Syukur 50 Tahun Imamat Sdr.Frans Lieshout, OFM

26 Jul

Dorman Skukubun (Postulant)

5O tahun yang lalu, pada tanggal 1 april 1962 Sdr.Frans Lieshout melangkah maju untuk menerima tahbisan imamat. Kini pada tanggal 1 april 2012, ia merayakan 50 tahun imamatnya. Perayaan syukur ini dirayakan pada tanggal 16 april 2012 di komunitas susteran St.Fransiskus Asisi Sinapup, bertepatan dengan pembaharuan kaul para fransiskan dan fransiskanes di Lembah Balim.

Menjelang perayaan tersebut, para saudara dan saudari di Balim mulai sibuk untuk mempersiapkan segalanya. Para postulant yang dipimpin langsung oleh Sdr.Theo Kosy membantu  para suster di Sinapup  baik hal-hal yang berkaitan dengan liturgi, dekorasi ruangan, persiapan bahan makanan serta hal-hal yang diperlukan untuk acara bakar batu.

Perayaan dimulai pada sore hari, pukul 17.00 WIT.K Sebelumnya, pada pukul 11.00 acara bakar batu telah dilakukan.Para postulant dan magister bekerja keras…maklum belum pengalaman.Untung ada malaikat-malaikat penolong dari asrama putri St.klara.Panasnya api serta teriknya sdr.matahari tak menyurutkan niat untuk bekerja. Acara bakar batu hingga buka kolam hingga sekitar pukul 13.30.

Sekitar pukul 16.30 WIT para undangan pun mulai berdatangan sehingga pukul 17.00 WIT, perayaan Ekaristi dimulai. Perayaan ekaristi dipimpin langsung oleh Sdr.Frans Lieshout sendiri yang didampingi oleh sdr.Agon Rusmadji. Lagu-lagu ekaristi diiringi oleh suara-suara merdu dari para postulant dan puteri-puteri asrama St.Klara. Misa kudus berlangsung dengan penuh khidmat serta penuh syukur.

Dalam renungannya, Sdr.Frans mensharingkan kembali pengalaman-pengalamannya selama 50 tahun menjadi seorang imam Fransiskan. Juga pengalaman awal waktu ia tiba di Papua ini dan hingga sekarang. Menurut sdr.Frans sendiri bahwa pada waktu-waktu awal di Papua ini  diperlukan kreativitas sendiri dari masing-masing pribadi untuk mulai berkarya. Profesi menjadi seorang imam yang harus melayani perayaan Ekaristi merupakan pergumulan tersendiri. Tidak lupa pula Sdr.Frans memunculkan beberapa pertanyaan refleksi yang berhubungan dengan profesi sebagai imam di waktu awal misi di Papua ini. Waktu saya berjalan kaki dari kampung ke kampung untuk mengobati orang sakit, apakah waktu itu saya adalah seorang imam? Waktu saya mulai memegang gergaji dan bekerja sebagai seorang tukang, apakah saya seorang imam? Ketika saya berdiri di depan dan mengajar tentang pertanian, apakah saya seorang imam? dan beberapa pertanyaan refleksi lainnya. Akhirnya,Sdr.Frans mengajak semua undangan untuk mau bekerja bukan hanya di atas altar melainkan juga di bawah altar karena segala pekerjaan pada hakekatnya adalah mulia. Hal ini ditunjukkan oleh sang Imam Agung sendiri.”Ia menanggalkan jubah-Nya dan kemudian membasuh kaki para murid-Nya (Yoh.13:4-5)

Setelah perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan acara pemotongan kue dan tumpeng dan sambutan-sambutan serta sebuah persembahan lagu dari puteri-puteri asrama St.klara. yang turut mewarnai perayaan tersebut. Keseluruhan acara ditutup dengan makan malam bersama. Proficiat buat Sdr.Frans Lieshout, semoga tetap diberi kesehatan yang baik  agar dapat terus melayani. wa…wa…wa…NOPASE…wa….wa…waa…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: