Sengsara Membawa Nikmat

18 May

Minggus (Postulan)

Lebih baik sengsara membawa nikmat, dari pada nikmat membawa sengsara. Begitulah kata orang. Hal ini yang mungkin kurang dihayati oleh kita di jaman sekarang ini. Hanya orang yang betul-betul menghayati kitab suci dalam kehidupannya sehari-hari yang mampu untuk melaksanakan perintah-perintah Tuhan dalam konteks ini: sengsara membawa nikmat. Kita lebih berprinsip pada nikmat membawa sengsara dibandingkan dengan sengsara membawa nikmat. Kita hanya mementingkan kenikmatan dunia semata, dibandingkan sengsara bersama Tuhan atau orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. Kita malah memperhatikan diri kita sendiri dan memanjakan diri dengan kenikmatan –kenikmatan duniawi. Kehidupan kita sering diwarnai dengan kemalasan. Misalnya tidur pada hal sudah jam untuk kerja, tetapi kita masih bergulat dengan selimut atau tidur pada hal belum belum waktunya untuk tidur.

Hal-hal yang sederhana ini merupakan sebuah kenikmatan dalam kehidupan kita sehari-hari. Seharusnya kita meneladani hidup bapa kita, Santo Fransiskus dari Asisi yang mana kehidupannya penuh dengan sengsara-sengsara yang ada di dunia ini, bahkan sang Santo menyiksa saudara badan dengan bekerja. Bukan berarti kita harus menyiksa saudara badan tetapi bagaimana kita menanggalkan kenikmatam dunia yang hanya membawa dampak negative dalam kehidupan kita. Lebih baik kita sengsara di dunia ini dari pada kita sengsara di akhirat nanti. Sengsara di dunia ini berarti kita bekerja, berjuang untuk selalu hidup menurut kehendak Bapak di surga. Lebih baik harta di surga, dari pada harta dunia yang penuh dengan kepalsuan. Seperti St. Fransiskus dari Asisi yang menjual semua harta ayahnya Petro Bernadone.

Pertobatan sang Santo merupakan suatu hal yang sangat luar biasa. Setelah disapa oleh Tuhan, tanpa berpikir panjang Bapak kita Fransiskus meninggalkan kenikmatan dunia dan berpaling kepada Tuhan. Kita dapat mencontoh hidup dari Sang Bapa. Caranya sangat mudah. Tidak perlu kita menjual harta orang tua kita, tetapi kita meninggalkan cara hidup kita yang hanya dapat merugikan diri kita sendiri. Seperti malas belajar, tidak mempunyai rasa solidaritas terhadap sesama dan tidak mempunyai relasi atau komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar. Ini merupakan hal yang buruk yang harus kita bersihkan dari dalam hati kita yang paling dalam. Bapak kita Fransiskus menyeruhkan pertobatan dengan perkataan bagaikan api yang membakar, menembus sampai ke lubuk hati dan memenuhi segala budi dengan ketakjuban ( Thomas dari Celano).
Kita dapat mewartakan pertobatan tanpa harus dengan kata yang berapi-api, tetapi cukup dengan semangat tingkah laku, tutur kata, pergaulan kita yang ramah terhadap masyarakat serta komunikasi dengan siapa saja. Ini sudah merupakan warta pertobatan yang kita sampaikan kepada orang yang ada di sekitar kita maupun diri kita sendiri. Kita harus menjadikan diri kita sebagai tong sampah yang mana menerima apa saja, baik maupun yang buruk. Ini sudah merupakan suatu hal keterbukaan hati kita terhadap orang lain bila kita menjadikan diri kita sebagai tong sampah. Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus tidak sebanding, dengan sengsara kita saat sekarang ini. Demi dosa kita, Ia rela bergantung pada kayu salib. Apakah kita sudah membalas itu semua? Dapatkah kita menyaingi sengsara Kristus. Yang penting adalah bagaimana kita berusaha supaya hidup kita selalu pada jalan kehidupan dan kebenaran yaitu , Yesus Kristus. Marilah kita merubah hidup kita, menanggalkan segala keburukan kita. Kita menerima kehendak yang baik dari Tuhan supaya hidup kita selalu di bawah naungan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: