Aneka Pemandangan Kota Agats

5 Feb

Petrus Supardi OFM

Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan TOP di Agats-Asmat. Namun, dalam seketika semua rencana semula, yakni TOP di Kimbim berubah dan saya mendapat kesempatan untuk melaksanakan TOP di kota tanpa debu, Agats. Ini adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di kota yang dijuluki sebagai kota ukir, kota lumpur dan sebagainya. Apa pun julukan yang diberikan, Agats menyimpan sejuta misteri yang sulit dijawab dengan akal sehat, sebab bagaimana mungkin manusia bisa hidup di atas lumpur pekat yang menutupi hampir seluruh wilayahnya.
Pertanyaan pertama, ketika menginjakkan kaki di bandara Ewer adalah: “Apa arti semua yang saya lihat ini: orang hidup di atas papan, karena seluruh wilayahnya berair dan lumpur; tidak ada tanah untuk tanam sayur, dll. Bagaimana orang bisa hidup di daerah seperti ini?”

Menemukan Keindahan
Keindahan pertama yang saya temukan, bukanlah berasal dari luar diriku, melainkan dari dalam diriku sendiri yakni kegembiraan dan sukacita, karena saya diterima oleh Sdr. Alo Murwito OFM dan Sdr. Sil OFM dengan senyum hangat mereka. Di Bandara Ewer, itulah tempat kami berjumpa, saling berjabat tangan dengan hangat sembari mengucapkan salam jumpa. Ucapan selamat datang, dengan nada peringatan: “Sudah dua minggu, tidak hujan, air di rumah kamu, mungkin habis, tetapi bisa cari di tempatku,” yang dilontarkan oleh Sdr. Alo OFM mengawali hari-hariku di Agats, sebuah keuskupan terunik, yang sulit dijumpai di daerah lain.

Dalam perjalanan ke kota Agats, Sdr. Sil OFM bersenda-gurau: “Ini saya bawa kepiting khusus untuk menyambutmu.” Inilah ungkapan kehangatan yang terjadi, saling menyapa sebagai saudara. Saya merasa terharu, karena di tengah badai dan pergumulan hebat yang melanda hidup dan panggilanku sebagai fransiskan, masih ada saudara yang menerima saya sebagai saudara, mau menjadikan diriku sebagai rekan sekerja dalam pelayanan kabar baik. Itulah sekelumit pikiran yang terlintas di benakku tatkala tiba di Ewer dan dalam perjalanan menggunakan spedboat menuju kota Agats.

Keindahan lain yang harus diakui ialah keunikan kota Agats yang terletak di atas papan. Semua arsitek bangunan menggunakan kayu besi. Di mana-mana kita dapat menjumpai ukiran-ukiran hebat, yang dikerjakan oleh tangan-tangan berahmat. Memandang alam Agats dan melihat ukirannya, terlintas pikiran dan refleksi tentang Dia yang meng-ADA-kan segalanya. Sang ADA, yang membuat segalanya mungkin dan sulit dipecahkan dengan akal-sehat. Dalam benak, saya hanya mengulangi kata-kata kesukaanku: “TUHAN ENGKAU LUAR BIASA”.
Allah memiliki rencana sendiri menempatkan wilayah geografis dengan manusia Asmat yang memiliki karakter demikian unik. Tentu kita sulit membaca kehendak Allah, tatkala kita memandangnya hanya sebagai objek eksploitasi ikan, ukiran, sumber proyek dan lain sebagainya. Kita perlu melihat wilayah Agats, dalam perspektif kemahakuasaan Allah. Sebab bagaimana mungkin, orang hidup di atas lumpur, rumah-rumah dengan tiang-tiang dipancangkan di lumpur, hanya mengandalkan air hujan, dan lain-lain, tetapi orang Asmat mampu hidup dan bertahan sejak nenek moyang mereka hingga saat ini? Apa yang hendak diperlihatkan Allah melalui realitas ini?

Walaupun Allah mahakuasa dan tidak membutuhkan pengakuan tentang kemahakuasaan-Nya, namun melalui keunikan geografis dan budaya, Allah mau memperlihatkan belaskasih-Nya bagi umat manusia. Bahwa Allah mampu melampaui rancangan dan pikiran manusia. Allah berkuasa atas seluruh makhluk dan kekuasaan-Nya semata-mata demi kasih-Nya bagi umat manusia. Itulah nilai dan makna keindahan yang perlu dirajut oleh kita semua, yakni hidup dalam kasih, sebagaimana Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita.
Membaca tanda-tanda alam Agats, merupakan suatu kesempatan untuk melihat lebih dalam, betapa Allah mau kita hidup lebih dekat lagi dengan-Nya. Kita patut mengakui dengan jujur bahwa secara fisik, kita tidak melihat Allah, tetapi melalui pengalaman perjumpaan dengan sesama, dengan alam ciptaan dan dengan realitas sosial, kita mampu membaca dan mengenal Allah. Karena itu, setiap waktu adalah kesempatan untuk mengalami indahnya kasih Allah. Di sana kita belajar tentang mengasihi, mengampuni dan saling menerima satu sama lain.

Realitas kehidupan sosial di kota Agats
Bagi banyak orang, situasi dan keadaan kota Agats biasa saja. Masyarakat asli Papua hidup di bevak atau perumahan kumuh. Mereka mencari ikan, kepiting, kayu bakar, dan lain-lain. Ironinya banyak anak usia sekolah yang harus bekerja, entah menjaring ikan maupun menjadi tukang pikul kayu balok, guna mendapatkan uang untuk biaya hidup dan sekolahnya. Bahkan banyak di antara mereka tidak bersekolah karena berbagai alasan, entah karena orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah, uang asrama dan lainnya, maupun mereka yang tidak bersekolah karena mengikuti orang tuanya ke hutan untuk mencari makanan. Mereka ibarat ‘sampah’ di tengah kemegahan kota yang dikuasai oleh kaum imigran.
Hal umum yang dijumpai adalah sampah yang tidak tertangani. Kota Agats sebagai kota ukir, warisan budaya dunia, justru dinodai oleh wajah kota yang amat kotor karena hampir di setiap jalurnya berserak berbagai jenis sampah. Demikian halnya, air bersih sangat susah, sebab hanya mengandalkan air hujan. Jika tidak hujan, maka penduduk Agats tidak bisa masak dan mencuci. Kalaupun ada air bersih yang disiapkan oleh PDAM sangat terbatas.

Sebagaimana umumnya kota-kota besar, kota Agats pun memiliki bar, meja biliard dan tempat prostitusi. Di sinilah kaum adam dan hawa saling melampiaskan hasratnya, yang diakibatkan oleh berbagai alasan, entah sekedar mencari kenikmatan sesaat, menghabiskan uang, atau pun demi mencari sesuap nasi. Inilah kenyataan yang terjadi, setiap orang yang hidup di kota Agats tentu melihat dan mengetahui kondisi ini, tetapi tidak banyak yang peduli, sebab masing-masing mengadu nasib guna meraih impian mereka, yakni mendapatkan uang yang banyak, kedudukan dan jabatan di atas penderitaan orang Asmat. Akibatnya, suasana yang kontras antara masyarakat asli yang hidup miskin di bevak-bevak kumuh disandingkan dengan kaum pendatang yang hidupnya terbilang mewah, sebab mereka memiliki rumah yang bagus, motor listrik, sepeda, TV, HP dan lain-lain. Sementara penduduk asli, untuk mendapatkan nasi sepiring saja amat sulit, sebab mereka tidak memiliki keterampilan sehingga tersisih di antara kaum pendatang yang dibekali dengan pendidikan dan pengetahuan yang memadai.

Bukan hanya bidang perekonomian yang dikuasai oleh kaum pendatang, melainkan juga pemerintahan sesungguhnya dikuasai oleh kaum imigran. Bupati, Ketua DPRD dan beberapa kepala dinas dan badan dipimpin oleh anak-anak asli Asmat, tetapi tidak berdampak banyak bagi

Infrastruktur dasar seperti rumah layak huni untuk masyarakat asli, sarana air bersih dan tempat sampah jarang ada di kota Agats. Kita dapat melihat bahwa rumah yang bagus, bersih dan rapi pasti milik para pegawai atau pendatang. Sementara masyarakat asli hidup terlantar. Mungkin bagi mereka hal itu wajar dan biasa, sebab mereka hanyalah orang-orang kecil yang tidak berpendidikan. masyarakat asli, sebab pos penting dikuasi oleh kaum pendatang, sehingga banyak kebijakan berpihak pada mereka yang menguasai birokrasi dan demi kepentingan kelompok tertentu.

Ada banyak kejanggalan kehidupan bermasyarakat yang patut dipertanyakan, misalnya banyaknya pegawai di kantor tertentu yang tidak berbuat apa-apa, dan lain-lain. Gambaran yang diuraikan di sini, hanyalah sebagian kecil dari realitas sesungguhnya kota Agats. Masih ada banyak peristiwa, permasalahan dan pergumulan, yang belum disebutkan, tetapi dapat dipastikan bahwa saat ini, pada era otsus ini, masyarakat (orang asli Papua, orang Asmat), masih hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, karena jauh dari standar minimal kesejahteraan yang ditetapkan pemerintah yakni terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan.

Refleksi Kritis
Beberapa petugas pastoral senior, yang telah lama bekerja di Keuskupan Agats kurang lebih mengungkapkan hal yang sama yakni: “Kita kerja di tempat ini, tidak boleh memasang target, karena nanti kita stres kalau target yang kita buat tidak tercapai. Kita juga jangan biasakan diri untuk kasih barang ke umat, karena kalau kita kasih, dan saat mereka minta lalu tidak ada barang, mereka akan berontak.” Itulah beberapa nasihat yang saya peroleh ketika berbagi pengalaman dengan beberapa petugas pastoral yang telah lama bekerja di Agats.

Sebagai fransiskan, tentu kita memiliki cara sendiri untuk mendekati dan ada bersama umat. Pendekatan pastoral kita bukanlah pastoral barang: supermie, tembakau, uang, rokok dan lain-lain. Pendekatan pastoral kita sudah seharusnya mengedepankan sikap hati yang penuh kasih, siap mendengarkan umat, tetapi tetap tegas untuk menjaga dan memelihara iman umat. Bahwasanya, kadang kita merasa bahwa pastoral kita tidak menyentuh substansi pergumulan dan permasalahan yang dihadapi oleh umat. Kadang kita tergoda untuk cepat-cepat mau mengubah situasi umat, tanpa mengikuti prosesnya. Kita berpastoral menurut hobi dan minat kita, yang penting umat senang pun itu harus mengorbankan banyak hal, termasuk hal-hal administrasi. Sesungguhnya, harus disadari bahwa para petugas pastoral, di mana pun berkarya bahwa pastoral kita bukan seperti mobil pemadam kebakaran. Melainkan, kita harus hadir sebagai gembala yang menuntun dan memotivasi kawanan domba untuk berpikir cerdas, guna menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya.

Pastor bukan “juru kunci” perubahan sosial dalam masyarakat, melainkan harus hadir sebagai gembala yang memberikan beberapa pemikiran alternatif dan menuntun umat untuk berjalan dalam rencana kasih Allah. Biarlah melalui pendampingan kita, mereka menemukan jawaban atas pergumulan dan permasalahannya. Hal ini penting, supaya mereka belajar bertanggung jawab atas hidup dan tugas mereka sebagai anak-anak Allah. Kita tidak dapat menyangkal bahwa banyak dari masyarakat asli Asmat yang hidupnya menderita adalah umat Katolik. Mereka tersisih di antara kaum imigran, pun yang beragama Katolik, seakan-akan memisahkan diri dari mereka. Akibatnya, jurang pemisah semakin dalam, jarak antara mereka yang hidup miskin dengan kaum berada makin jauh, bahkan sangat jauh.

Dalam situasi inilah kita berpastoral, mewartakan Injil Kristus, kabar sukacita. Apakah kita mampu menyampaikan Injil Kristus dalam situasi umat seperti yang digambarkan di atas? Tidak jarang ada suara penolakan, bahkan dinyatakan juga dengan cara yang frontal, misalnya marah kepada Pastor, tidak mau masuk gereja, bersikap malas tahu dan lain-lain. Hal ini wajar, sebab di satu sisi kita mewartakan Injil yang menawarkan berbagai kehidupan rohani, sementara umat membutuhkan barang-barang fisik, yang membantu mereka untuk hidup: makan, minum, perumahan yang layak dan lain-lain. Kadang memang ada suara: “Kamu kasih kami apa? Saya sudah kerja setengah mati, ko bayar, saya mau beli makan.” Ungkapan ini menggambarkan bahwa umat membutuhkan sesuatu yang dapat mereka gunakan untuk kelangsungan hidupnya.

Apakah umat yang mengungkapkan hal demikian salah? Tidak, mereka tidak salah! Gaya berpastoral kitalah yang kadang tidak mendidik umat untuk mandiri. Kadang kita berpikir dengan memberikan segala sesuatu yang mereka minta akan menyelesaikan permasalahan yang digumuli umat. Sesungguhnya, sikap demikian tidak mendidik, sebab akan menciptakan sikap ketergantungan, yang mematikan daya kreativitas mereka untuk berkreasi guna memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Panggilan dan tugas perutusan kita adalah membantu umat untuk mengekploitasi SDM yang dimiliki, sebab pada diri mereka ada kemampuan yang “sedang tidur” karena tidak digunakan. Kita hadir memberikan motivasi, agar mereka memiliki kemauan dan semangat untuk menggali kemampuan yang ada pada diri mereka.

Akhirnya, sebagai langkah awal memutus mata rantai pembodohan terstruktur yang tercipta, guna mengangkat harkat dan martabat orang Asmat, perlulah dimulai dari dua aspek yang berdampingan yakni budaya dan pendidikan. Pertama, budaya sebagai landasan pijak hidup orang Asmat perlu dijaga dan dikembangkan, sebab sesungguhnya kekuatan hidup orang Asmat bersumber dari adat-istiadat mereka. Selain itu, budaya harus menjadi filter yang menyaring segala tawaran dunia modern dewasa ini. Jika tidak akan terjadi degradasi moral, yang dapat menghantar generasi muda Asmat pada pola hidup instan: minta-minta, malas kerja, minum mabuk, main judi dan perempuan, palak orang, mental proposal dan lain sebagainya.

Kedua, pendidikan merupakan unsur penting yang harus dikembangkan dengan membuka kesempatan belajar bagi semua anak Asmat. Perlu ada kebijakan khusus yang mengharuskan setiap anak Asmat untuk sekolah. Pendidikan harus menjadi perhatian pemerintah, Gereja, tokoh adat, tokoh masyarakat dan semua orang Asmat. Pendidikan menjadi sangat penting sebab terbukti mampu membuka cakrawala berpikir dan mampu membekali setiap anak untuk menatap masa depannya. Keuskupan Agats dalam keterbatasannya telah berjuang membuka keterisolasian orang Asmat melalui jalur pendidikan. Hal ini patut diapresiasi dengan penghargaan dan rasa hormat yang tinggi. Namun, tetap diharapkan agar ke depan pastoral pendidikan semakin ditingkatkan, terutama mendidik anak-anak Asmat agar memiliki kemauan dan komitmen untuk melakukan gerakan perubahan bagi orang Asmat, terutama dalam mengembangkan perekonomian, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Agats, 31 Agustus 2011
dengan salam hangat dan doa saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: