Retret Saudara Muda: Dipanggil Untuk Bertobat

14 Sep

Sentani, 26-31 Juli 2010

Sdr. Ambrosius Sala, OFM

Tema retret adalah “AKU DIPANGGIL UNTUK BERTOBA, PANGGILAN ADALAH PERTOBATANKU”. Retret ini diberikan oleh Bruder Markus OFM, sebagai semangat baru untuk kembali melihat sejauh mana kami memaknakan hidup panggilan yang berlandaskan pertobatan terus menerus sebagaimana semangat bapa Fransiskus sang pentobat ulung itu. Lebih dari itu hal yang ditekankan ialah bagaimana kami kembali melihat tentang penghayatan kami selama ini terkait dengan janji suci atau ikrar yang diucapkan ketika mengucapkan kaul yakni kaul KEMURNIAN, KETAATAN DAN KEMISKINAN.
Ketiga kaul ini setiap tahun diucapkan, dibaharui oleh setiap saudara baik yang sudah melakukan profesi meriah (kaul kekal) maupun yang masih mengucapkan kaul sementara. Kendati kaul ini terus diucapkan dari tahun ke tahun oleh setiap saudara tetapi tetap saja ternoda oleh ketidaksetian dari pribadi-pribadi dengan berbagai alasannya. Ada yang bobot hidup penghayatan akan kaul-kaulnya sangat berkembang baik dan ada yang menurun. Penyebabnya pun bermacam-macam sesuai dengan kadar penghayatan masing-masing akan ketiga kaul itu. Ada yang cukup berkembang di bagian kemurnian, ada yang berkembang di bagian ketaatan dan ada yang di bagian kemiskinan.
Ketiga kaul di atas, sebenarnya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Artinya bahwa dari masing-masing kaul itu akan dengan baik dihayati jika ketiganya dihayati seimbang, karena ketiganya saling mendukung untuk mewujudkan nilai-nilai hidup kerohanian yakni demi terwujudnya kerajaan surga di dunia. Lebih dari itu ialah bagaimana orang semakin dihantar pada kehidupan yang senantiasa dekat dan akrab dalam kasih karunia Allah semata. Orang hanya berpasrah kepada Allah saja sebagai pegangan hidup satu-satunya. Bukan kepada hal-hal yang duniawi sebagai pijakan hidup atau pada dunia egonya sendiri.
Mengapa hal itu diangkat atau disoroti? Alasannya tidak lain karena melihat perjalanan hidup panggilan, kecintaan akan panggilan, semangat pelayanan serta menurunnya penghayatan akan nilai dari kaul yang diucapkan. Setiap pribadi dihantar untuk semakin berkembang dalam penghayatan akan panggilannya sebagai fransiskan yang taat setia pada pilihan hidupnya.
Setiap pribadi diharapkan kembali menemukan Tuhan yang selama ini kurang atau jarang mendapat tempat di hati karena kesibukkan diciptakan sendiri. Saat inilah saat yang tepat untuk kembali bertanya sejauh mana saya merasa bahwa diri saya adalah orang kepunyaan Kristus. Maka saat inilah saat yang tepat untuk mencari dan menemukan Tuhan dalam doa, refleksi dan meditasi. Disamping itu juga melalui sikap keterbukaan diri untuk direhab dalam keheningan batin.
Dalam retret ini semua diajak untuk berjalan bersama Allah sendiri. Karena dengan berjalan bersama Allah sendri kita akan merasakan ketentraman, kenyamanan dalam kasih-Nya. Tetapi hal itu tidak serta merta kita peroleh tanpa melalui keterbukaan untuk senantiasa bertobat.
Br. Markus mengawali pembahasannya dengan mengajak kami untuk memahami bahwa “PANGGILAN MENGIKUTI YESUS ADALAH PANGGILAN PERTOBATAN. Ia mengajak semua peserta untuk kembali mengingat dan belajar dari pengalaman dasar pertobatan Fransiskus untuk menemukan Allah yang penuh kasih. Hal itu diangkat karena dasar penggilan untuk bertobat adalah Fransiskus sendiri. Karena dialah yang memulai awal pertobatan, melalui sikap penyerahan diri yang penuh kepada Tuhan yang memanggilnya untuk menjadi pentobat yang sadar bahwa hidup kita hanya tergantung pada Allah semata bukan atas kepandaian dan kecerdasan manusia yang serba terbatas ini.
Dikatakan juga bahwa bertobat itu berarti menyadari kesalahan dan keberdosaan kita. Dan dari kesadaran itu orang dihantar untuk mengubah cara hidup yang lama kepada cara hidup yang sesuai dengan tuntutan sabda Tuhan/injil Tuhan. Hal ini penting bagi setiap pribadi untuk untuk bertobat secara sadar. Karena dengan bertobat secara sadar menjadi semakin percaya pada Injil, meresapi dan menghidupinya dalam kata dan perbuatan. Melalui pertobatan terus menerus kita menciptakan dalam diri kemungkinan-kemungkinan baru untuk menata masa depan sehingga menjadi lebih baik dan terarah pada rahmat Allah sendiri. Dari pertobatan ini orang ditantang untuk mengenal dan mengetahui sejauh mana pengalaman-pengalaman itu bergemah bagi perkembangan hidup panggilan Tuhan secara radikal. Dan dari hal itu pula setiap kita diharapkan untuk mampu mensyukuri setiap rahmat yang dikaruniakan Tuhan.
Kaul ketaatan yang dimaksudkan ialah ketaatan sempurna yang terdapat dalam Petuah pasal III. Ketaatan inilah yang ditawarkan Fransiskus sendiri ketika ia masih hidup. Tema soal ketaatan bukan saja berlaku untuk pada zaman itu melainkan berlaku bagi setiap orang yang mau mengambil jalan hidup sebagaimana semangat Fransiskus sendiri.
Mengapa? Karena kaul ini membina rasa saling mendengarkan satu sama lain dengan penuh perhatian. Hal ini sangat penting dan berguna bagi setiap pribadi yang mau menjalani hidup sebagai biarawan. Ada delapan ciri ketaatan religius yang dewasa. Membedakan roh secara objektif dan terus menerus, kemampuan mendengarkan, memiliki sikap keterbukaan untuk berdialog, menghargai setiap pribadi, saling melengkapi dan memiliki pribadi yang matang secara psikologis.Tujuannya adalah agar setiap orang menyadari bahwa sangatlah penting membangun tanggung jawab bersama, pribadi yang senantiasa terarah pada kerajaan Allah sehingga orang hanya mengarahkan kemampuan memahami rencana Ilahi, peka terhadap sabda Allah.
Para saudara mengharapkan agar dalam kaul ketaatan, orang tidak hanya mengerti hanya sebatas pada taat karena asal bapak senang melainkan ketaatan itu mestinya dipraktekkan secara terbuka dan dari lubuk hati yang paling dalam. Penting juga bahwa bicara soal ketaatan tidak hanya berlaku bagi saudara yang kaul sementara tetapi ketaatan itu berlaku untuk semua saudara, entah tua atau muda tanpa terkecuali karena kita sama-sama mengikrarkan kaul itu.
Kaul kemurnian merupakan satu dari ketiga kaul yang gencar dibicarakan, digumuli oleh setiap kaum berjubah atau religius. Bicara soal kaul kemurnian dikatakan bahwa tidak hanya sebatas pada seks atau kebutuhan badani semata, melainkan mencakup keseluruhan jiwa dan raga manusia. Hal ini berkaitan dengan bagaimana menjaga hubungan murni kita dengan pribadi yang lain baik secara spiritual maupun secara rasional. Memang tidak dapat kita pungkiri soal seksualitas badani kerena kita ini manusia yang normal dan dikaruniakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan akan hal itu.
Poin penting yang diangkat dalam permenungan kali ini ialah soal bagaimana setiap orang menghayati kaul kemurnian itu sebagai bentuk cinta yang saling melengkapi kedua belah pihak sehingga keduanya tidak saling dirugikan. Dan setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang, untuk menerima dan diterima, mencintai dan dicintai, untuk mengenal dan dikenal dan seterusnya. Namun yang ditekankan juga ialah soal bagaimana masing-masing saudara menghayatinya, mempertimbangkan baik buruknya dan merenungkan hal itu sebagai wujud pemurnian panggilannya untuk mencintai Tuhan dengan sempurna dan total.
Bahwa kita manusia pasti memiliki keterbatasan dan itu pasti namun kita diajak untuk tetap percaya dan mesti
bangun kembali ketika kita jatuh. Kita diajak untuk tidak menyerah pada situasi diri yang rapuh melainkan tetap manaruh rasa percaya bahwa kita dicintai Tuhan dan sesama dan itu adalah rahmat terbesar dalam hidup kita masing-masing.
Kaul Kemiskinan, menurut Br. Markus sudah ada sejak dalam perjanjian lama. Kemiskinan yang dipahami dalam PL mengungkapkan bahwa orang yang mengalami
nasib miskin ialah orang berdosa dan terkutuk. Artinya bahwa mereka tidak diberkati. Konsep itu terus berkembang sampai pada zaman Yesus. Namun kemudian dalam perjanjian baru konsep kemiskinan itu dimengerti sebagai wujud integrasi hidup dalam Tuhan sebagai ungkapan kesadaran bahwa kita semua adalah miskin di hadapan Tuhan kerena semua yang ada pada kita saat ini ialah milik Tuhan.
Secara teologis, kemiskinan radikal ialah persembahan tubuh dan apa yang dimilikinya sebagai sarana hidup bakti di hadapan Allah di dunia: ikut bersolider dengan kemiskinan Kristus. Hal yang perlu diperhatikan soal kemiskinan ini bahwa kita mesti memahami bahwa penghayatan yang tepat mengenai kemiskinan mesti manyadari bahwa manusia sungguh benar membutuhkan benda, harta demi kelangsungan hidupnya tetapi tetap memperhatikan kewajarannya, karena harta benda bukan sebagai tujuan tetapi sebagai sarana saja.
Keseluruhan retret ini ditutup dengan ibadat penutupan retret, yang dilakukan dalam bentuk sharing dan doa secara pribadi dengan membawa lambang diri masing-masing. Ada yang membawa rokok, gitar, tempat sampah, bunga dan sebagainya. Dari lambang-lambang itu masing-masing saudara mengungkapkannya dalam doa di kapel dengan ujudnya sendiri untuk semakin berkembang dalam penghayatan akan panggilan Tuhan dalam konteks semangat fransiskan. Akhirnya setelah doa kami semua diminta untuk berdiri berhadapan dengan saudara lain berdua-dua dan ada yang bertiga sambil memegang pundak satu sama lain dan mendoakan saudara yang di hadapannya sesuai denggan intensi yang diminta. Setelah itu kami saling bersalam-salaman menunjukkan bahwa ret-ret telah selesai. Acara retret ini ditutup dengan misa sekaligus pembaharuan kaul untuk beberapa saudara, kemudian makan bersama. Wah wah wah wah wah………..***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: