Kita perlu dekat dengan Allah, supaya orientasi hidup dan karya kita tidak melenceng dari panggilan dan perutusan kita. Kalau kita menjauh dari Allah, kita bisa sangat rapuh dan mudah jatuh ke dalam pencobaan yang datang silih berganti mewarnai hidup kita.

Tantangan berpastoral sebagaimana yang kami alami di Paroki St. Silvia Yamas merupakan serpihan pengalaman yang bisa memperkaya kita untuk menyiapkan diri sungguh-sungguh menjadi pelayan-Nya. Kita perlu menyiapkan diri untuk siap sedia menghadapi situasi paling sulit, yang mungkin akan terjadi pada hidup dan karya pelayanan kita.

Sebagaimana rehab gedung gereja Stasi St. Petrus dan Paulus As-Atat, kita pun dipanggil kembali ke dalam ruang hidup kita dan melakukan rehab terhadap rumah batin kita, yang mulai lapuk karena kerapuhan kita. Tidak ada jalan lain untuk memulai rehab rumah batin kita, selain kita sendiri yang memulainya. Karenanya, adalah baik dan tepat bila di tengah kesibukan aktivitas pelayanan, kita meluangkan waktu untuk menarik diri dari aneka kesibukan itu dan kembali menata rumah batin kita.

Semoga sharing pengalaman ini membantu kita, para fransiskan untuk senantiasa mengandalkan Allah dalam seluruh tugas perutusan dan pelayanan kepada umat Allah di mana pun kita berkarya. Kita perlu yakin bahwa di dalam kesulitan dan tantangan apa pun Allah tetap ada bersama kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita.

 

Agats, 20 Maret 2012

Salam hangat dan doaku

 

 

 

Budaya Kasih dalam Budaya Baliem

26 Mar

Paulus Biweng OFM

Orang Papua pada umumnya dan orang Baliem pada khususnya sungguh identik dengan budaya kasih. Budaya ini menjadi pedoman bagi orang Baliem untuk melakukan sesuatu. Budaya kasih ini lebih mengutamakan sesama daripada diri sendiri. Budaya ini dijunjung tinggi untuk mencapai nilai kebersamaan. Nilai kebersamaan inilah yang menjadi jiwa kekuatan orang Baliem. Jiwa kebersamaan menjadi dasar hidup orang Baliem. Hal ini sungguh saya alami bersama saudara/i hina-dina Gladi Rohani saat mengikuti pertemuan pertama bersama mereka. Tema yang diangkat ialah Adat Istiadat dan Kebudayaan Lembah Baliem. Bapak Yulianus Joli Hisage menjadi narasumber. Banyak sekali pengalaman yang disharingkan bersama dalam pertemuan ini. Bahan ini sungguh menarik dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun seperti; apa perasaan anda ketika melihat kondisi kampung(budaya) saat ini? Badingkanlah dengan kebudayaan lain?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kamia semua diajak dengan semacam pengantar masuk berupa meditasi yang mengantar kami kembali ke kampung untuk melihat sejumlah hal yang ada di sana. Proses ini dilakukan selama kurang lebih dua menit karena terganggu oleh bunyi alarm handphone. Namun proses ini berjalan dengan baik, karena para peserta GR dapat menyampaikan pengalaman yang ditemukan selama meditasi tadi. Ternyata ada begitu banyak persoalan yang diangkat di dalam sharing bersama. Ada yang mengatakan bahwa ketika berada di kampun,g ada begitu banyak persoalan yang ditemukan di sana seperti; pagar sudah mau roboh, Honai yang kosong karena tidak ada penghuni-semuanya lari ke kota, Pilamo adat kelihatan gelap,dll. Dari pengalaman ini juga timbul perasaan-perasaan seperti; sedih, takut, marah,dll. Situasi itu mau mengambarkan dan mengatakan bahwa keadaan di kampung sudah mengalami banyak kemerosotan.

Pertemuan ini dilaksanakan dengan maksud untuk menyadarkan kembali bahwa budaya itu sangat penting. Dengan mengenal budaya, kita mengenal jati diri kita, aku adalah aku dan bukan siapa-siapa. Kenyataan sekarang ini, sungguh-sungguh menyedihkan. Orang sudah mulai tidak mengenal budaya lagi, terutama anak-anak muda. Mereka lebih mengenal kebudayaan botol alias miras. Jadi boleh dikatakan bahwa kebudayaan mereka adalah kebudayaan botol.

Melihat situasi ini, mau dibawa kemanakah generasi Papua? Apakah masih bisa mengenal budayanya sendiri atau tidak? Saya sendiri merasa menyesal karena orang tua sangat minim mengajarkan saya tentang budaya saya sendiri. Maka itu ketika saya mengikuti pertemuan ini, saya baru sadar bahwa budaya itu sangat penting dan sangat menentukan masa depan saya sendiri. Budaya mempunyai peranan penting dalam kehidupan ini. Orang yang tidak mengenal budaya adalah orang yang tidak mengenal jadi diri, seperti saya sendiri. Bukan berarti saya tidak tahu apa-apa. Saya merasa lebih enak belajar budaya lain dari pada budaya sendiri. Dari beberapa budaya yang ada di Papua ini yang pernah saya jumpai, budaya yang saya rasa paling cocok, paling sesuai, paling mantap adalah budaya Baliem. Mengapa saya mengatakan demikian?

Berdasarkan pengalaman, orang Baliem sungguh sangat luar biasa mengenai nilai kebersamaannya. Saya berani mengatakan hal ini karena bertolak dari pengalaman saya sendiri ketika pernah berada di Wamena. Pengalaman kebersamaan itu, saya alami juga bersama saudara/i hina-dina GR yang berada di Jayapura ini yang adalah juga kebanyakan berasal dari Wamena sendiri. Hal yang mengesakankan ialah nilai kebersamaan itu. Bertolak lagi dari pengalaman itu, ketika pertemuan ini selesai, saudari Agustina mengajak peserta untuk minum air. Dalam pikiran saya bahwa kita akan dibagi air vit satu orang satu. Ternyata apa yang terjadi? Sungguh luar biasa, saudari Agustina mengambil satu botol vit besar, dan kami semua berbagi dan minum air dari satu botol itu. Bagi saya hal ini sungguh luar biasa, saya baru mengalaminya dalam kelompok ini. Kebersamaan sungguh sangat melekat pada kelompok ini. Maka saya mau belajar dari kelompok ini.

Berguru dari pengalaman ini, saya merasa sebagai seorang biarawan yang adalah pengikut St. Fransiskus mau meneladani kelompok GR di dalam hidup membiara. Waluapun kadang saya sebagai manusia yang lebih cenderung kepada kepentingan diri sendiri, tetapi saya akan selalu berusaha. Nilai kebesamaan ini, memang sangat dituntut dalam persaudaraan ini, tetapi nyatanya masih minim untuk diwujudkannya, karena masih ada rupa-rupa alasan yang ada di dalam diri kita masing-masing. Saya mau mengutip motto kelompok GR sebagai inspirasi buat saya, yaitu: “Taklukanlah serigala di dalam dirimu dan jadilah terang dan bunga dunia”. Itulah pengalaman pertama saya bersama teman-teman Gladi Rohani, yang memberikan semangat untuk berjalan bersama dan di dalam Yesus.

WEEKEND BERSAMA GLADI ROHANI

21 Mar

Paulus Biweng OFM

Selama setengah semester ini saya baru tiga kali weekend. Tempat weekend saya dengan teman-teman kelompok Gladi Rohani. Tempat kelompok gladi rohani ini tidak menetap, karena belum mendapat tempat yang jelas. Awalnya mereka selalu bertemu dan berkumpul di rumah bulat kompleks SMA Taruna Bakti. Tetapi ketika rumah itu diserahkan kembali kepada Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, kelompok ini tidak mendapat tempat sebagai wadah untuk duduk bersama untuk membagi pengalaman dan membicarakan agenda-agenda lain. Kelompok ini sekarang terkatung-katung mengenai tempat, tetapi bagi mereka, di mana saja kita bisa berkumpul. Mereka mengutip Bapa Fransiskus bahwa “alam adalah rumah kita”. Jadi berkumpul di alam bebas pun bisa saja.

Weekend pertama, saya berhadapan dengan situasi yang baru. Berhadapan dengan situasi ini saya juga butuh persiapan. Persiapan yang bagaimana? Intinya saya perlu persiapan diri dan batin. Saya awalnya merasa tegang, malu dan agak kaku berhadapan dengan kelompok gladi rohani ini. Walaupun sebagian besar dari mereka sudah saya kenal. Saya mulai memperkenalkan diri kepada mereka dan sebaliknya, mereka memperkenalkan diri mereka kepada saya. Sehingga saya sedikit demi sedikit mulai mengenal mereka satu persatu, walaupun masih kabur, artinya belum ada relasi yang begitu dekat. Kelompok gladi rohani ini sudah berusia lima tahun. Kelompok ini berkembang dari kota Wamena. Kelompok ini pada umumnya berasal dari kota Wamena sendiri. Bentuk kegiatan yang mereka lakukan antara lain; rekoleksi, sharing bersama, sharing kitab suci, pertemuan yang bersifat ilmiah maupun non-ilmiah, dan lain-lain. Pendamping utama mereka adalah P. Lambert Nita, OFM. Kelompok ini mempunyai tokoh pelindung yaitu Santo Fransiskus dan Santa Klara. Jadi mereka mengikuti semangat kedua tokoh ini. Sehingga mereka merasa bahwa mereka juga bagian dan berada di bawah persaudaraan ini. Mereka selalu berkumpul pada minggu pertama dan keempat dalam bulan. Kelompok ini terdiri dari pelajar dan mahasiswa/i. Motto gladi rohani adalah “takluknalah serigala yang ada pada dirimu, dan jadilah bunga dunia”. Prinsip mereka adalah “satu untuk semua dan semua untuk satu”.

Alasan saya memilih tempat ini karena saya mau belajar bersama kelompok ini; belajar mengenal diri, belajar berorganisasi dan yang terutama adalah untuk menambah pengalaman sekaligus untuk perkembangan kepribadian dan panggilan saya ini. Saya hadir bersama mereka sebagai pendengar, anggota. Ada keunikan dari kelompok ini. Setiap anggota dituntut dan dididik untuk mampu mengungkapkan pendapatnya. Merekadilatih menjadi orang yang dapat dipercaya, bertanggung jawab dan rendah hati. Ikatan kebersamaan dan kekeluargaan dalam kelompok ini sangat kental, mungkin karena dipengaruhi oleh latar belakang budaya mereka.

Weekend yang kedua, saya sudah merasa lebih akrab dengan mereka. Saya merasa bahwa mereka adalah bagian dari keluarga saya. Mereka juga merasa saya adalah bagian dari keluarga mereka. Salah satu hal yang saya akui bahwa mereka tidak pernah membuat proposal untuk meminta bantuan dalam bentuk apapun. Mereka selalu usaha sendiri. Mereka mengumpulkan sesuatu dari apa yang mereka miliki. Hal ini saya alami ketika mereka membuat acara pelantikan koordinator baru dan penerimaan anggota baru. Hal ini bagi saya sungguh luar biasa, kemandirian kelompok sangat luar biasa. Saya mau belajar dari kelompok ini, saya mau menjadi orang yang “mandiri”. Dalam arti bahwa saya mau menjadi orang yang bertanggung jawab dan prinsipil.
Weekend yang ketiga, kami membagi pengalaman dengan tema: “apa itu Adven dan makna serta bagaimana mengimplementasikannya?”. Ada begitu banyak pengalaman yang kami bagi bersama. Semua pengalaman itu diungkapkan berdasarkan pengalaman masing-masing dan berdasarkan pemahaman masing-masing. Intinya bahwa dalam pertemuan ini kita diantar dan diajak supaya selalu mempersiapkan diri, baik secara batiniah maupun lahiriah untuk menyambut Sang Juruselamat kita yaitu Yesus. Ada begitu banyak pengalaman yang boleh saya dapat dari kelompok ini. Saya merasa terbantu, dikuatkan dan secara tidak langsung mendapat dukungan dari mereka dalam menanggapi panggilan suci ini. Saya sadar bahwa saya selalu butuh bantuan dan dukungan dari pihak lain karena saya adalah manusia yang mempunyai keterbatasan. Maka saya sebagai seorang religius, pengikut fransiskus, saya harus berjuang, berjuang dan terus berjuang dalam perziarahan menuju panggilan suci ini. Dengan demikian sebagai akhir dari refleksi saya, saya mau katakan bahwa saya sedang dan masih terus berjuang, maka saya mau memulainya lagi karena saya dalam proses pencaharian jati diri saya yang sebenarnya.

AGAR TIDAK LUPA

6 Feb

Nico Syukur Dister OFM

Dalam Majalah “Duta Damai”, September 2011, rubrik Kronik, hlm. 35, dikatakan bahwa pada tgl. 1 Agustus keempat saudara kita yang sudah tamat postulat dan sekarang menjadi novis, menerima “jubah pertobatan”. Sebutan ini sering kita dengar dan memang tepatlah kita pakai, walaupun dalam Anggaran Dasar dikatakan tentang penerimaan para novis bahwa “para minister hendaknya memberi mereka pakaian percobaan” (AngBul II:9; bdk AngTBul II:8). Para novis yang masih menjalani tahun percobaan (AngBul II:11) dan para saudara berprofes sama-sama memakai jubah, tetapi pada waktu itu (dan masih selama berabad-abad kemudian) terdapat juga sedikit perbedaan antara pakaian novis dan pakaian para saudara yang telah “diterima ke dalam ketaatan” (AngBul II:11; AngTBul II:9).

Namun demikian tepatlah juga bilamana jubah fransiskan disebut “jubah pertobatan”, karena pertobatan merupakan salah satu unsur pokok spiritualitas kita. Kalimat pertama dalam wasiat Fransiskus menyangkut rahmat pertobatan, dan seluruh hidup sebagai saudara dina dipandang oleh Il Poverello sebagai sebuah proses pertobatan yang berkelanjuan, sebab ia menulis dalam Wasiat itu juga: “Di mana pun mereka (= para saudara dina) tidak diterima, hendaklah mereka mengungsi ke tempat lain untuk melakukan pertobatan dengan berkat Allah” (Was 26). Sebelum Fransiskus menamakan ordonya “Ordo Saudara Dina” (1 Cel 38), ia sendiri bersama para saudara perdana memperkenalkan diri sebagai “poenitentes”, para pentobat: “Kami ini pentobat asal Asisi”, dan sampai sekarang Ordo Fransiskan Regular dan Sekular masih ditunjukkan dengan sebutan “Para Peniten”.

Bila kita ditanya apa sebabnya masuk OFM, banyak di antara kita akan menjawab bahwa mula-mula tertarik pada jubah fransiskan. Lama kelamaan daya tarik kiranya tidak lagi terletak dalam pakaian lahiriah melainkan dalam spiritualitas yang menjiwai ordo kita. Tetapi jubah dapat saja tetap mengingatkan kita akan panggilan untuk “melakukan pertobatan” sebagai proses seumur hidup. Khususnya di daerah pesisir di mana udaranya panas sekali, perbuatan mengenakan jubah di siang hari memanglah perbuatan ulah tapa……

Berjubah pada waktu sembahyang bukan hanya soal decorum religiosum, tetapi (sebagaimana dikatakan Gardian Jan Sjerps) juga merupakan kesempatan untuk mengingatkan diri sendiri akan panggilan kita sebagai saudara dina. Bagi tubuh kita sama sekali tidak enak bila sudah merasa panas, lalu masih mengenakan jubah sehingga lebih panas lagi. Saudara Keledai tentunya membangkang, dan ia diteguhkan dalam penolakan itu oleh Saudara Akal Sehat yang menyatakan kita gila ketika menjelang Perayaan Ekaristi atau Ibadat Harian mengenakan jubah, padahal suhu udara 32 derajat Celsius dan hawa sangat lembab. Bapa Fransiskus sangat gila akan Tuhan. Biarlah kita agak gila sedikit. Wajar saja bila seorang anak menyerupai ibu atau bapaknya.

Setiap kali ganti pakaian preman dengan pakaian jubah, saya berkata kepada diriku: “Jangan lupa membuktikan pertobatanmu hari ini!” Betul, saya ini seorang pentobat asal Sentani.

Menjadi Bendahara KRP III

6 Feb

Didimus Kosi OFM

Keterlibatan saya menjadi bendahara Kongres Papua III merupakan suatu paksaan Saudara Selfius Bobi. Dengan terpaksa pula, saya memberitahukan hal ini kepada magister (Saudara Gonsa) bahwa saya terpilih menjadi bendahara dalam rangka Kongres Papua III namun tanpa adanya pertemuan dengan saya. Karena tanpa sepengetahuan saya, Magister mengatakan bahwa hal ini akan berbahaya bagi diri saya sendiri serta persaudaraan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Magister juga menyuruh saya meminta Saudara Selfius Bobi agar membuat surat pemberitahuan kepada Kustos agar persaudaraan tahu tentang situasi ini. Sdr.Selfius Bobii mengiyakannya dengan membuat surat kepada kustos tertanggal 25 September 2011 mengenai mengenai keterlibatan saya sebagai bendahara dalam KRP III. Isi suratnya menyatakan kesediaan saya (Frater Didimus) untuk menjadi panitia Kongres. Padahal hal ini tidak benar. Kustos sendiri menanggapi surat tersebut tertanggal 27 September 2011, yang isinya bahwa atas nama persaudaraan, Saudara Didimus Kosi diminta jangan terlibat dalam KRP II sebagai panitia karena Saudara Didimus adalah anggota Fransiskan bukan mahasiswa luar.

Demi ketaatan saya langsung menarik diri sebagai bendahara KRP III sejak bulan September dan sejak itu saya tidak aktif lagi mengikuti pertemuan-pertemuan dalam rangka KRP III. Namun karena meskipun saya tidak lagi terlibat, nama saya sudah terlanjur tersebar kemana-mana melalui media masa sebagai bendahara panitia KRP III. Magister meminta saya mencoretnya namun sangat sulit karena menurut Sdr.Selfius Bobii hal itu sudah terlambat.

Akibatnya, saya mendapat surat panggilan dari Polda Papua. Saya diminta menjadi saksi dalam insiden berdarah di lapangan Zakeus, tempat berlangsungnya KRP III. Saya menghadap ke kantor Polda 27 Oktober dengan Saudara Edy Rosaryanto serta dua pengacara dari Kontras, yaitu Saudari Olga Hamadi dan Saudara Ely. Saya mulai diperiksa pukul 9.15. Mereka terutama menanyakan keterlibatan saya sebagai bendahara dalam KRP III. Saya mengungkapkan betapa memang saya adalah bendahara KRP III, akan tetapi saya telah mengundurkan diri sebagai bendahara sejak bulan September karena persaudaraan saya tidak setuju saya terlibat dalam KRP III. Untuk memperkuat kesaksian itu, saya langsung memberikan surat bukti kepada polisi. Selain itu, polisi juga mengiterogasi saya tentang dua rekening dana dalam rangka KRP III di Bank Papua dan Bank Mandiri. Saya mengakuinya, namun ketika dicheck di kedua bank tersebut, tidak ada dana yang masuk meskipun menurut isu ada uang senilai tiga miliar rupiah yang terkumpul untuk pelaksanaan kegiatan KRP III tersebut.
Saya menjalani pemeriksaan ini selama dua hari, dari tanggal 27-29 Oktober 2011. Akan tetapi karena saya mempunyai bukti yang kuat berupa surat Kustos dan kas di kedua rekening bank yang kosong, maka status saya tidak ditingkatkan menjadi tersangka.

Atas peristiwa ini saya secara pribadi Meminta Maaf kepada persaudaraan fransiskan Duta Damai Papua. Tidak lupa saya juga berterimakasih atas perhatian yang ditunjukkan oleh persaudaraan. Saya menyadari bahwa sikap saya ini terlalu berlebihan sehingga mencoreng nama persaudaraan. Namun saya juga harus mengatakan dengan jujur bahwa saya tidak bisa menutup mata terhadap situasi penderitaan yang dialami oleh rakyat Papua. Bagi saya, perhatian terhadap mereka adalah bagian dari penderitaan Kristus yang Tersalib. Bapa Fransiskus dari Assisi juga sangat memperhatikan orang-orang yang menderita, teristimewa mereka yang tertindas dan diabaikan hak-haknya. Rakyat Papua juga adalah bagian dari Saudara Fransiskus yang perlu diperhatikan dengan sunguh-sungguh tanpa takut, karena kita dipanggil menderita bersama mereka. Kita semua dipanggil untuk itu dan butuh keberanian untuk menangung penderitaan mereka. “Mari kita mulai lagi karena kita belum buat apa-apa”.

ASISTENSI NATAL

6 Feb

Elias Hardiman OFM

Pengalaman natal tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Natal tahun ini merupakan kesempatan perdana bagi saya untuk berasisitensi. Saya berasisistensi di stasi Nuri, tepatnya di Ecko lima. Dalam perjalanan rasanya jauh, namun meyenangkan karena semua saudara muda yang berasistensi di paroki santa klara Taja-Lere memakai satu mobil sehingga di dalam mobil penuh dengan bercanda ria antara satu sama lain. Sampai di Juk semua saudara terpisah menuju tempat asistensi masing-masing. Namun ada beberapa saudara yang berasisitensi di stasi Nuri menunggu mobil hingga sore hari. Saya bersama saudara Tri (mahasiswa STPK) tiba di tempat asisitensi jam tujuh malam.

Sampai di tempat tersebut kami berdua langsung menuju rumah yang akan kami tinggal. Situasinya sangat ramah dan menyenangkan. Walaupun situasinya ramah dan menyenangkan namun ada satu hal yang membuat saya tidak enak yaitu ketidakcocokan antara sesama umat. Saya sebagai orang yang terpanggil merasa bahwa situasi ini tidak boleh ada karena itu perlu ada kedamaian antara satu sama lain dan sikap saling memaafkan sangat penting. Bagi saya ini merupakan suatu pengalaman yang berharga, sebab asisitensi perdana ini langsung berhadapan dengan situasi seperti ini sehingga dalam perjalanan selanjutnya tidak asing lagi bagi saya. Ada beberapa hal yang yang kurang menyenangkan dalam kehidupan masyarakat yaitu saling menceritrakan keburukan satu sama lain.

Hal seperti ini sebenarnya tidak boleh ada dalam kehidupan kita sebagai sama-sama orang yang percaya akan Yeusus Kirstus. Jika kita mengimani Yeusus Kristus namun dalam kehidupan setiap hari selalu ada percecokkan antara sesama itu berarti kita mengimani Kristus tersebut hanya sebagai sandiwara saja. Sebab jika kita betul-betul mengimani Kistus denga hati yang terbuka dan tulus maka pasti dalam kehidupan setiap hari selalu rukun dan damai.

Situasi masyarakat
Penduduk yang ada di Ecko lima berasal dari berbagai macam daerah. Ada yang dari Flores, Timor, Kei, Tanimbar dan orang asli Papua. Jumlah penduduk yang beragama katolik cukup banyak namun orang-orang yang datang beribadah di Gereja sangat sedikit. Yang paling disayangkan adalah orang yang malas ke gereja menonton orang yang pergi ke gereja. Situasi seperti ini mau menunjukan bahwa orang sudah tidak pusing lagi dengan agama. Yang mereka pentingkan adalah uang dan bebagai macam sarana duniawi lainnya.

Sebagai seorang calon pelayan gereja saya melihat bahwa situasi ini memberi tanda bahwa manusia zaman sekarang lebih suka hidup tanpa beragama ketimbang hidup beragama. Kalau menyadari bahwa agama merupakan sarana keselamatan tentu saja iman akan mendorong mereka untuk datang ke gereja dan berkomunikasi dengan Tuhan. Namun kesadaran bahwa gereja adalah sara keselamatan sepertinya hilang sebab yang namapak adalah sikap malas tau dan cuek. Selain itu juga relasi antara sesama masyarakat kurang harmonis sehingga dalam pergaulan setiap hari sangat tertutup dan kurang komuniktif.

Persolan-persoalan seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika dalam hidup kita bersama, tumbuh rasa cinta kasih dan kedamain dalam diri kita msing-masing. Pun sebaliknya jika dalam kehidupan kita sebagai manusia selalu ada kecurigaan yang kurang baik maka sampai kapan pun pasti selalu ada persoalan. Oleh sebab itu satu tugas yang harus saya jalankan dalam situasi seperti ini adalah berusaha mendamaikan mereka dan mampu merangkul mereka untuk lebih komunikatif dalam pergaulan setiap hari. Di samping itu juga memberi pengertian kepada mereka untuk tidak boleh menciptakan situasi yang tidak harmonis. Karena itu sebagai orang katolik yang telah dibaptis hendaknya harus mewujudnyatakan iman kita dalam kehidupakan kita setiap hari.

Ada banyak hal yang saya dapatkan pada asisitensi perdana ini. Dari pengalaman-pengalaman ini semua mau menuntut saya untuk lebih kuat dan lebih kritis dalam menjalankan hidup ini. Namun di tengah situasi yang berat tersebut saya selalu merenungkan bahwa Tuhan tidak akan pergi dari diri saya. Dia akan terus mendampingi perjalanan hidup saya dalam keadaan apapun bentukya. Kebaikannya selalu kurasakan dalam perjalanan hidup saya lebih khusus pada waktu asistensi natal ini. Kebaikan Tuhan itu saya rasakan lewat pelayanan dari umat yang begitu baik sehinga sebagai seorang calon imam saya juga belajar dari cara umat melayani saya.

Cara melayani orang dengan hati yang tulus dan terbuka merupakan suatu hal yang baik untuk saya kembangkan dalam hidup saya di hari-hari yang akan datang. Dari pengalaman-pengalaman nyata seperti ini meyadarkan saya bahwa kebikan Tuhan sunguh nyata dan meyenangkan. Walupun dalam melayani orang sangat baik namun masih ada hal lain yang kurang baik yang seringkali terjadi di tempat ini. Salah satu persoalan yang saya alami adalah umat sangat malas untuk datang ke gereja. Realitas seperti ini menjadi suatu pelajaran bagi saya bahwa sekarang umat lebih suka tinggal di rumah ketimbang pergi ke gereja untuk berdoa. Sikap umat seperti ini memberi tanda bahwa dalam perkembangan selanjutnya umat manusia lebih suka hidup dalam keenakan duniawi ketimbang berkorban untuk memuji dan memuliakan Allah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.