MENEMUKAN WAJAH YESUS DAN FRANSISKUS DALAM BUDAYA PAPUA

19 Aug

disharingkan oleh Sdr.Ambros Sala OFM

Pengantar
Allah kita adalah Allah yang menguasai segala suku, budaya dan bangsa. Karena Ia menguasai semuanya maka Ia hadir, berada dalam suku, budaya dan bangsa sesuai dengan karakter kebudayaan setempat. Itulah Mahakuasa-Nya Allah kita. Lebih dari itu, Ia juga menyerupai manusia lewat orang-orang kecil, miskin dan termarginalisasi dari tempat asal muasalnya. Karena itu kita tidak dapat melihat Allah yang hadir pada diri mereka. Kita hanya melihat dan menemukan dengan kacamata duniawi kita, yakni bahwa orang kecil yang termarginalisasi ini adalah akibat dari kesalahan mereka sendiri. Itulah yang menyebabkan kita tidak sanggup menemukan wajah Yesus di dalam mereka.

1. Menemukan Wajah Yesus Dalam Budaya Papua
Dalam permenungan mengenai menemukan wajah Yesus dalam budaya Papua tersebut, pater Willem mencoba mengajak peserta untuk kembali melihat latar belakang penemuan Wajah Yesus dari konteks abad pertengahan.

Dalam abad pertengahan disampaikan bahwa ada lima pandangan mengenai Wajah Yesus. Pandangan pertama digambarkan Yesus sebagai berikut:
A. Mereka yang menyebarkan injil kepada bangsa-bangsa kafir dalam kerajaan Romawi, menggambarkan Yesus sebagai terang dunia dan sering juga penggenapan aspirasi dalam pemikiran dan kebudayaan bangsa-bangsa. Dengan suatu varian atas Paulus di Areopagus, – warisan bangsa-bangsa dipandang sebagai “Yesus yang tidak dikenal” dan yang kini oleh para misionaris itu diperkenalkan dalam di sosok Yesus sebagai terang dan penggenapan dunia.

B. KRISTUS mula-mula RAJA sebuah kerajaan yang bukan dari dunia ini. Raja yang mati di salib.
Sejak abad keempat Kristus Raja harus mengalami bahwa kerajaan-Nya menjelma dengan cara-cara yang agak berbeda: a.l. di dalam kekuasaan uskup Roma yang diyakini menjalankan kekuasaan Raja Kristus atas dunia yang semakin luas; atau menjelma dalam pemerintahan Kaisar-Kaisar Konstantinopel yang meyakini bahwa mereka mewujudkan kedaulatan Kristus, Sang Pantokrator di atas dunia.

C. Mulai dari abad 4, sebagian teolog melihat Kristus sebagai Logos, Akal Budi, dari Kosmos: Kristus yang Kosmis. Mereka bisa lupa dan perlu diingatkan bahwa konstruksi filosofis mereka tentang Logos atau Firman yang pre-eksisten itu tetap mesti berorientasi pada Firman yang menjadi manusia, firman yang merendahkan diri dan ditinggikan di salib.

D. Ketika struktur gereja, para uskup dan imam-imamnya kehilangan dinamika (hidup dari stipendia), para abas serta rahib-rahib menjadi pendorong kekristenan Eropa. Mereka ‘mendesakkan’ cara hidup dan kaul-kaul mereka, khususnya selibat, kepada para uskup, dan di gereja barat juga kepada imam diosesan.
Secara bergiliran, ordo-ordo para rahib menyebarkan injil ke Eropa Utara dan Timur, entah dari Konstantinopel, Italia, atau Irlandia.
Setelah Benediktin kehilangan kekuatannya, muncul kelompok-kelompok baru: Benediktus dari Aniane, Odo dari Cluny, Citeaux, Bernardus dari Clairveau, dan kemudian juga para Mendicant, dan di saat reformasi Serikat Yesus. Gambar yang mereka tinggalkan adalah Yesus sebagai “rahib yang memerintah dunia.”

E. Yesus yang disalibkan tidak dilupakan.
Salib menjadi tanda kemenangan. Dengan banyaknya tanda salib dan devosi salib lainnya, salib nyaris menjadi talisman (tanda) yang mengenyahkan yang/sang jahat.
Menurut pandangan Anselmus dari Canterbury, Allah menjadi manusia khususnya untuk disalibkan agar dengan cara yang serentak adil dan berbelaskasih Ia memberi silih sempurna yang tidak dapat diberi oleh manusia sendiri kepada Allah.
Kendati sulit ditemukan demikian dalam Kitab Suci, teologi salib dan silih inilah yang akan menjadi pegangan banyak umat Katolik dan terutama Reformasi, sementara pelayanan Yesus sebagai keseluruhan menghilang dari perhatian. Dalam konteks ini muncul seorang Fransiskus Assisi, pengikut sejati Yesus sebagai model ilahi dan manusiawi.

Yang menjadi dasar pemikiran permenungan di atas ialah dari Sabda Yesus sendiri sebagaimana yang ditawarkan oleh pembimbing rekoleksi sebagai inspirasi permenungan yaitu dari Mat 10:7-9; Mat 8:20; Luk 13:10-17; Gal 5:24-25. Dari beberapa perikop yang ditawarkan, secara pribadi saya memilih dari Injil Matius 10:7-9. Di mana dalam Injil itu disampaikan oleh Yesus demikian: “Pergilah dan beritakanlah, Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-Cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu”.

Dari Sabda Yesus di atas memberikan inspirasi tersendiri kepada saya, mungkin juga saudara-saudara, bahwa sesungguhnya kita dipanggil untuk tugas perutusan itu, yakni mewartakan Injil Tuhan Yesus dan menyampaikan bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Ini berarti bahwa kita mesti menyampaikannya sekarang, bukan lagi nanti atau besok, karena jika menunggu besok atau lusa akan terlambat dan hasilnya orang tidak mendapatkan keselamatan yang ditawarkan untuk setiap manusia. Disamping itu, apa yang dikatakan Yesus agar jangan membawa emas, perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Perkataan ini bagi saya sebenarnya mengingatkan kita untuk tidak membawa konsep, pengetahuan, kebiasaan yang menurut kita baik. Kita sadar bahwa emas, perak dan tembaga itu merupakan nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita dan kita anggap itu nilai yang baik dan benar untuk diterapkan di tempat pelayanan.

Kita harus menyadari bahwa di tempat karya kita sesungguhnya sudah ada nilai-nilai luhur yang diberikan Tuhan sendiri dalam kebudayaan setempat. Sehingga kita tidak perlu membawa “bekal” atau senjata dari mana kita berasal. Sebab sumuanya sudah ada dalam kebudayaan orang setempat. Kita tinggal menggali dari budaya itu dan menyampaikan bahwa apa yang mereka imani itu adalah Tuhan yang sama dengan yang kita imani. Hanya cara pengungkapan dan refleksi teologisnya berbeda.

Yesus Fransiskus
Bertolak dari refleksi atas cara menemukan Yesus dalam abad pertengahan, dikemukakan juga mengenai salah satu tokoh populer yang tentu kita kenal dia, yaitu bapak Fransiskus Asisi. Berikut ini kami mencoba bermenung dan menggali dari pengalaman dari bapak kita Fransiskus. Berikut ini ada beberapa hal berkaitan dengan kehidupan bapa kita Fransiskus. Bila ditanya, siapa yang selama ini paling sempurna mewujudkan hidup dan ajaran Yesus, banyak orang akan menunjukkan Fransiskus Asisi. Ikonografi dan akhirnya juga Paus Pius XI mengidentifikasi Fransiskus sebagai Alter Christus, the other Christ, Kristus yang kedua.

A. Pemuda Francesco sesungguhnya mau menjadi bangsawan perang tetapi karena salib Kristus berbalik menjadi duta Raja Agung. Pertobatannya terjadi perlahan-lahan. Peran Yesus adalah sentral di dalam proses itu. Pada waktu berdoa di depan salib San Damiano, ia menangkap panggilan Yesus, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Baru lama-kelamaan ia akan mengerti bahwa ia dipanggil untuk memperbaiki bukan hanya gedung gereja San Damiano itu, tetapi seluruh Gereja Kristus di bumi. Pada pesta Rasul Matias, Fransiskus mendengar Injil tentang Yesus yang mengutus rasul-rasul, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. … Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu” (Mat 10:7-9). Saat itu Fransiskus mendapat kepastian tentang panggilannya, dan langsung mulai melakukan hidup rasuli itu dengan ketat. Serta merta ia mulai menarik pengikut, dari beberapa menjadi ribuan dalam 10 tahun saja. Fransiskus pun membuat anggaran dasar pertama (1209) dengan kutipan-kutipan Injil Yesus Kristus guna mendapat persetujuan dari Paus Innocentius III. Bukan koleksi kutipan itu, tetapi hidup Fransiskus yang begitu konform dengan Injil Yesus, menjadi magnet yang menarik makin banyak orang dari segala lapisan.

Konformitas paling dramatis terjadi menjelang akhir hidupnya. September 1224 Fransiskus menarik diri selama 40 hari di tempat suci gunung Laverna. Dalam visiun, seorang Seraf bersayap enam, yang tak lain adalah Kristus yang tersalib, meninggalkan dalam tubuhnya luka-luka Kristus, stigmata. Inilah tanda final kemiripan hidupnya dengan Yesus. Ia yang pertama dalam sejarah yang diketahui menerimanya, dan keasliannya tampak dari cara ia menyembunyikannya tanpa membanggakannya; tanda lain kemiskinannya.

B. Kemiskinan telah menjadi ciri penting kerajaan Allah yang diberitakan Yesus, Anak Manusia, yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Kemudian kemiskinan menjadi juga kaul semua rahib sepanjang sejarah. Namun lebih sebagai tuntutan pribadi daripada institusi yang segera memiliki tanah yang luas, perpustakaan yang berharga, dan banyak harta lain. Fransiskus mengubah hal itu secara radikal;Saudara-saudara tidak boleh membuat sesuatu pun menjadi miliknya, baik rumah maupun tempat kediaman dan barang apa pun juga. Dan sebagai musafir dan perantau di dunia ini, yang mengabdi kepada Tuhan dalam kemiskinan dan kerendahan, hendaklah mereka pergi minta sedekah dengan penuh kepercayaan; (RB VI 1-2).

C. Pernikahan Fransiskus dengan Ny. Kemiskinan
Kemiskinan baginya bukan suatu kekurangan tetapi sesuatu yang amat positif, ratu segala keutamaan, oleh karena kesamaannya dengan Kristus dan Maria: “Saudara semuanya harus berusaha mengikuti kerendahan dan kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus; hendaklah mereka ingat, bahwa dari segalanya di dunia ini tidak ada yang perlu kita miliki, kecuali—seperti kata rasul—makanan dan pakaian, dan cukuplah itu untuk kita….. )Ia menjadi miskin dan penumpang dan hidup dari sedekah, baik Dia sendiri maupun Santa Perawan Maria serta murid-murid-Nya. (RNB IX 1, 5). Jangan kita keliru mengartikan kelepasan Fransiskus ini terhadap harta benda sebagai ungkapan kebencian terhadap dunia materi dan alam. Sebaliknya, Fransiskus justru membantu menemukan kembali alam dan memperkenalkan kekristenan abad pertengahan kembali dengan kenikmatan positif terhadap dunia alam. Matahari dan angin adalah saudaranya, bulan dan air saudarinya, dan bumi ibunya.

Sikapnya yang paradoksal terhadap alam juga tampak dalam sikapnya terhadap tubuhnya. Ia menjelekkan tubuhnya, mencampurkan makanannya dengan abu, dan berguling-guling dalam salju untuk melawan hawa nafsunya. Namun mati raga yang ekstrem itu adalah bagian komitmennya sebagai pengikut Kristus, mirip dengan apa yang dikatakan Paulus, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal 5:24-25).

C. Kemanusiaan Yesus
Penemuan kembali alam serta penyamaan derita tubuhnya dengan derita Kristus disertai dengan suatu kesadaran baru akan kemanusiaan Kristus yang tampak dalam kelahiran dan kesengsaraan-Nya. Kanak-kanak Yesus yang dilupakan orang, dihadirkan kembali oleh Fransiskus ketika membuat kandang Natal di Grecchio pada malam Natal. Dalam Misa Malam itu diakon Fransiskus sendiri berkhotbah tentang kelahiran Raja yang miskin itu. Lebih lagi Fransiskus terfokus pada Yesus yang disalibkan. Ia menyamakan hidupnya dengan kejadian-kejadian sengsara Yesus. “Kristus tergantung pada salib, miskin dan telanjang dan sangat menderita,” tulis Bonaventura, “dan Fransiskus ingin menjadi seperti Dia dalam segalanya” (Leg Maj 14,4). Fransiskus berusaha meniru Kristus sepenuhnya dalam hidup, derita, dan kematian.

D. Kesamaan dengan Kristus yang Miskin
Bukan kesamaan dengan Kristus yang tersalib, tetapi kesamaan dengan Kristus yang miskin akhirnya menjadi pokok yang paling kontroversial. Bentuk kemiskinan telah ditetapkan Fransiskus dengan hidupnya dan pesannya bagi para pengikut: Kristus, Maria, dan para Rasul telah melepaskan diri dari segala kepemilikan uang dan harta milik; maka kemiskinan radikal adalah esensial bagi hidup injili sempurna. Setelah kematian Fransiskus, kaum Spiritual dan Konventual berpisah karena pokok ini. Kaum Spiritual ingin mempertahankan praktik kemiskinan Fransiskus sesuai AD dan Testamen, kendati makin tegang dengan gereja institusional yang merasa ditegur karena komprominya dengan dunia. Kaum Konventual mengambil posisi yang lebih moderat terhadap kemiskinan dan gereja, sebagaimana diungkapkan dalam interpretasi Bonaventura tentang hidup Fransiskus dan anggaran dasarnya.

E. Yesus Fransisikus tetap memikat
Kendati segala perselisihan di akhir abad pertengahan dalam ordo, gereja, dan masyarakat sekitar harta dan kemiskinan, namun dedikasi fransiskan kepada Kristus sebagai model ilahi dan manusiawi tetap memikat banyak orang. Salah satu tandanya adalah suatu buku kecil, Imitatio Christi, karangan Thomas a Kempis, yang muncul dua setengah abad kemudian dan akan dibaca oleh lebih banyak orang daripada buku manapun kecuali Injil sendiri. Tokoh sentralnya adalah Yesus yang manusiawi dan tantangan ialah mencocokkan seluruh hidupnya dengan hidup Dia, yang adalah cita-cita Fransiskus.

Demikian sharing dari Timika. Semoga dalam seluruh pergumulan panggilan, kita menemukan wajah Kristus dalam diri sesama dan dengan hati yang telah dimurnikan oleh darah Yesus kita dapat menggembirakan hati Yesus yang hadir dalam orang-orang yang kita jumpai dan layani.

Kuala Kencana, 23 Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: