KISAH DAN REFLEKSI RETRET AGUNG FRANSISKAN Biara St. Klara Pacet, 20 Juni – 20 Juli 2012

13 Sep

(bagian II-selesai)

Sdr. Peter Supardi 

Retret pribadi

Setelah melewati hari-hari orientasi dan perkenalan (20-24/6/2012), kami pun memasuki waktu retret pribadi (25/6-19/7/2012). Setiap kami disodorkan secarik kertas untuk memilih pembimbing retret. Pada kertas tersebut tertera pilihan satu, pilihan dua dan pilihan tiga. Kami harus menuliskan tiga nama yang diusulkan menjadi pembimbing pribadi selama retret. Pada akhirnya, kami pun memiliki pembimbing. Sdr. Ambrosius Sala OFM, Sdr. Didimus Kosi OFM dan Sdr. Max Dora OFM dibimbing oleh Sr. Paula Fch. Sdr. Eligius Furimbe OFM dibimbing oleh Br. Triyono OFM dan saya sendiri mendapat pembimbing Sr. M.Vincetia FSGM.

Waktu selanjutnya, kami memulai masa retret pribadi. Setiap hari kami mendapat bahan renungan dari pembimbing. Sumbernya adalah Kitab Suci, Legenda Mayor, Celano, Perjalanan dan Impian, Fioretti, Kisah Tiga Sahabat dan Legenda Perugina. Kami mendapat bacaan sesuai dengan pergumulan hidup kami masing-masing. Ada saudara yang mendapat tiga teks, tetapi ada juga yang mendapat empat, lima bahkan enam teks untuk dibaca, direfleksikan dan dimeditasikan. Hasil refleksi dan meditasi selalu dicatat dalam buku harian. Retret pribadi ini berlangsung sepanjang hari, tanpa suara. Semua peserta wajib silentium.

 

Rekreasi dan integrasi

Untuk menyegarkan peserta retret, maka diadakan rekreasi dan integrasi sebanyak tiga kali. Rekreasi pertama dilaksanakan pada Sabtu, 30/6/2012. Rekreasi ini dimpimpin oleh kelompok yang telah ditentukan. Pada kesempatan ini diisi dengan cerita mob, jai dan atraksi yang dibawakan oleh setiap kelompok.

Keesokan harinya (31/6/2012), kami melaksanakan integrasi dengan mengunjungi Taman Safari Indonesia. Pk 07.00 WIB kami berangkat ke Taman Safari Indonesia denga menggunakan mini Bus milik panti asuhan St. Yusuf Sindanglaya, avansa milik pastor paroki Cianjur dan mobil provinsial OFM Indonesia, yang dikemudikan sendiri oleh Sdr. Narko OFM. Saya dan beberapa teman ikut dalam rombongan mobil avansa yang dikemudikan oleh Sdr. Maxi Dora OFM. Perjalanan tidak memerlukan waktu lama, karena tidak macet.

Saat memasuki arena taman, kami harus antri untuk beli tiket masuk. Tidak berapa lama kemudian kami mendapat tiket dan langsung mengelilingi taman dan menyaksikan aneka satwa dalam dan luar negeri yang ada di taman itu.  Setelah berkelilingi mengikuti rute perjalanan sebagaimana yang ada dalam peta, kami pun tiba di arena permainan dan pertunjukkan. Kami mulai terpencar dan memilih menonton pertunjukkan yang kami sukai. Saya sendiri menyaksikan pertunjukkan gajah, harimau, singa laut, burung, globe deat, cowboy. Selain menyaksikan aneka pertunjukkan itu, kami juga mengunjungi penangkaran binatang langkah yang ada di sekitar taman, mulai dari aneka jenis burung, harimau, orang utan, komodo, buaya, cenderawasih, gajah dan lain-lain.

Untuk makan siang, masing-masing kami mendapat sekotak nasi yang dibagikan saat tiba di arena pertunjukkan sehingga kami bisa lebih leluasan menikmatinya, tanpa harus gelisah memikirkan yang lain. Setelah menyaksikan aneka pertunjukkan itu, pada pk 16.00 WIB, kami kembali ke tempat reret di Pacet. Mula-mula perjalanan berjalan lancar, tetapi saat tiba di pertigaan menuju Pacet kami harus berhenti karena hanya ada satu jalur menuju Jakarta.  Pk 19.15.00 WIB jalur menuju Pacet dibuka dan kami pun segera melaju hingga tiba di Biara St. Klara Pacet pada pk 20.30 WIT.

Waktu selanjutnya, kami mulai silensium lagi. Kami kembali berdoa dan merenung sungguh-sungguh di bawah tuntunan pembimbing kami masing-masing. Dan tentu saja semuanya berada dalam bimbingan Roh Kudus pula.

Rekreasi dan integrasi kedua dilaksanakan pada Jumat, 6 Juli 2012. Malam hari kami melaksanakan rekreasi bersama. Kami menyanyi dan menari juga cerita mob. Di sela-sela itu menikmati snack yang tersedia. Seperti biasa, rekreasi berlangsung hingga pk 22.00 WIT, lalu kami beristirahat.

Keesokan harinya (Sabtu, 7/7/2012), kami bebas menentukan pilihan tempat integrasi. Mula-mula, saya hendak ke rumah kaka di Bogor, tetapi karena macet, maka batal dijemput. Selanjutnya, saya mengikuti rombongan ke taman bungan nusantara. Perjalanan ke sana tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20 menit menggunakan angkot. Setelah tiba, kami membeli tiket masuk seharga Rp 20.000 per orang. Kami pun menikmati indahnya aneka jenis tanaman bunga di taman ini. Setelah berkelilingi sambil foto-foto, pada pk 13.00 WIT, kami makan bakso. Dan setelah itu, kami kembali ke Biara St. Klara Pacet.

Karena masih ada waktu, maka saya dan beberapa teman pergi lagi ke panti asuhan St. Yusuf Sindanglaya, kami juga mengunjungi rumah retret yang dikelola oleh para suster FMM yang bersebelahan dengan panti asuhan. Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Ciloto. Di tempat ini, kami berjumpa dengan Sdr. Koko OFM (pernah TOP di seminari Asisi Waena tahun 2004). Setelah berbagi pengalaman, pada pk 18.15 WIB kami meninggalkan komunitas kecil Ciloto dan pergi mencari warung untuk makan malam. Ternyata tidak jauh dari tempat para saudara, ada warung sate kambing dan sup kambing. Kami langsung singgah dan makan malam di tempat ini. Sesudah itu, kami tunggu angkot, lalu kembali ke tempat retret. Kami tiba di  Biara St. Klara Pacet pada pk 20.00 WIB.

Kami mulai silensium lagi. Suasana ini diciptakan agar kami dapat menemukan kehendak Allah bagi hidup kami. Kami berdiam diri di hadapan Allah. Dalam doa, refleksi dan meditasi, kami hendak mendengarkan sapaan Tuhan secara pribadi kepada kami masing-masing. Setelah sepekan bergulat dengan diri sendiri di hadapan Allah, kami pun melaksanakan rekreasi dan integrasi ketiga atau terakhir.

Rekreasi dan integrasi ketiga dilaksanakan pada Kamis, 12 Juli 2012. Malam hari kami bersukacita karena bisa tertawa dan dapat berbicara dengan sesama teman. Kami menari dan menyanyi sambil menikmati snack yang disediakan. Keesokan harinya (Jumat, 13 Juli 2012), kami melakukan integrasi ke taman wisata alam Tangkubanparahu di Bandung, Jawa Barat. Kami pergi menggunakan satu Bus. Perjalanan cukup lama, hampir empat jam. Di sana kami menikmati panorama Tangkubanparahu. Kami juga tidak luput menghirup bau belerang yang menyengat hidung. Dalam perjalanan pulang Sr. M. Paula Fch berkisah tentang Sangkuriang, mitos terjadinya kawah Tangkubanparahu.

Dari Tangkubanparahu, kami kembali ke restoran yang terletak di pintu masuk taman wisata Tangkubanparahu untuk makan siang bersama. Sesudah itu, kami meneruskan perjalanan ke tempat pemandian air panas Ciater. Letaknya tidak terlalu jauh dari taman wisata Tangkubanparahu. Perjalanan ini menyenangkan karena kami disugguhi indahnya pemandangan kebun teh yang terletak di tepi jalan yang kami lalui. Setelah tiba dan jalan-jalan sambil berfotoria di area wisata ini, pada pk 16.30 WIB kami kembali ke Biara St. Klara Pacet. Perjalanan terasa amat jauh karena macet. Setelah sekian lama berjalan, pada pk 21.45 WIB kami tiba kembali di Biara St. Klara Pacet dan meneruskan retret kami.

 

Akhir retret

Pada Kamis, 19 Juli 2012, kami mengakhiri retret. Pada pagi hari setelah ibadat tematis dilanjutkan dengan foto bersama di taman, depan gua Maria. Pada pk 16.30 WIB dilaksanakan misa penutupan yang dipimpin oleh Provinsial OFM, Sdr. Adrianus Sunarko OFM. Pada misa ini, setiap peserta diberi kesempatan mengungkapkan pengalaman pribadinya dalam bentuk simbol. Aneka pengalaman menarik muncul dalam sharing ini dan menguatkan kami untuk tetap setia mengikuti Dia.

Malam hari dilanjutkan dengan rekreasi penutup, yang diisi dengan cerita mob, dansa dan atraksi yang dibawakan oleh setiap kelompok. Tidak ketinggalan pula atraksi peragaan aneka satwa taman safari yang dirancang oleh Sr. M. Oktaviane FSGM disuguhkan, membuat gaduh ruang rekreasi. Selain itu, peserta juga melihat film dokumenter retret yang diproduksi oleh Sdr. Ely Furimbe OFM. Pada bagian akhri diserahkan kenangan dari para peserta kepada pembimbing retret. Setelah rekreasi bersama, para peserta masih bersendagurau hingga larut malam.

Keesokan harinya, Jumat, 20 Juli 2012, pagi pk 05.30 WIT kami semua mengikuti ofisi dan misa bersama di kapel para suster Klaris yang dipimpin oleh Sdr. Adrianus Sunarko OFM didampingi Sdr. Bonefasius Budiman OFM. Kami saling membaur dengan para suter Klaris. Pada kesempatan ini, Sdr. Adrianus Sunarko OFM mengucapkan limpah terima kasih kepada para suster Klaris atas pelayanan mereka selama retret agung berlangsung. Setelah misa kami sarapan pagi bersama dan bersiap-siap untuk kembali ke tempat kami masing-masing.

Pk 08.30 WIB kami meninggalkan Biara St. Klara Pacet menuju Bogor. Kami menggunakan angkot dan minta langsung di antar di Katedral Bogor. Di sini kami bertemu dengan Bapa Uskup Mgr. Michael Angkur OFM. Dia mengantar kami melihat Seminari Menengah Stela Maris Bogor. Kami juga sempat minum dan snack di tempat ini. Selanjutnya, kami makan siang di taman topi, Bogor, yang letaknya tidak jauh dari gereja Katedral Bogor. Setelah makan, para saudara OFM Indonesia, dan para suster FSGM serta Ambo, Didi, Max dan Ely ke Depok lalu menggunakan kereta ke Jakarta, sedangkan saya dijemput oleh kaka sepupu saya untuk pergi ke rumahnya di Jasinga, Bogor. Saya tinggal di Jasinga hingga Minggu 22 Juli 2012, lalu diantar ke Kampung Ambon. Sedangkan Ambo, Didi dan Maxi dan Ely sudah lebih dulu menginap di Komunitas FSGM kampung Ambon, Jakarta Timur.

 

Pulang ke Jayapura

Sebelum pulang ke Jayapura, Senin, 23 Juli 2012, pagi hari kami masih jalan-jalan ke Universitas Atmajaya Jakarta dan Toko Buku Obor. Saya juga sempat singgah di Senen dan beli kamus bahasa Inggris. Malam hari pk 19.00 WIB, kami berlima (saya, Didi, Maxi, Ambros dan Sr. M.Oktaviane FSGM, [Sdr. Ely Furimbe OFM sehari sebelumnya sudah berangkat ke Yogyakarta]) diantar ke bandara Soekarno-Hatta menggunakan mobil milik komunitas FSGM Kampung Ambon Jakarta. Setelah tiba di bandara kami langsung melapor dan masuk ke ruang tunggu dan pada pk 21.10 WIB kami masuk ke dalam pesawat Lion Air dan terbang menuju Makasar. Sesudah transit selama tiga puluh menit di Makasar, kami melanjutkan perjalanan dan tiba dengan selamat di bandara Sentani pada pk 06.30 WIT. Saat tiba, kami dijemput oleh Sr. Saveria FSGM. Suster mengantar kami ke Biara St. Antonius Sentani.

 

Refleksi

Selama mengikuti retret agung tiga puluh hari, saya mengalami keintiman bersama Tuhan Yesus. Pada hari-hari pertama agak sulit masuk ke dalam diri sendiri dengan aneka pergumulan. Saya merasa kepala sakit dan bahkan semua badan menjadi sakit (pengalaman desolasi). Untuk mengatasi hal ini, mula-mula saya “lari” ke kebun para suster Klaris. Tetapi pada hari ketiga dan seterusnya, saya mulai merasa “ringan” dan mengalami damai (pengalaman konsolasi). Ada saat saya mengalami Tuhan begitu erat memeluk diri ini, sehingga seharian mau berada terus di dalam kapel. Namun, sebagai manusia, tidak jarang pengalaman kering dan kosong kembali merasuki diriku. Pengalaman konsolasi dan desolasi datang silih berganti.

Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan Yesus juga dialami oleh para peserta retret lainnya. Secara khusus, dalam sharing di antara angkatan kami, terungkap bahwa kami masing-masing mengalami kahadiran Tuhan secara nyata dalam retret ini. Tuhan hadir dalam rupa-rupa cara, yang kadang tidak bisa dimengerti dengan akal sehat. Pada akhirnya, kami mengalami pelepasan dari aneka ikatan yang membelenggu hidup dan panggilan kami sebagai fransiskan.

Kami bergumul dengan aneka pengalaman kami di hadapan Tuhan. Di sana kami mendapat jawaban. Di sana pula kami menemukan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan inilah yang kami terima dan akan kami jalani dalam hari-hari hidup kami selanjutnya. Kehendak Tuhan ini pula yang mengharuskan kami untuk berjuang mengalahkan kehendak diri kami sendiri berserta egonya.

Selama tiga puluh hari, kami sudah bertemu dengan Tuhan secara lebih intim. Kami juga sudah mendengarkan kehendak-Nya bagi kami. Saat ini, di tengah dunia inilah medan ujian bagi kami. Apakah kami tetapi setia dan berpegang erat pada kehendak-Nya ataukah kami mengabaikannya dan mengikuti kehendak kami sendiri?

“Tuhan Yesus, demi kasih dan pengampunan-Mu yang tak terhingga, bantulah kami berlima agar dari hari ke hari senantiasa memperbaharui niat kami untuk setia mengikuti Engkau. Semoga kami yang rapuh dan tak layak ini, engkau pakai sebagai alat-Mu dalam meneruskan warka kasih-Mu bagi semua makhluk. Engkaulah Tuhan dan sahabat kami, kini dan sepanjang masa. Amin”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: