Hidup Secara Menyenangkan Kaidah Kencana versus Al-Quaeda

22 Feb

Sdr. Nico Syukur Dister, OFM

Pada awal tahun ini Sdr. Sandro Rangga sebagai pemimpin redaksi majalah kustodi “Duta Damai” sempat mohon maaf karena pada bulan Januari Duta Damai terlambat terbit. Biasanya orang minta maaf atas kesalahan yang dibuatnya sendiri. Minta maaf atas kesalahan orang lain itu bisa dilakukan oleh –misalnya- orangtua yang bertanggungjawab atas perbuatan anaknya yang telah merugikan orang lain. Tetapi sang redaktur minta maaf atas kesalahan orang lain yang bukan anaknya sendiri melainkan sesama anggota kustodi. Pasalnya majalah Duta Damai terlambat terbit karena “tidak adanya tulisan yang masuk” ke meja redaksi. Maka Redaktur Rangga mengajak para anggota Kustodi untuk memasukkan karangan “agar Duta Damai sungguh menjadi media komunikasi kita bersama”, demikian kata Sdr. Sandro dalam suratnya kepada pembaca pada akhir rubrik “Dari Meja Redaksi” pada hlm. 2 dalam edisi bulan Januari 2011.

Bahwa betul-betul paceklik, bahwa sungguh-sungguh masa kekurangan tulisan, bahwa benar-benar masa sepi sejauh menyangkut tulis-menulis, hal itu terlihat dari suatu fenomena langka yang terdapat dalam edisi ini yaitu rubrik “Dari Meja Redaksi” hadir dua kali, yakni selain pada hlm. 2, juga pada hlm. 38-39. Bukan dua kali surat yang sama, tapi dua kali surat berbeda tentang pokok yang sama. Pada halaman yang hampir terakhir, redaksi mengangkat kembali masalah paceklik itu. Kali kedua itu himbauannya disertai dengan sedikit curhat…….

Karena tergugah hatiku oleh tercurah hatinya, maka bersama ini saya menyampaikan saja sebuah tulisan berupa perbandingan antara Osama bin Laden cum suis di satu pihak dengan –di lain pihak- pengarang kitab Tobit, dua penginjil sinoptik, Matius dan Lukas, serta semua orang yang –seperti pembaca Duta Damai yang budiman- berada dalam tradisi Yahudi-Kristiani.

Kaidah Kencana
Osama bin Laden terkenal karena organisasinya yang bernama Al-Quaeda. Nama itu semakin terdengar sejak peristiwa Nine-Eleven, yaitu penghancuran Twin Towers di New York pada bulan sembilan, tanggal sebelas, tahun 2001, oleh dua pesawat yang disewa teroris bunuh-diri dan dengan sengaja ditabrakkan kepada masing-masing Menara Kembar. Tabrakan ngeri yang membuat kedua menara terbakar dan runtuh total, mengakibatkan ribuan orang tewas. Waktu itu para korban berada di dalam, di sekitar dan di bawah World Trade Centre, entah sebagai pegawai WTC sendiri, entah sebagai teknisi yang didatangkan dalam rangka pemeliharaan gedung, entah sebagai pedagang yang berada di sana dalam rangka niaga mereka. Gambar-gambar peristiwa yang disiarkan oleh TV ke seluruh dunia, tertera dalam-dalam di selapuk jalaku untuk selama-lamanya.

Sejak kejadian yang amat mengejutkan itu, nama Al-Quaeda sering disebut-sebut sebagai organisasi yang terlibat dalam terorisme. Setelah Osama, pemimpin organisasi ini, diusir dari Arab-Saudi, Al-Quaeda bermarkas di Afghanistan. Peristiwa Sebelas September 2001 itulah yang menjadi alasan bagi Presiden George W. Bush untuk menyerukan perang melawan terorisme. Saya masih melihat roman muka keras Presiden Amerika Serikat itu ketika berpidato. Pidatonya disiarkan dalam acara TV “Dunia Dalam Berita”. Saya juga masih mendengar kalimatnya yang menyimpulkan seluruh tanggapannya atas peristiwa yang tak terbayangkan namun nyata-nyata terjadi yaitu: “It’s war!”

Isi “kaidah” Osama bin Laden itu bunyi rumusannya bagaimana? Saya tidak tahu. Tetapi jelaslah bahwa kaidah itu membuat banyak orang takut. Lain sekali “kaidah kencana” yang terdapat dalam Al-Kitab, baik dalam Perjanjian Pertama maupun dalam Perjanjian Kedua.

Mengenai peranan kaidah kencana dalam Perjanjian Lama dan dalam agama Yahudi, sebuah cerita tentang Rabbi Hillel cukup relevan. Rabbi itu termasuk ahli Taurat paling terkenal di zaman Yesus. Pada suatu hari Hillel didatangi seseorang yang berkata: “Saya tertarik kepada agamamu. Sebenarnya saya ingin masuk agama Yahudi. Tetapi ada syaratnya. Saya tidak ada waktu untuk mendengar pada uraian panjang lebar. Karena itu, sambil anda terus berdiri pada satu kaki saja, tolong jelaskan kepada saya apa yang paling penting dalam agama Yahudi. Maka Hillel berdiri pada satu kaki saja dan berkata: “Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun.”

Kalimat yang dipakai Hillel untuk menyatakan apa yang paling penting dalam agama Yahudi itu dikenal dalam teologi moral atau etika kristiani dengan sebutan “kaidah kencana”, “pedoman keemasan”, “the golden rule”. Kaidah ini terdapat dalam kitab Tobit dengan rumus yang persis sama dengan rumusan rabbi Hillel: “Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun” (Tob 4:15). Menurut filsuf termasyhur, Immanuel Kant, kaidah ini merupakan hukum moral yang paling mendasar. Kant menyebutnya “imperatif kategoris”, artinya perintah yang mutlak perlu kita taati agar kelakuan kita sesuai dengan norma-norma moral.

Cita-cita kelakuan yang dalam kitab Tobit dirumuskan secara negatif ini diungkapkan dengan rumus positif dalam injil sinoptik. Bunyinya dalam injil Matius yaitu “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12) dan rumus injil Lukas berbunyi: “Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Luk 6:31). Matius menekankan perbuatan itu sendiri, yakni perbuatan baik dan menyenangkan yang dilakukan orang lain kepada kita. Perbuatan itulah yang harus kita lakukan terhadap orang lain pula. Tetapi dalam versi yang dipakai St. Lukas, fokus perhatian terletak pada cara berbuat. Cara baik dan menyenangkan yang kita harapkan akan dipakai orang lain dalam berbuat kepada kita -, dengan cara itu juga kita harus berbuat kepada mereka.

Amat berbeda-bedalah kaidah yang dipegang oleh Osama bin Laden beserta para pengikutnya di satu pihak dan kaidah yang dipegang oleh Yesus Kristus dan murid-murid-Nya di lain pihak. Memang, saya tidak tahu persis bagaimana bunyinya kaidah Osama secara harfiah, tidak tahu bagaimana ia merumuskan pedoman hidupnya. Kita hanya tahu bahwa Osama dan kawan-kawan mempunyai pedoman bagi tindakan-tindakan mereka, sebab “Al Kaidah” berarti “Pedoman itu”. Nah, yang tak dapat disangkal yaitu dengan berpegang pada pedoman mereka, Osama dan antek-anteknya membuat banyak orang menjadi takut. Maka lain sekali halnya orang-orang yang berpegang pada kaidah Yahudi-Kristiani tadi, termasuk kita sendiri. Dengan berpegang pada kaidah kencana itu kita justru membuat semua orang menjadi senang. Dalam injil Matius, setelah mengemukakan kaidah itu, Yesus menegaskan pentingnya pedoman keemasan ini dengan bersabda: “Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 7:12b). Dengan demikian Yesus memandang kaidah kencana dan hukum kasih sebagai patokan yang satu dan sama, sebab tentang hukum yang terutama –kasih kepada Allah dan manusia- berlaku juga bahwa pada hukum itu “tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40). Ternyata Yesus dan Hillel, Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, sehaluan sejauh menyangkut perilaku insani yang bermoral, kelakuan yang berperikemanusiaan.

Pentingnya pedoman keemasan ini sebagai patokan kelakuan manusia betul-betul disadari Gereja. Buktinya yaitu pernyataan kitab Tobit tadi dipakai dalam Ibadat Harian untuk mengawali bacaan singkat dalam Ibadat Pagi pada hari Rabu dalam Pekan I dari Lingkungan Empat Pekan:

Apa yang tidak kausukai sendiri, jangan kauperbuat pada orang lain, Bagilah rezekimu dengan orang miskin dan papa dan berikanlah pakaianmu kepada yang tidak punya. Mintalah selalu nasihat kepada orang yang bijaksana. Pujilah Allah setiap waktu dan berdoalah kepada-Nya, supaya Ia membimbing jalanmu dan merestui segala rencanamu (lih. Tob 4:15-20).

Kalimat pembuka bacaan singkat ini menetapkan pedoman kelakuan orang beriman. Kemudian dalam kalimat-kalimat berikutnya bacaan singkat menguraikan lebih lanjut program itu dan mengemukakan contoh-contoh konkrit, yakni berbagi-bagi pangan dan sandang, meminta nasihat kepada orang yang diyakini sebagai orang bijak dan memuji Tuhan serta berdoa kepada-Nya.

“Bahagia Tigabelas”
Contoh-contoh tentang penerapan kaidah kencana itu mau saya lanjutkan sebentar di bawah ini dengan 13 contoh lagi. Tentu bisa juga lebih banyak, tetapi angka 13 saya pilih sebagai angka simbolis, mengingat takhyul orang-orang tertentu yang mengira bahwa angka 13 membawa celaka. Takhayul itu tersebar begitu luas sehingga di pesawat terbang tidak ada kursi yang bernomor 13. Kursi no. 12 langsung disusul oleh kursi no. 14, dan dalam program Windows di komputer, kita tidak bisa memilih ukuran huruf no. 13, karena ukuran itu tidak ada; Windows pun melompat dari ukuran 12 ke 14……. Sebagai orang beriman kepada Yesus sang Kristus, saya tidak mau terjerat dalam takhayul semacam itu dan menggantikan ”celaka tigabelas” dengan “bahagia tigabelas” untuk menerapkan kaidah kencana pada sikon harian kita:

1. Kalau membuka, tutuplah kembali (kran, pintu, gembok dll.)
2. Kalau menghidupkan, matikan lagi (radio/TV, lampu dll.)
3. Kalau memasang di papan pengumuman, ambillah kembali (bila sudah kedaluwarsa)
4. Kalau mematahkan, beritahukan dan usahakanlah perbaikan (tangkai sapu, skop dll.)
5. Kalau sendiri tidak bisa membereskan, carilah orang yang bisa (alat-alat canggih)
6. Kalau memakai, peliharalah baik-baik (sepeda motor/mobil, perkakas rumah, dll)
7. Kalau meminjam, kembalikanlah juga (selain uang, barang apa pun juga)
8. Kalau membuat kotor, bersihkanlah (kamar, piring, gelas, sprei, selimut, dll)
9. Kalau memindahkan, kembalikan ke tempat semula (meubel, kranjang sampah, dll)
10. Kalau ingin mempergunakan milik orang, mintalah izin kpd ybs (kendaraan, alat dll)
11. Kalau tak tahu cara mengoperasikannya, jangan menyentuhnya (alat teknik, dll)
12. Kalau bukan urusanmu, jangan campur tangan (silakan renungkan contohnya)
13. Kalau petugas berhalangan, gantikan dia dan bersiaplah dituduh campur tangan (!!!).

Pembaca dipersilakan meneruskan aplikasi kaidah kencana ini sesuai dengan situasi dan kondisi pribadi. Saya sendiri -misalnya- suka menambahkan prinsip ini: “Kalau dapat dilakukan sekarang, jangan tunda sampai nanti”, karena makin tua makin pelupalah saya. Dengan menunda sesuatu, ada bahaya bahwa yang ditunda itu berubah statusnya dari delayed (tertunda) menjadi cancelled (batal).

Tapi sekaligus saya punya prinsip lain yang rupa-rupanya bertentangan dengan yang tadi, tapi sebenarnya tidak. Antara kedua prinsip yang mau saya pegang itu, hanya terdapat ketegangan saja, bukan pertentangan. Saya memandang kedua prinsip itu sebagai saling melengkapi. Prinsip lain itu, prinsip yang kedua, pernah saya dengar dari seorang biarawati pada tahun 1969 di kampong Albersloh, dekat kota Münster (Westfalen, Jerman Barat). Waktu itu saya belajar di unversitas kota itu, dan diizinkan oleh uskup keuskupan Münster untuk tinggal di pastoran paroki St. Ludgerus, Albersloh, sebagai seorang pastor “Subsidiar”. Dengan sebutan itu di Jerman dimaksudkan seorang imam yang bukan pastor pembantu atau kapelan (atau –menurut peristilahan yang sekarang dipakai- “pastor rekan”) namun saya toh tinggal juga di pastoran bersama pastor paroki sambil hanya berpartisipasi dalam reksa pastoral pada hari Minggu saja (selain mempersembahkan Misa harian di gereja paroki). Pada hari-hari lain, Senin s/d Jum’at, saya dimungkinkan belajar sebagai mahasiswa full time, purna waktu. Kembali kepada prinsip kedua itu. Dalam bahasa Jerman, rumusannya bersajak:

“Schaffe ruhig und gediegen, “Kerjakan dengan tenang lagi saksama,
Was nicht fertig ist, bleibt liegen. Yang tidak selesai, biar tinggal saja.
Halte deine Ruhe heilig! Jangan ganggu-gugat ketenanganmu!
Nur Verrückten haben’s eilig. Orang gila saja yang kerja terburu-buru.

Begitulah beberapa prinsip kecil-kecilan yang bersifat menyenangkan. Berpegang padanya membuat orang lain senang. Tapi prinsip-prinsip itu menyenangkan juga bagi diri sendiri. Maka dengan segenap hati dapat kita bernyanyi:

“Di Abe senang,
di Bade senang,
di mana-mana hatiku senang.

di Asmat, di –pura (Jaya- maupun Ma-jaya)
di Moa-, } senang, di Plomo } senang
di Sempan di Waena

di mana-mana hatiku senang, tralalalalalalalala…………….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: