Guratan Lepas dari Auckland, New Zealand-IV

26 Jul

oleh Sdr Goklian OFM

Sebulan sudah guratan seperti ini tidak “mengudara”. Itu semua karena padatnya kegiatan belajar. Kursus intensif ternyata sungguh melelahkan. Selain itu, “paksaan” untuk terlibat di komunitas (mimpin doa harian/misa dan menjadi lektor) dengan bahasa Inggris, menuntut persiapan yang ekstra. Maka di sela-sela kesibukan itu, saya sempatkan untuk menulis guratan pengalaman selama sebulan ini di NZ.

Wedding di Waiheke Island

Bulan Februari memang bulan kasih sayang. Empat belas Februari yang merupakan hari valentine, mungkin menjadi rujukan bagi banyak pasangan untuk mengekspresikan cinta dan kasihnya satu sama lain. Di bulan ini, ada banyak acara pernikahan. Beberapa diantaranya dipimpin oleh Sdr. Bernie. Pernikahan di Auckland, rupanya bisa diadakan dimana saja (seperti di villa, rumah atau hotel), tidak harus di Gereja.

Di salah satu weekend pada bulan Februari, Bernie memberkati pernikahan sepasang pengantin New Zealand pada sebuah rumah mewah (seperti villa) yang berada di atas sebuah bukit. Tempat tersebut berada di Pulau Waiheke. Maka kami (Bernie, saya dan Arul) harus menggunakan kapal Feri menuju pulau tersebut.  Perjalanan hanya 45 menit, dan sepanjang jalan pemandangan begitu indah. [Tidaklah salah bila The South Island, New Zealand berada dalam urutan keempat dunia  yang patut dikunjungi sebelum seseorang mati. (Ini berdasarkan survey program TV BBC1. Bali berada di urutan 49. Adapun urutan tempat yang patut dikunjungi sebelum Anda meninggal adalah: (1) The Grand Canyon, USA; (2) The Great Barrier Reef, Australia; (3) Disney World, Florida USA; (4) The South Island, NZ; (5) Cape Town, South Africa. Maka berbahagialah diriku  sudah mengunjungi dan bahkan tinggal di South Island New Zealand, tempat keempat terfavorit di dunia. (hehhehe. Sdr. Edi akan menyusul kok.)]

Seperti kisah sebelumnya, ritus pernikahan ala NZ sangatlah khas. Undangan pada saat acara ini tidak banyak, sekitar 20-an orang saja. Setelah pernikahan selesai, dilanjutkan dengan “standing party”. Tentu saja wine dengan berbagai macam kue menjadi pembuka pesta. Namun karena waktu dan kami harus mengejar Kapal Feri untuk kembali ke Auckland, maka acara perjamuan besar tidak dapat kami ikuti (Sebenarnya dalam hati mau berkata kepada Bernie: mari kita dirikan tiga kemah di sini. Satu untukmu Bernie, satu untuk Arul dan satu untuk diriku. Namun karena yakin bahwa akan mendapatkan jawaban seperti jawaban Yesus kepada para murid terdekatnya itu, maka pernyataan itu tak terucapkan).

Kegiatan di Paroki

Sdr. Bernie memang penuh bakat dan kreativitas. Selain sibuk menjadi pastor kapelan untuk beberapa sekolah Katolik di Auckland dan pendamping retret, Sdr. Bernie juga sangat terlibat dalam kegiatan di Paroki yang pastor parokinya seorang projo. Beberapa kegiatan yang saya ikuti di Paroki bersama Bernie adalah: seminar musik liturgi yang dipandu oleh Bernie (kemampuannya untuk menyanyi dan bermain organ sangat fantastis), olah kreativitas dan semiloka sehari bersama OMK, dan tentu saja memimpin perayaan ekaristi.

Hal yang menarik adalah keterbukaan pastor paroki yang adalah projo terhadap kehadiran Bernie di parokinya. Ketika acara seminar musik liturgi dan olah kreativitas OMK, pastor paroki terlibat penuh sebagai peserta. Bahkan saran dan apapun yang diungkapkan Bernie diterima dan disupport oleh pastor paroki tanpa merasa risih. Sungguh, suatu pengalaman yang sangat menyejukkan. Kerja sama sesama pastor dalam mengelola paroki tanpa memandang projo atau biarawan.

“Ziarah” ke Holy Land Auckland

Minggu terakhir di bulan Februari, saya dan Sdr. Arul bersama dengan anggota Legio Maria Keuskupan Auckland (sekitar 220-an orang), berziarah ke makam Uskup Pompallier Motuti. Uskup Pompallier adalah Uskup pertama Auckland yang membawa Injil ke tengah umat Maori (Maori salah satu suku asli New Zealand.) Perjalanan ke tempat itu cukup panjang. Kami berangkat sabtu subuh jam 5.30 dan tiba di Motuti jam 12.30. Perjalanan panjang dan melelahkan. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya berdoa rosario. (Legio Maria memang andalan sekali. Teringat dengan Sdr. John Kea Kebu yang menggembleng anggota Legio Maria di Jayapura terutama APO untuk tekun dan gigih berdoa rosario. Sdr. John, sungguh luar biasa karena dapat menjadi pembina spiritual Legio Maria di Keuskupan Jayapura.)

Selama satu setengah jam lebih, semua orang tidak bergerak untuk masuk pekarangan rumah padahal sejak kami tiba tuan rumah sudah melihat kedatangan kami. Karena kebelet buang air kecil, saya menuju pekararangan rumah orang. Namun, pemilik rumah (yang kemudian saya tahu bahwa beliau ternyata pastor paroki di tempat itu) menyuruhku untuk kembali ke mobil. Saya heran, dan kemudian berkata saya mau buang air kecil. Tetapi dia dengan tegas mengatakan, kembali ke mobil. Maka saya kembali ke mobil. Sesampai di mobil, umat segera memberitahukan kepada saya bahwa di tempat ini adat istiadat amat dijunjung tinggi. Seorang tamu tidak diperkenankan masuk pekarangan atau rumah bila belum disambut oleh tuan rumah dengan nyanyian. Menurut mereka, kalau zaman dahulu, saya sudah dibunuh karena masuk pekarangan tanpa ijin dari pemilik rumah. Kalau mau buang air kecil, harus jalan memutar tidak boleh lewat pekarangan. Akhirnya saya tahan saja, ketimbang jalan memutar yang cukup jauh. Setengah jam kemudian,  kami disuruh   keluar mobil  dan berdiri di gerbang pagar pekarangan. Ketua Legio Maria dengan tegas menyampaikan bahwa hanya boleh satu orang yang menjadi pembicara dan selama penyambutan tidak boleh berbicara. Bila berbicara pada saat penyambutan, maka bisa disuruh pulang karena tidak menghargai penyambutan tuan rumah.

Mulailah penyambutan dengan teriakan dan nyanyian pemilik rumah. Kemudian ditanggapi dengan teriakan dan nyanyian dari juru bicara kami. Begitu seterusnya sampai kami masuk rumah (bila membandingkannya dengan budaya Baliem, kiranya semisal).  Setelah selesai penyambutan dengan nyanyian yang saling bergantian, dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dan tanggapan dari juru bicara kami. Para lelaki disuruh duduk di depan yang ada kursinya, sedangkan kaum perempuan duduk di belakang lelaki tanpa kursi (mungkin bagi para pejuang kesamaan harkat perempuan, hal ini amat menjengkelkan). Hampir sekitar satu jam acara penyambutan tersebut. Setelah ritus itu selesai, lalu saling memberikan kata sambutan yang ditutup dengan saling berjabat tangan sambil hidung bertemu hidung baik laki-laki maupun perempuan. Sungguh, sangat menarik dan unik.

Lalu mulailah acara ziarah rohani Legio Maria yang membuat saya menjadi orang kudus untuk dua hari itu.  Dalam keadaan lapar, kami mengawali kegiatan dengan ekaristi. Setelah Ekaristi dilanjutkan makan siang yang saat itu sudah pukul 15.00. Lalu jalan salib dan pengakuan dosa. Kemudian kami makan malam dan dilanjutkan dengan acara perarakan lilin sambil rosario yang berjarak sekitar 2 km. Sesampainya di tempat, dilanjutkan dengan tuguran hingga jam 22.30. Esoknya pagi hari jam 7 sudah mulai dengan doa pagi. Habis sarapan, jalan salib sambil rosario lagi sepanjang 2 km. Dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus dan ditutup dengan Ekaristi. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut diselimuti cuaca empat musim (menurut istilah beberapa umat setempat): hujan di saat matahari sangat panas, dan angin kencang yang sangat dingin. Begitulah cuacanya selama dua hari. Aneh tetapi sangat nyata. Bisa berganti begitu cepat dan bisa juga bersamaan panas, hujan dan angin.

Di saat kembali pulang menuju Auckland, kami mampir ke sebuah hutan. Di situ terdapat pohon yang berusia 2000-an tahun. Bagi orang Maori, hutan, pepohonan dan tanah merupakan ayah, ibu serta saudara-saudari mereka. Kiranya konsep ini mirip dengan konsep masyarakat Papua. Pohon-pohon yang ada di hutan tersebut, sungguh dijaga dan dirawat secara baik. Sarana jalan untuk menuju pohon tersebut disediakan secara baik dan ditata dengan bagus tanpa perlu membayar(sangat kontras dengan keadaan negeriku). Rasanya betah dan ingin bisa menetap serta berkarya di tempat ini (hehehe).

Mount Roskill, 7 Maret 2012

Salam hangatku dari Auckland yang sedang dalam keadaan hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: