Bakoel Koffie

18 May

Edy Rosariyanto, OFM

Menikmati secangkir kopi ditambah sesendok gula merupakan ibadah rutinku selain ibadah pagi & sore sebagai biarawan Fransiskan di Sentani, Papua. Namun menikmati kopi pahit sambil mendengarkan pembicaraan penting di Indonesia, seperti persoalan Ahmadiah, merupakan pengalaman yang berbeda di Jakarta. Hal itulah yang kualami setelah makan siang di Bakoel koffie.

Kepergianku ke Bakoel Koffie sebelumnya direncanakan untuk semua peserta training jurnalis investigasi yang terdiri dari teman-teman Papua-Kalimantan ditambah sisipan dari Medan, namun akhirnya panitia yang diwakili oleh Pater Amo memutuskan hanya tiga wakil untuk mengikuti kegiatan jumpa pers di Bakoel Koffie. Alasannya, teman-teman peserta yang lain khususnya yang berasal dari Papua tidak boleh hadir.
“Ada banyak intel dalam pertemuan tersebut,” tegas Andreas Harsono.
Tentu orang Papua yang dimaksud adalah yang berambut keriting, bukan aku yang lahir, besar dan segala-galanya di Papua.
“Mengapa orang Papua tidak boleh ikut pertemuan tersebut?”
“Apakah kehadiran orang Papua membuat tujuan pertemuan tidak tercapai?”
Itulah pertanyaan yang timbul di kepalaku selanjutnya. Ah, entahlah apa jawabannya terhadap soal itu tapi aku dan kedua teman diminta mengikuti pertemuan di Bakoel Koffie. Tujuan ke tempat ini, menurutku, ada dua yaitu mendengarkan cara orang bertanya dan mendeskripsi suasana.

Terkait dengan cara orang bertanya, sebelum menuju ke Bakoel koffie, Andreas mengajarkan supaya kita -peserta training jurnalis- memperhatikan kaidah 5W1H (what, where, who, why, when dan how). Selain itu, pertanyaan jangan sampai melebihi enam belas suku kata. Itulah ciri-ciri pertanyaan yang baik. Selain memperhatikan pertanyaan, perlu juga mendeskripsi suasana pertemuan. Jadi bisa suasana dari sisi si objek yang sedang berbicara maupun suasana sekelilingnya yang kutangkap.

Usaha pertama yang aku lakukan adalah mendeskripsi suasana. Pertama-tama aku perhatikan berapa jumlah orang yang menjadi nara sumber dan berapa peserta. Menghitung jumlah nara sumber relatif mudah karena mereka duduk di tempat khusus dan menghadap ke kami (peserta). Lalu aku coba menghitung jumlah peserta di luar nara sumber. Peserta diluar nara sumber duduk di sekitar pembicara, di depan, di kiri dan kanan. Selain jumlah, yang kuperhatikan adalah jenis kelamin mereka. Kalau boleh menyimpulkan dalam pertemuan kemarin, narasumber terdiri dari empat laki-laki dan empat perempuan.

Wow, ini perbandingan yang saya suka; perempuan juga terlibat untuk ambil bagian dalam pembicaraan menyangkut persoalan bangsa ini. Jujur, aku jarang melihat perempuan diberi ruang yang cukup untuk mengambil peran. Di Papua, kaum laki-laki masih dominan dalam membicarakan persoalan di sekitar mereka.
“Mungkin karena budaya,” alasanku. Tapi jujur, aku tidak banyak tahu alasan kurangnya keterlibatan perempuan dalam pembangunan di Papua. Kekurangterlibatan perempuan inilah yang membuat SKPKC, pada tahun ini membuat satu program untuk kelompok perempuan di daerah perbatasan RI-PNG sehingga mereka diharapkan mau menyuarakan persoalannya.
“Ah sudahlah jangan terus mikirin orang di Papua di Bakoel Koffie, sekarang beri perhatian ke pers konferens,” umpatku.

Tokoh utama dalam pertemuan di Bakoel Koffie adalah Saman Zarifi. Dia Direktur Amnesti International untuk Asia Pasifik. Amnesti International bersama dengan teman-teman LSM di Jakarta seperti Imparsial, Kontras, Setara, merasa prihatin dengan situasi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Mereka menyerukan supaya Pemerintah Indonesia menghargai hak-hak dasar setiap warga termasuk kelompok minoritas Ahmadiah yang akhir-akhir ini semakin terancam oleh kelompok mayoritas muslim.
“Kelompok minoritas seperti Ahmadiah bukan hanya terancam karena kelompok mayoritas tapi juga pemerintah yang melakukan pembiaran,” ungkap salah seorang nara sumber yang kulupa namanya.
“Pemerintah Indonesia sedang melakukan pembunuhan secara perlahan-lahan kepada kelompok minoritas,” tegas Goran, wakil dari Setara Institute.
Sedangkan Poengky Indarti, Direktur Imparsial menyebutkan,“Indonesia gagal menjaga kebhinekaan.”
Ketika mendengar pernyataan demi pernyataan dari nara sumber, hati saya sangat terenyuh karena teringat saudara-saudaraku di Papua. “Bicara minoritas bukan hanya untuk kelompok beragama, tapi juga untuk suku bangsa,” pikirku. Salah satu yang merupakan minoritas di Indonesia adalah bangsa Papua yang populasinya sekarang dibanding pendatang telah mencapai 1:1 dari total jumlah penduduk Papua sekitar 2,3 juta jiwa. Menurut hasil analisa dalam Konferensi Kebudayaan Internasional di Jayapura tahun lalu, pupolasi penduduk Papua dibanding pendatang pada 2025 adalah 1:3.
“Kok kembali mikirin Papua,” bisikku.
“Fokus bung, fokus dalam kerja,” sela saudaraku di kantor seandainya melihat aku tidak serius.
Selepas pernyataan-pernyataan para narasumber, para peserta undangan, yang kebanyakan wartawan yang berasal dari dalam dan luar negri, diberi kesempatan untuk bertanya. Pertanyaan yang disampaikan bila dalam bahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Begitu juga jawabannya.
Saya memperhatikan pertanyaan mereka sambil menghitung jumlah suku kata dalam pertanyaan tersebut. Akhirnya saya sepakat dengan pernyataan Andreas bahwa membuat pertanyaan yang baik bukanlah hal yang mudah. Pernyataan tersebut terbukti karena banyak pertanyaan dibuat dalam kalimat yang panjang dengan jumlah suku kata lebih dari enam belas.
Terlepas dari itu semua yang terjadi di hari pertama training, menulis bagi saya tetap merupakan hal yang tidak mudah. Alasan itulah yang mungkin ditangkap oleh teman-teman di KKP MP KWI sehingga mereka mendorong dilakukannya training jurnalis investigasi.
“Semoga kegiatan training ini membawa manfaat untuk kami,” bisikku sambil menikmati sisa kopi pahit nan hitam, pekat di Bakoel Koffie, Jakarta.

Jakarta, 9 April 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: