Antara Rokok, HP dan Panggilan

8 Nov

Sdr. Sandro Rangga, OFM

Tatkala mengikuti pertemuan para mitra Caritas Australia di Jakarta, saya mempunyai waktu luang sekitar satu setengah hari untuk menginap di komunitas OFM Provinsi. Malam pertama saya menginap di Biara Fransiskus Kramat, sedangkan malam kedua saya menginap di Biara Antonius Padua, Kampung Ambon.
Ingatan saya mencatat beberapa hal yang menarik. Pertama cerita tentang seorang saudara yang keluar dari persaudaraan karena tidak tahan untuk merokok. Berdasarkan keputusan Kapitel Provinsi St.Mikhael Indonesia, para saudara dilarang(?) merokok. Seorang saudara, yang kebetulan saat itu novis, mencoba berjuang selama 3 bulan untuk tidak merokok. Namun pada akhirnya ia menyerah dan mengundurkan diri. Berhadapan dengan situasi ini, Minister Provinsi, Sdr. Adrianus Sunarko, OFM berkata bahwa betapa karena kecanduan pada nikotin (rokok) membuat orang rela meninggalkan panggilannya. Rupanya cinta akan rokok lebih besar daripada cinta akan panggilannya sendiri.

Bertolak dari pengalaman ini, saya teringat kembali akan kisah kita sendiri di Kustodi. Beberapa waktu yang lalu, kita (para saudara muda) sempat bertukar pikiran dengan para pelayan persaudaraan tentang pemakaian HP oleh para saudara muda. Keputusan akhir ialah hp boleh dipakai dengan beberapa ketentuan.
Tidak dapat dipungkiri persoalan kecil ini sedikit menantang komitmen dan mempertanyakan seberapa besar persentase cinta kita; akan panggilan di satu sisi dan akan sarana-prasana di sisi lain. Kegelisahan yang terus-menerus akan persoalan ini adalah tanda baik bahwa saya dan para Saudara memikirkan (dan karenanya merefleksikan) panggilan kita sebagai fransikan.

Kedua, ketekunan para saudara muda St.Mikhael akan hidup fransiskan. Dalam doa, misalnya, setiap pagi mereka selalu memakai jubah. Saya juga sempat mengikuti, baik ibadat pagi maupun misa, dalam bahasa Inggris. Sepintas, terasa bahasa Inggris mereka ‘enak’. Saya tidak hendak bilang bahasa Inggris itu segalanya tapi rupanya memang bahasa yang satu ini penting untuk didalami. Melihat mereka semuanya memakai jubah, saya agak malu karena saya termasuk orang yang paling malas memakai jubah (sepertinya Sdr.Edy Rosaryanto dan Modest Teniwut punya kecenderungan yang sama hehehehehehe. Ini pengakuan sendiri ni!! Menurut pengamatan saya, hasil keputusan statuta kustodi bahwa jika tidak memakai jubah, sekurang-kurangnya memakai Tau, dimanfaatkan betul oleh para saudara). Untuk hal ini, saya perlu belajar banyak pada Tete Jan Sjerps, OFM yang cukup setia memakai jubah setidaknya setiap kali ibadat pagi dan sore. Ini bukan ukuran kedalaman hidup sebagai fransiskan, saya hanya mengajak diri saya sendiri dan para saudara lebih rajin mencuci jubah.

Demikian dua hal menarik yang dapat saya sharingkan. Hal yang sangat sederhana namun begitu mendekam dalam ingatan saya. Rokok yang begitu digemari hampir sebagain besar fransiskan duta damai tentu jengah mengepulkan asapnya hingga ke level kapitel. Hp yang deringnya sering mendapat respon yang mengagumkan dari seluruh indera di tubuh kita pun kayaknya masih terus berdering di kalangan saudara muda. Sampai kapan, bukanlah masalah. Menjadi masalah ketika kepulan asap memudarkan panggilan dan dering Hp menutupi panggilan dari dalam hati: Mari Ikutlah AKU…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: