Kisah Ketiga Sahabat Bade

22 Feb

Sdr. Broery Renyaan OFM

Setahun yang lalu, saya membaptis 98 anak dari sebuah stasi di ujung Kali Bamgi. Ada yang “aneh” dalam daftar nama yang diberikan dewan stasi kepada saya. Seorang anak yang akan dibaptis diberi nama oleh orang tuanya: Wiro Sableng. Spontan, saya berkata; “nama ini perlu diganti! Tidak ada Santo Wiro Sableng dan tidak pernah akan ada nama Santo Sableng.” Ketua stasi berkata; “mengapa diakon?” “Bapak tahu arti Sableng?” Tanya saya. Ketua Stasi berkata; ”diakon, tunggu dulu, saya perlu bertanya kepada orang tuanya.” Beberapa saat kemudian orang tua anak itu datang dan berkata; “diakon, itu nama yang saya pilih.” Saya bertanya lagi, “apakah bapak tahu arti nama Sableng?” “Dia pendekar to?” Jawab bapa itu. “Ya, tapi Sableng itu artinya gila, sinting, otak tidak beres,” kata saya. “Ohhh… ,” kata bapak itu. “Kalau begitu diakon ganti sudah,” lanjutnya. “Ya, namanya Stefanus. Sesuai dengan pesta hari ini, Stefanus Martir Pertama,” kata saya dengan tegas.

Nama adalah tanda. Setiap nama memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari setiap identitas dan setiap tindakan. Setiap nama menegaskan setiap misi (perutusan) dalam hidup. Telah enam tahun lebih Saudara–Saudara Dina hadir di tanah Auyu, dan telah sekian tahun pula, biara atau komunitas yang ditempati tidak memiliki nama seperti biasanya dalam komunitas kita. Mungkin pada awalnya diberi nama komunitas St. Antonius Padua sebagaimana nama pelindung Paroki. Dalam perjalanan waktu, kami bertiga (Sdr. Satur, Klemens, dan Broery) merasa perlu komunitas memiliki nama sendiri. Maka dalam rapat rumah bulan Januari, kami mengusulkan beberapa nama; San Damiano, Bonaventura, Antonius Padua, Lembah Spoleto (sekalipun komunitas ini di atas bukit) dan kisah ketiga sahabat. Nama-nama ini kemudian kami sampaikan kepada Gardian Sentani dan Kustos untuk memutuskan mana yang cocok dengan komunitas kami. Empat hari kemuidan melalaui SMS, Gardian Sentani menyampaikan bahwa nama yang dipilih oleh saudara-saudara Komunitas St. Antonius Sentani adalah Kisah Ketiga Sahabat. Dengan alasan bahwa selama ini, saudara-saudara yang diutus ke Bade selalu bertiga-tiga. Lalu saya membalas SMS dengan mengatakan terima kasih, harapan kami semoga nama ini tidak berarti bahwa untuk seterusnya komunitas ini hanya beranggotakan tiga orang saudara. Dengan singkat, Gardian menjawab; bagi Allah tidak ada yang mustahil!

Pada tanggal 24 Januari 2011, Kustos mengadakan visitasi ke komunitas Bade. Rabu, tanggal 26 Januari, pada Peringatan St. Timoteus dan Titus, bertepatan dengan misa bersama komunitas OFM, PBHK dan Petugas Gereja, Kustos meresmikan nama komunitas ini. Dalam pengantar misa, Kustos mengatakan bahwa pada hari ini komunitas OFM telah diberi nama yakni Komunitas “Kisah Ketiga Sahabat.” Nama ketiga sahabat Fransiskus ialah Anggelo, Rufino dan Leo yang bercerita tentang Fransiskus dalam tulisan mereka. Kisah Ketiga Sahabat ini sendiri, juga merupakan salah satu sumber utama dalam mengenal siapa Fransiskus. Kisah Ketiga Sahabat, merupakan nama yang cocok pula dengan situasi di Bade. Wilayah pelayanan Paroki meliputi tiga wilayah besar yang dilayani oleh dua Saudara fransiskan dan seorang Petugas Gereja (Bpk. Niko Kambirop). Ada tiga saudara di komunitas OFM dan tiga saudari di komunitas PBHK. Akhirnya, menutup pengantarnya, Kustos menghimbau agar sebagaimana Paulus, Timoteus dan Titus memiliki kisahnya sendiri dalam mewartakan kerajaan Allah, Anggelo, Rufino, dan Leo mempunyai kisah tentang Fransiskus, demikian juga kita semua memiliki kisah masing-masing akan Yesus. Secara khusus ketiga saudara fransiskan juga mempunyai kisah kesaksian hidup tentang Yesus Kristus dan Bapa Fransiskus. Maka dalam kelemahan dan kerapuan kita, hendaknya kita saling melengkapi, menguatkan dan meneguhkan satu sama lain sehingga kehadiran kita menjadi kisah bagi umat yang kita layani di tanah Auyu ini. Setelah perayaan ekaristi, kami melanjutkannya dengan makan malam dan rekreasi bersama.

Nama adalah pertanda, nama adalah tanda. Mengetahui nama, sekaligus juga mengetahui diri seseorang, kelompok, suku, dan bangsa. Setiap nama membawa pengertian akan dirinya. Kami harus mengetahui diri dan misi kami sesuai nama itu. Kami diutus membawa misi Persaudaraan di tanah Auyu ini………..salam dari kami bertiga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: