MEMPERKENALKAN BUDAYA PAPUA DALAM ACARA MISA PERDANA RD. FRANKi PASKALIS MAING, PR

19 Aug

Lorens Purek OFM

Kicauan burung pagi saling bersahutan pertanda hari telah siang. Situasi yang diliputi dengan kegelapan perlahan-lahan beralih menjadi terang. Terik mentari pagi pun membias dari ufuk timur dan menyinari persada bumi Lembata. Satu hari yang membawa sukacita tersendiri karena teman akrab sekaligus kaka kelas saya boleh merayakan misa perdananya di Tapobaran Lembata, Rabu 27 Juni 2012. Hal itu sudah menjadi bagian dari liburan saya, karena semenjak menjalani masa Tahun Orientasi Karya di Seminari menengah St. Fransiskus Asisi Waena, saya sudah ditelepon oleh RD. Frengki Maing, Pr dan ia memberitahukan kepada saya untuk menjemputnya di bandara Maumere Flores.

Dengan dibarengi oleh perasaan sukacita, akupun bergegas bangun bersama adik Opianus Belau dan merapikan tempat tidur. Sambil membersihkan muka dengan air, saya pun menarik tas rangsel yang digantung di jemuran untuk menyiapkan satu dua potong pakaian dan jubah. Dalam keasyikan mengemas pakaian, tiba-tiba saja ada SMS masuk dari Sr. Gabriel Maing, PRR. Beliau meminta saya untuk segera berangkat bersama adik Opinanus Belau ke tempat terselenggarnya misa perdana lebih awal karena kami akan mengadakan kegiatan bakar batu sesuai kesepakatan kami pada hari sebelumnya yaitu waktu penjemputan sang imam baru. Dengan mengendarai motor beat saya beralih dari rumahku di Waienga sambil membonceng adik Opin dan kami bergerak menuju ke Tapobaran tempat terselenggaranya misa perdana imam baru dari keuskupan Pangkal Pinang.

Kegiatan bakar batu
Saat berada di tempat penginapan di rumah dari keluarga P. Gabriel Maing, OFM saya langsung menggerakan adik-adik dari Bilogai Papua untuk memotong kayu-kayu bakar, rumput-rumput kering dan daun-daun mentah. Semua bahan-bahan yang ada disimpan saja di dekat lokasi bakar batu.

Setelah semua bahan disediakan, batu-batu mulai di bakar. Saya juga membantu adik-adik untuk memotong kayu-kayu bakar dan meletakannya diatas onggokan batu. Bersamaan dengan kesibukan membakar batu-batu, sayur-sayur, daging babi dan ayam kampung, ubi jalar, keladi dan singkong mulai dicucikan oleh para saudari. Dalam keasyikan bekerja, mulai muncul satu persatu orang-orang yang hadir dalam acara pesta itu dan menyaksikan dari dekat satu budaya dan pola baru dalam mengolah makanan. Setelah batu-batu itu kelihatan merah, mulai satu persatu dimasukan ke dalam lubang bersamaan dengan rumput-rumput dan daun-daun. Pertama-tama yang dimasukan ke dalam lubang adalah sayur-sayur hijau, kedua ubi- ubian dan yang terakhir adalah adalah daging babi dan ayam kampung. Sebagai langkah untuk memulihkan tenaga yang terkuras, Sr. Gabrielis, PRR dan Sr. Maria Praesedis, PRR mengajak kami untuk sarapan pagi dengan lauknya usus-usus babi yang diolah dengan ampas kelapa dan dibakar dalam bambu. Usai menikmati sarapan pagi, saya langsung mandi dan menyiapkan diri. Berhubung sesaat lagi waktu perayaan dimulai sehingga saya pun memberi tugas kepada adik-adik untuk membuka dan mengangkat bahan makanan yang telah masak. Selanjutnya adik Elisabeth Migau dan Rut Selegani bersama ibu-ibu mengatar ubi-ubi, sayur-sayuran dan daging-daging yang ada ke tempat acara.

Kesan yang dirasakan selama kegiatan ini berlangsung adalah nampak adanya semangat kerjasama dan kekompakan serta ada sukacita dan kebahagian yang lahir dari cerita-cerita ringan dan mop-mop yang dibagikan oleh adik-adik. Rasa-rasanya tidak ada yang mau tinggal diam di antara mereka berempat. Karena ketika yang satu selesai bercerita langsung saja disambung oleh yang lain. Sepertinya mereka saling membayar dalam menyajikan mop-mop versi Papua. Semua itu terus saja berlalu dan seakan mewarnai jalannya acara bakar batu tersebut. Lebih jauh kesan lain yang diperoleh adalah muncul saudara-saudari yang tua muda dan menyaksikan dari dekat kegiatan bakar batu. Bagi mereka cara pengolahan makanan demikian adalah sesuatu yang baru bagi mereka. Mereka pun melontarkan pertanyaan demi pertanyaan. Sebagai penjelasan lanjut Sr. Gabrielis Maing, PRR menuturkan bahwa cara pengolahan makanan yang satu ini merupakan kekahsan dari masyarakat Pegunungan Tengah Papua.
Kebiasaan ini dibuat oleh mereka dalam pesta-pesta adat, syukuran panen, hari-hari raya agama, pesta iman (tabisan imam) dan acara syukuran lainnya.

Sekilas tentang Sr. Gabrielis, PRR dan anak asuhnya
Adik-adik yang menjadi anak binaan dari Sr. Gabrielis PRR tersebut adalah Hubertus Waker dari Ilaga, Elisabeth Migau, Rut Selegani dan Opianus Belau dari Bilogai. Terus terang ketika pertama kali berjumpa dengan mereka di tempat penjemputan rombongan imam baru di Tapobaran, ada sukacita besar yang timbul dalam benak saya karena di antara kerumunan orang-orang Lembata saya masih dipertemukan dengan saudara-saudariku dari Negri Cenderawasih. Ada kegembiaraan tersendiri bagi saya dan saat pamit kembali ke rumah, saya meminta adik Opianus Belau untuk bersama saya nginap di Waienga.

Menurut keterangan dari Sr. Gabrielis Maing, PRR dikatakan bahwa beliau membawa adik Hubertus Waker dan Elisabeth Migau semenjak mereka kelas IV naik kelas V, sedangkan adik Rut Selagi dan Opianus Belau, keduanya belum sekolah. Keempatnya dibawakan dan dimasukan di Sekolah Dasar Oepoi Kupang. Sr. Gabrielis, PRR sendiri adalah biarawati dari tanah Lewoeleng Lembata yang pernah mengabdi di wilayah kabupaten Intan Jaya dengan berkomunitas di Bilogai. Ia adalah saudari sepupu dari P. Gabriel Maing, OFM. Ia mengabdikan dirinya di wilayah Bilogai dan Ilaga cuma satu tahun yang terhitung sejak tanggal 2 September 2003-2 September 2004 sebagai guru TK dan guru Agama Katolik SD Bilogai. Menurutnya saat itu yang menjabat sebagai pastor paroki di Ilaga adalah Saul Wanimbo. Lebih jauh beliau menuturkan bahwa pertengahan bulan September 2004, mereka beralih dari Bilogai menuju ke Jayapura dan nginap di wisma keuskupan Jayapura DOK II.

Perkenalan Indentitas
Sejak keluar dari kamar di rumah penginapan, ada adik, saudara dan saudari dari P. Gabriel Maing, OFM memberikan sedikit komentar lepas bahwa warna jubanya sama seperti yang pernah dikenakan oleh P. Gabriel Maing, OFM. Mendengar itu sayapun menanggapinya dengan mengatakan bahwa warna jubah kami sama karena kami sama sebagai satu saudara dalam persaudaraan Fransiskan. Tarekat yang saya pilih sama seperti yang dipilih oleh P. Gabriel, OFM yaitu Ordo Fratrum Minorum (OFM). Pengalaman ini berbeda saat saya hadir dalam perayaan misa perdana. Saat usai perayaan dan kami diberi waktu untuk santai sejenak, ada pastor-pastor tertentu yang mengatakan bahwa sewaktu melihat saya, mereka mengira bahwa saya adalah seorang biarawan Carmelit. Mendengar itu, saya pun tergerak hati untuk menjelaskan sedikit mengenai identitas saya. Dalam keramaian manusia yang berhambur sana-sini, saya memperkenalkan diri kepada beberapa pastor bersama kerumunan umat yang berdiri untuk santai-santai sejenak. Saya adalah Fr. Lorens Purek, OFM. Saya memilih masuk biara Fransiskan di Tanah Papua sejak tahun 2006.

Inilah secuil pengalaman menarik di antara sejumlah pengalaman lain yang boleh saya bagikan sebagai bingkisan beharga buat saudara-saudara. Pengalaman yang lahir semasa saya menjalani masa liburan di kampung halaman di tanah Lembaga selama kurang lebih satu bulan lebih.

One Response to “MEMPERKENALKAN BUDAYA PAPUA DALAM ACARA MISA PERDANA RD. FRANKi PASKALIS MAING, PR”

  1. Soter August 21, 2012 at 7:28 pm #

    Hebat nayak,,,,,,,,,,ko bisa bakar batu juga e,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: