WEEKEND BERSAMA GLADI ROHANI

21 Mar

Paulus Biweng OFM

Selama setengah semester ini saya baru tiga kali weekend. Tempat weekend saya dengan teman-teman kelompok Gladi Rohani. Tempat kelompok gladi rohani ini tidak menetap, karena belum mendapat tempat yang jelas. Awalnya mereka selalu bertemu dan berkumpul di rumah bulat kompleks SMA Taruna Bakti. Tetapi ketika rumah itu diserahkan kembali kepada Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, kelompok ini tidak mendapat tempat sebagai wadah untuk duduk bersama untuk membagi pengalaman dan membicarakan agenda-agenda lain. Kelompok ini sekarang terkatung-katung mengenai tempat, tetapi bagi mereka, di mana saja kita bisa berkumpul. Mereka mengutip Bapa Fransiskus bahwa “alam adalah rumah kita”. Jadi berkumpul di alam bebas pun bisa saja.

Weekend pertama, saya berhadapan dengan situasi yang baru. Berhadapan dengan situasi ini saya juga butuh persiapan. Persiapan yang bagaimana? Intinya saya perlu persiapan diri dan batin. Saya awalnya merasa tegang, malu dan agak kaku berhadapan dengan kelompok gladi rohani ini. Walaupun sebagian besar dari mereka sudah saya kenal. Saya mulai memperkenalkan diri kepada mereka dan sebaliknya, mereka memperkenalkan diri mereka kepada saya. Sehingga saya sedikit demi sedikit mulai mengenal mereka satu persatu, walaupun masih kabur, artinya belum ada relasi yang begitu dekat. Kelompok gladi rohani ini sudah berusia lima tahun. Kelompok ini berkembang dari kota Wamena. Kelompok ini pada umumnya berasal dari kota Wamena sendiri. Bentuk kegiatan yang mereka lakukan antara lain; rekoleksi, sharing bersama, sharing kitab suci, pertemuan yang bersifat ilmiah maupun non-ilmiah, dan lain-lain. Pendamping utama mereka adalah P. Lambert Nita, OFM. Kelompok ini mempunyai tokoh pelindung yaitu Santo Fransiskus dan Santa Klara. Jadi mereka mengikuti semangat kedua tokoh ini. Sehingga mereka merasa bahwa mereka juga bagian dan berada di bawah persaudaraan ini. Mereka selalu berkumpul pada minggu pertama dan keempat dalam bulan. Kelompok ini terdiri dari pelajar dan mahasiswa/i. Motto gladi rohani adalah “takluknalah serigala yang ada pada dirimu, dan jadilah bunga dunia”. Prinsip mereka adalah “satu untuk semua dan semua untuk satu”.

Alasan saya memilih tempat ini karena saya mau belajar bersama kelompok ini; belajar mengenal diri, belajar berorganisasi dan yang terutama adalah untuk menambah pengalaman sekaligus untuk perkembangan kepribadian dan panggilan saya ini. Saya hadir bersama mereka sebagai pendengar, anggota. Ada keunikan dari kelompok ini. Setiap anggota dituntut dan dididik untuk mampu mengungkapkan pendapatnya. Merekadilatih menjadi orang yang dapat dipercaya, bertanggung jawab dan rendah hati. Ikatan kebersamaan dan kekeluargaan dalam kelompok ini sangat kental, mungkin karena dipengaruhi oleh latar belakang budaya mereka.

Weekend yang kedua, saya sudah merasa lebih akrab dengan mereka. Saya merasa bahwa mereka adalah bagian dari keluarga saya. Mereka juga merasa saya adalah bagian dari keluarga mereka. Salah satu hal yang saya akui bahwa mereka tidak pernah membuat proposal untuk meminta bantuan dalam bentuk apapun. Mereka selalu usaha sendiri. Mereka mengumpulkan sesuatu dari apa yang mereka miliki. Hal ini saya alami ketika mereka membuat acara pelantikan koordinator baru dan penerimaan anggota baru. Hal ini bagi saya sungguh luar biasa, kemandirian kelompok sangat luar biasa. Saya mau belajar dari kelompok ini, saya mau menjadi orang yang “mandiri”. Dalam arti bahwa saya mau menjadi orang yang bertanggung jawab dan prinsipil.
Weekend yang ketiga, kami membagi pengalaman dengan tema: “apa itu Adven dan makna serta bagaimana mengimplementasikannya?”. Ada begitu banyak pengalaman yang kami bagi bersama. Semua pengalaman itu diungkapkan berdasarkan pengalaman masing-masing dan berdasarkan pemahaman masing-masing. Intinya bahwa dalam pertemuan ini kita diantar dan diajak supaya selalu mempersiapkan diri, baik secara batiniah maupun lahiriah untuk menyambut Sang Juruselamat kita yaitu Yesus. Ada begitu banyak pengalaman yang boleh saya dapat dari kelompok ini. Saya merasa terbantu, dikuatkan dan secara tidak langsung mendapat dukungan dari mereka dalam menanggapi panggilan suci ini. Saya sadar bahwa saya selalu butuh bantuan dan dukungan dari pihak lain karena saya adalah manusia yang mempunyai keterbatasan. Maka saya sebagai seorang religius, pengikut fransiskus, saya harus berjuang, berjuang dan terus berjuang dalam perziarahan menuju panggilan suci ini. Dengan demikian sebagai akhir dari refleksi saya, saya mau katakan bahwa saya sedang dan masih terus berjuang, maka saya mau memulainya lagi karena saya dalam proses pencaharian jati diri saya yang sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: