PENGINJILAN FRANSISKAN DI TANAH PAPUA: Antara Harapan dan Kenyataan

18 May

Paul Tumayang OFM

A.Prolog
Setelah membaca majalah Duta Damai Edisi Februari 2011, khususnya artikel dengan judul: “Menuju Kapitel 2011”, Panitia sidang kapitel kustodi melaporkan bahwa setelah mempertimbangkan sejumlah hal maka panitia mengusulkan tema sidang: “PENGINJILAN FRANSISKAN DI TANAH PAPUA”. Spontan muncul reaksi ini: apakah tema ini, sebuah “CITA-CITA/HARAPAN atau sebuah KENYATAAN/REALITAS” yang sudah terjadi dan karena itu diangkat sebagai tema umum Sidang Kustodi bulan September yang akan datang, dan yang akan menjadi arah perjalanan Persaudaraan tiga tahun ke depan (2011 – 2014)?
Selama beberapa hari tema itu membuat kami penasaran. Kami penasaran karena melihat ada “kesenjangan” atau “jarak” antara tema yang diusulkan dan sejauh dengan realitas yang ada, secara khusus realitas lapangan.
Setelah bermenung-menung di kesunyian malam “Bukit Sion” Supula (nama gunung di Pikhe yang berhadapan langsung dengan pastoran ), maka kami mencoba menuangkan rasa penasaran melalui media komunikasi Persaudaraan ini dan membagikannya kepada semua Saudara, dengan satu harapan semoga bisa menjadi sebuah masukan untuk dipikirkan bersama. Sekiranya dianggap layak, dapat pula menjadi bagian dari pergumulan bersama dalam kapitel nanti.

B. Penginjilan Fransiskan di Tanah Papua
Menurut panitia Sidang Kustodi 2011, “penginjilan Fransiskan di Tanah Papua” merupakan kristalisasi beberapa pokok. Penginjilan lahir dari jati diri Fransiskan dan sekaligus merupakan tindakan kesaksian fundamental Fransiskan. Disebut “lahir dari jati diri Fransiskan” karena jati diri Fransiskan pertama-tama terbentuk dari Injil dan ia pada gilirannya menopang aktifitas penginjilan. Selain itu, penginjilan disebut juga sebagai kesaksian fundamental Fransiskan karena Injil yang telah diterima persaudara-an itu harus – suatu keharusan yang lahir dari hakikat Injil sebagai anugerah – dibagikan kepada yang lain.

Sebagai seorang Saudara Dina yang saat ini sedang menjalankan tugas perutusan persaudaraan di Lembah Balim; dengan tugas utama sebagai pastor paroki, kami pada prinsipnya setuju dengan usulan tema dari panitia sidang Kustodi bulan September 2011 ini. Meskipun, toh kami harus mengatakan bahwa kami termasuk dalam suara mayoritas yang menginginkan agar kapitel kustodi bulan September 2011, tetap meneruskan pembangunan mutu hidup persaudaraan – pembangunan mutu hidup gardianat/komunitas.
Alasan kami bergabung dengan suara mayoritas sangat sederhana: “Fransiskan selalu berbasis pada persaudaraan; karena itu mutu hidup persaudaraan – dalam hal ini gardianat/komunitas – menjadi faktor penentu bagi setiap saudara dalam menjalankan tugas/karya secara bertanggungjawab. Berbasis pada persaudaraan yang saya mengerti dan hayati “bahwa dalam menjalankan segala aktifitas hidup karya dan hidup panggilan, seorang Saudara Dina selalu bertolak dari Komunitas dan selalu akan kembali ke komunitas”. Ini sesuatu yang tidak bisa dipungkiri.

Mutu hidup komunitas akan ditentukan mutu pribadi setiap Saudara yang menjadi anggota dalam komunitas tersebut. Namun dapa pula “mutu Komunitas” akan menentukan mutu setiap Saudara. Alasan kami ini bukanlah sesuatu yang “melayang-layang di udara”, tetapi sesuatu yang sungguh konkrit, yang lahir dari suatu pergumulan panjang, yang tak jarang harus “melintasi padang gurun gersang”, dalam hidup dan karya di medan perutusan sebagai seorang saudara yang berkarya di bidang pastoral parokial.

Dalam Pergumulan kami itu, kami sampai pada suatu keyakinan, bahwa mutu persaudaraan sebagai titik tolak setiap perjalanan peziarahan seorang Saudara – disadari atau tidak – mempunyai peran yang penting dalam diri setiap Saudara – dan itu akan menetukan pula cara seorang Saudara bertanggungjawab terhadap setiap perutusan.

Pentingnnya pembenahan mutu di dalam Persaudaraan, tetap kami rasakan sebagai sesuatu yang harus diberi perhatian oleh persaudaraan secara serius. Maksudnya adalah agar setiap saudara ketika “dilepas” ke lapangan, misalnya menerima kepercacayaan dari Persaudaraan sebagai pastor paroki, sungguh bisa menampilkan diri sebagai seorang Saudara yang paling tidak memenuhi hal-hal mendasar yang dituntut dari seorang yang berprofesi sebagai seorang pastor paroki.

Menurut pengalaman pastoral paroki kami yang cukup kaya dan bervariasi, meskipun tuntutan umat itu berbeda-beda antara kota – kampung, Papua – non Papua, kaya – miskin, petani – peramu, aparat negara – swasta, dan lain-lain, pada dasarnya pastor yang dekat dengan umat, selalu mencoba hadir dalam setiap permasalahan umat, lincah bergerak, selalu siap sedia melayani umat dalam situasi apapun, berani dengan lantang memperdengarkan suara kenabiannya jika hal itu menuntut, pemberi semangat, pantang menyerah bila menghadapi kendala, bisa mendengarkan, serta tidak single fighter, amat disenangi oleh umat.
Atau dengan kata lain saya mau mengatakan bahwa kita sebagai Fransiskan hanya bisa menginjili “di Tanah Papua”, kalau basis kita yaitu Persaudaraan – Komunitas – Gardianat cukup kuat karena telah diinjili dan benih Injili itu tumbuh dengan subur di dalam komunitas/di dalam diri setiap diri Saudara.

Karena itu lalu saya mulai mempertanyakan: Dengan situasi di mana setiap Saudara dituntut oleh pihak pemberi kepercayaan (Keuskupan) dengan sejumlah tuntutan yang “cukup berat” dan medan pelayanan yang terbentang luas dengan tingkatan kesulitan yang juga lumayan berat: “Apakah bijaksana/efektif mengutus seorang Saudara menjadi pastor paroki – bahkan melayani beberapa paroki hanya seorang diri saja? “Apakah ini perutusan atau pembunuhan?”

Meskipun demikian, sebagaimana telah kami katakan di atas, bahwa kami toh tetap setuju serta senang dengan usulan tema yang diusulkan oleh panitia sidang Kustodi: Penginjilan Fransiskan di Tanah Papua, karena setelah kami merenungkannya secara mendalam, kami merasa bahwa apa yang menjadi alasan kami tergabung dalam suara mayoritas, “Pembangunan mutu hidup Persaudaraan”, tetap mendapat tempat dan haraplah jangan dilupakan. “Jangan sampai kita akan pergi untuk bertempur, tenyata kita kurang terlatih sehingga dengan sangat mudah dihancurkan”. Atau ketika sedang bertempur, segala perbekalan tempur habis dan ketika mau kembali meminta bantuan/perbekalan, ternyata stok juga telah habis”. Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi: KEHANCURAN!!
Contohnya pastoral parokial di Lembah Balim dengan segala dinamikanya serta kompleksitas permalasahannya. Termasuk di dalamnya segala macam tuntutan kepada setiap Saudara yang harus dipenuhi sebagai pastor paroki, yang kemudian diperhadapkan dengan realitas lapangan; lebih banyak bekerja seorang diri dan menangani rata-rata 3 paroki. Berdasarkan contoh ini, kami tergelitik dengan tema sidang yang ada. Ada sebuah harapan atau cita-cita yang mau diperjuangkan di satu pihak, tapi di pihak lain konkretisasi di medan karya patut untuk dipertanyakan terus-menerus.

C. Realitas Lapangan
Sesuai dengan keputusan yang diamanatkan oleh sidang-sidang Kustodi sebelumnya, Persaudaraan di Lembah Balim melayani dua paroki: St. Stefanus-Kimbim dan Bunda Maria-Pikhe. Meskipun keputusan sidang Kustodi hanya mengamanatkan dua paroki: Kimbim dan Pikhe, namun dalam kenyataan bahwa setiap Saudara melayani tiga paroki. Sdr. Domin selain melayani paroki Kimbim yang cakupan pelayanannya sampai di Kabupaten Lany Jaya, juga harus melayani paroki St. Fransiskus Musatfak dan paroki Emanuel Elegaima. Kami sendiri, selain melayani paroki Pikhe, juga harus melayani paroki Pugima dan Paroki Yiwika yang cakupan pelayanannya sampai ke Kabupaten Yalimo, Kabupaten Mamberamo Tengah dan kabupaten Tolikara.

Bisa jadi ada yang berkomentar: “Ya menerima tugas baru di luar paroki yang disepakti oleh Persaudaraan dengan Keuskupan, itu kan atas inisiatif Saudara itu sendiri. Tidak pernah dibicarakan dengan Persaudaraan”. Bilamana ada komentar seperti itu, komentar itu tidaklah salah. Tapi kami yang dilapangan “susah” untk mengubah “tradisi” yang sudah berlangsung lama begitu saja. Kami membutuhkan dukungan nyata dari Persaudaraan untuk mengatakan tidak. Nah, bilamana ada dukungan nyata dari Persaudaraan secara tertulis untuk tidak menerima tugas pelayanan di luar paroki yang menjadi tanggungjawab Persaudaraaan tanpa ada perundingan terlebih dahulu dengan Persaudaraan, maka kami merasa ada kekuatan untuk menolak. Bisa jadi juga apa yang kami katakan ini akan mendapat reaksi balik dari sejumlah Saudara dengan bertanya: bukankah sejak dulu Para Saudara yang melayani di Lembah Balim sudah sering rangkap-rangkap paroki, dan tidak pernah ada keluhan. Mengapa sekarang ada keluhan?

Memang benar bahwa sudah sejak lama para Saudara yang melayani di Lembah Balim melayani beberapa paroki. Tapi dari arsip-arsip yang saya temukan, meskipun mereka sebagai imam memegang beberapa paroki, mereka tidak bekerja seorang diri. Mereka dibantu oleh sejumlah petugas awam yang dulu terkenal dengan sebutan PU (Pelayan Umat) atau kadang-kadang dengan sebutan pastor awam. Para Saudara yang imam hanya melayani sebatas pelayanan sacramental di paroki-paroki yang bukan menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan segala urusan pastoral diurus oleh petugas gereja tersebut.

Mereka-mereka ini kini sudah meninggalkan “Lembah Balim”. Ada yang masih dalam dinas keuskupan seperti: Bapak Gunadi, Bapak Serfulus Fanga, Bapak Octo Malisngoran dan ada yang sudah di luar keuskupan seperti: Bapak Niko Lokobal, Ibu Salomina Yoseimbut, dan Raymond Reyaan, Albert Alua, dan Theo Opki. Selain dari pada itu, kami juga berani mengatakan bahwa tuntutan pastoral di lapangan pada waktu itu dan tuntutan dari pihak keuskupan berbeda dengan situasi sekarang. Dengan adanya perubahan tuntutan itu, maka tentu saja harus ditunjang dengan sejumlah “infrastruktur” yang memadai, secara khusus dalam soal tenaga.
Ketika Uskup Herman Muninghoof menjadi uskup Jayapura, Ia mempunyai visi: Kita Bersama adalah gereja. Dengan Visi ini, daya gerak pastoral diarahkan kepada pembangunan kesadaran bahwa kita bersama adalah gereja. Karena itu hidup dan matinya gereja menjadi tanggungjawab bersama.

Perubahan dan perkembangan umum dalam kehidupan masyarakat yang sangat pesat dan lengkap dengan segala macam kompleksitas permasalahannya, disadari atau tidak pasti akan membawa pula dampak dalam kehidupan menggereja. Berbagai perubahan yang terjadi di berbagai bidang kehidupan dalam masyarakat, sangat menantang dan membawa pengaruh besar dalam Gereja, yang harus terus-menerus menghayati panggilannya untuk menjadi garam, ragi dan terang dunia. Tuntutan membaca tanda-tanda zaman, peka dan peduli terhadap semua perubahan dan perkembangan menjadi mutlak dan wajib bagi Gereja kalau masih mau berarti, bermakna bagi dunia dan masyarakat, khususnya agar Gereja tetap menjadi relevan dan signifikan, efektif dan efisien sebagai “Sacramentum Salutis Mundi – Sakramen Keselamatan bagi dunia.

Persekutuan umat Allah yang hidup di Keuskupan Jayapura, dengan segala kesadaran sebagai anak-anak Allah mau tetap mempertahankan tugas dan panggilannya sebagaimana telah kami sebut di atas. Tentu tujuannya adalah agar Gereja di Keuskupan ini tidak kehilangan jati dirinya serta tenggelam dalam arus pusaran perubahan yang terjadi begitu cepat. Maka dari itu, Gereja Keuskupan Jayapura merasa perlu untuk merumuskan kembali arah perjalanannya sebagai umat Allah. Umat Allah, hidup di dalam perubahan itu, mengalami perubahan itu, menjadi bagian dari perubahan itu, bahkan juga menjadi pelaku dari perubahan itu.
Oleh karena itu, setelah melalui proses persiapan yang cukup panjang dan dimatangkan melalui pertemuan-pertemuan di berbagai tingkatan umat, maka pertengahan tahun 2006, Keuskupan mengadakan sinode dan dalam sinode itu, semua komponen perwakilan umat Allah di berbagai tingkatan bertekad bulat untuk mencanangkan cara baru hidup menggereja, dengan visi: “MEMBANGUN GEREJA MANDIRI YANG MISIONER”. Mebangun Gereja yang mandiri dan missioner di berbagai aspek bidang kehidupan: IPOLEKSOSBUDHANKAM dengan segala macam “antek-anteknya”. Dan kendaraan yang dipakai untuk menuju ke arah itu adalah “KOMBAS dan OMK”.

Persaudaraan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari segala sesuatu yang terjadi di keuskupan ini, tentu saja mempunyai peran yang tidak dapat pandang dengan sebelah mata. Sekedar menyebut contoh: ketika ada imam yang menolak untuk ditugaskan di Lembah Balim dengan mengajukan berbagai alasan dan argumentasi “yang suci”, maka hanya Saudara Dina yang dengan taat dan setia pergi ke Lembah Balim. Ketika paskah dan Natal tiba, umat membutuhkan sejumlah pelayanan dari yang ditahbiskan imam. Namun, seiring perjalanan waktu, ada yang mulai “mempertanyakan” mengapa harus ke Balim, karena ketika pulang umat tidak bisa memberi stipendium yang “menggiurkan”. Hanya para Saudara Dina yang dengan setia tetap berasistensi ke Lembah Balim, meskipun ketika pulang mereka terkadang tidak mendapat sedikit pun stipendium dari umat yang dilayani.

D. Penutup: Untuk Dipikirkan
Menerima sebuah kepercayaan berarti harus bisa bertanggungjawab atas kepercayaan itu. Itulah yang kami hayati dalam setiap menerima tugas perutusan. Pertanggungjawaban itu, tidak hanya kepada pihak yang memberi kepercayaan, tapi juga kepada Persaudaraan yang mengutus seorang Saudara untuk menerima kepercayaan itu. Pastilah setiap Saudara yang menerima suatu tugas perutusan dari Persaudaraan untuk melayani atas nama Persaudaraan di suatu medan pastoral, sungguh sadar akan hal ini. Kami yakin bahwa setiap Saudara pasti akan berjuang untuk mempertanggungjawabkan setiap kepercayaan itu, sebagai wujud dari penghayatan kaul ketaatan.

Kalaulah Para Pelayan Persaudaraan membolak-balik file setiap Saudara yang bekerja di di medan pastoral paroki, maka kami berani mengatakan bahwa kami termasuk salah satu dari sekian Saudara itu yang cukup bertanggungjawab dalam setiap perutusan Persaudaraan. Salah satu bentuk rasa tanggungjawab, kami selalu membuat laporan-laporan yang teratur secara tertulis.

Melayani paroki yang luas dengan medan pelayanan yang cukup menantang serta jumlah umat yang besar dengan macam-macam karakternya, juga bukan hal baru untuk kami. Kami bersyukur, bahwa Allah memberikan beberapa kelebihan seperti cepat menyesuaikan diri dan betah dengan lingkungan pelayanan yang baru, selalu bergembira dan pantang menyerah dalam tugas walaupun ada seribu satu macam masalah, yang kalau hendak jujur, tidak mampu untuk diselesaikan dan karena itu kadang-kadang merasa gagal, tidak sulit untuk meninggalkan tempat yang dirasa sudah menyenangkan dan pergi ke “tempat lain yang masih asing” dengan fasilitas ala kadarnya.

Namun ketika keberadaan kami di Lembah Balim ini mulai memasuki usia tahunan,kami mulai betanya-tanya akan kemampuan berpastoral kami sebagai orang “lapangan”. Tuntutan yang cukup tinggi dari keuskupan dan situasi kondisi lapangan pelayanan serta mentalitas umat mulai menggerogoti kepercayaan diri kami. Ada begitu banyak pengalaman baru yang belum pernah kami hadapi di paroki-paroki terdahulu. Jujur kami akui bahwa pengalaman-pengalaman itu terkadang “mengejutkan”. Itulah sebabnya, kami mulai ragu-ragu dengan kemampuan pribadi dan bahkan mengalami frustasi.

Sebut saja beberapa contoh: mentalitas umat yang cukup susah untuk menerima perubahan, adanya pemisahan secara “tajam” antara “urusan adat” dan “urusan gereja”. Bilamana urusan adat bertabrakan dengan urusan gereja, maka yang akan dipakai adalah pedoman adat.
Di Lembah ini ada dua “kelompok umat yang mengaku sebagai Katolik: Serani dan Simpatisan” (dari sekitar 5000 jiwa umat Paroki Pikhe, yang terbaptis : 2.890. Sisanya mengaku Katolik tapi tidak dibaptis). Rendahnya minat umat untuk menerima Sakramen-Sakramen, secara khusus Sakramen Perkawinan dan Krisma. Buku perkawinan paroki Pikhe yang dimulai tahun 1969 – 2010 mencatat 176 pernikahan dengan mayoritas yang mau menikah Gereja adalah PNS, TNI, POLRI karena berkaitan dengan tunjangan keluarga.
Sejauh yang kami temui melalui penelusuran arsip-arsip di paroki, dari 2. 890 yang dibaptis menjadi Katolik sejak 1963 – 2010, yang menerima sakramen Krisma tidak sampai 300 orang. Tercatat di paroki ini hanya dua kali Krisma. Jumlah yang menerima krisma cukup banyak, 1987 sebanyak 80 orang dan 2010 sebanyak 50 orang. Selebihnya kurang dari itu.

Angka Poligami yang cukup tinggi. Mengutip Pater Frans Lieshaut, sisa misionaris Lembah Balim yang masih ada, sekitar 40% orang mengaku Katolik Poligami. Dan banyak di antara mereka yang sudah dibaptis secara Katolik. Medan pelayanan yang sangat luas dan sulit dengan tenaga pelayan imam hanya 3 orang juga menjadi salah satu kendala tersendiri yang harus dicarikan jalan keluarnya. Tentu jika Gereja Katolik ( dan juga Persaudaraan) tidak ingin meratapi nasib karena kehilangan begitu banyak umat Balim yang merupakan ladang subur bagi benih-benih panggilan kader Gereja di berbagai jenjang kehidupan.

Di tempat-tempat di mana kami bertugas sebelumnya, kami tidak pernah menjumpai “pengurus Gereja/umat” yang tidak menikah secara resmi. Tapi di Lembah Balim mayoritas pengurus Gereja: BMP, pengurus Kombas, Pengurus Kring, Wenewolok tidak nikah Gereja dan Krisma. Bahkan di antara mereka ada yang poligami. Bahkan yang lebih menarik lagi, guru agama yang nota bene tamat dari IPI ada yang tidak nikah Gereja, bahkan ada yang poligami. Masih banyak masalah lain. Oleh karena itu, bekerja di Lembah Balim tidaklah cukup dengan menerapkan gaya pastoral kuno yang diperoleh di bangku kuliah, menjadi penjaga setia dalam penerapan hukum-hukum Gereja, dan lain-lain, tapi lebih dari itu harus punya hati dan menyapa umat dengan hati itu. Kami berkeyakinan bahwa hanya dengan pendekatan hati, maka ajaran Gereja Katolik lambat laun akan bertumbuh dengan subur dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan hidup umat di Lembah ini.

Dengan paparan sebagaimana telah kami gambarkan di atas, kami berpendapat bahwa sudah tiba saatnya bagi Persaudaraan untuk memikirkan kembali gaya pelayanan yang selama ini diterapkan di Lembah Balim. Kami setuju Persaudaraan tetap melayani dua Paroki: Kimbim dan Pikhe – kecuali kalau Persaudaraan mau meninjaunya kembali – tapi cukup dua paroki itu. Tidak usah tambah-tambah. Atau tidak usah pusing dengan paroki lain.

Model kerja juga harus diubah. Paling tidak satu paroki ditangani oleh dua Saudara yang tetap. Bukan tenaga TOPER. Bukannya saya tidak menghargai tenaga Saudara TOPER, tapi dengan waktu TOP yang tidak sampai satu tahun sesudah itu pergi, dan lebih banyak pada masih belajar dan orientasi, kami rasa kurang efektif. Model kerja yang diterapkan oleh Persaudaraan di Paroki Bade, kiranya patut untuk diterapkan di Lembah Balim. Ada Pastor Kepala dan ada Pastor Kapelan.

Selama tidak ada perubahan dalam pendekatan dan penempatan para saudara yang melayani umat di Lembah Balim, maka janganlah menuntut banyak dari Saudara itu. Kalau Saudara hanya berkeliling untuk “jadi tukang misa”, syukurilah. Itu sudah luar biasa. Tidak usah tuntut lebih dari itu. Bekerja di Lembah Balim berbeda dengan bekerja di tempat lain. Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, agar di kemudian hari jangan timbul penyesalan. Mari kita memulai lagi, karena sampai saat ini kita belum buat apa-apa…

Bukit Sion Supula,
Minggu keempat Prapaskah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: