BENARKAH PAPUA ITU TANAH DAMAI?

22 Nov

Didimus Kosi OFM

 

Latar belakang

Tanah Papua merupakan tanah yang diberkati Tuhan, yaitu tanah leluhur yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia Papua sebagai pemiliknya. Tanah Papua sebagai tanah yang diberkati Tuhan, maka manusia Papua juga diberkati Tuhan dan bukan hanya Tanah yang diberkati. Oleh karena itu, kita yang hidup di atas tanah Papua perlu saling  menghargai kepada semua ciptaan dan menjaganya, agar kita layak bertumbuh dan berkembang di tanah Papua. Tetapi seringkali kita manusia Papua kurang menyadari dan menghayatinya bahwa  tanah Papua adalah  tanah yang diberkati Tuhan, karena perilaku kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. “Tanah Papua sebagai tanah damai yang diberkati Tuhan, maka kita jangan saling menghakimi”, karena Tuhan tidak menghendaki itu, tetapi lebih penting bagi kita adalah  menghormati, menjaga dan melindungi satu sama lain. Pada dasarnya tujuan utama seperti itu namun kenyataan sekarang di Papua penuh dengan kekerasan, penindasan, marginalisasi, diskriminasi, kebodohan, perampasan kekayaan alam, ketidakadilan dan rasa ketidaknyamanan. Kondisi tersebut membuat orang yang ada di tanah Papua ini tidak merasa damai oleh berbagai masalah ini, maka menjadi pertanyaan bagi kita “ Benarkah Papua itu Tanah Damai?”.

Dengan pertanyataan ini,  perlu kita merefleksikannya secara sungguh- sungguh dan tidak bisa menipu diri kepada publik bahwa Papua benar-benar tanah Damai, karena selama ini pihak gereja dan pemerintah selalu membohongi apa yang sebenarnya. Maka kita perlu mengoreksi diri sendiri secara saksama dan jangan menjadi batu sandungan diantara kita.  Karena Papua tanah yang diberkati tersebut kini,  bukan lagi Papua tanah damai melainkan “ Papua Neraka”. Artinya bahwa orang Papua dan non Papua sekarang semakin tidak rasa nyaman oleh berbagai masalah di tanah Papua.  Alasannya adalah pemerintah kurang serius menangani masalah Papua dan selalu dilihat dari satu segi saja. Pada hal masalah yang pokok adalah masalah politik, bukan masalah OTSUS –UP4B, yang tidak  adil, melainkan harga dirinya yang telah rampas oleh bangsa Indonesia. Dan hal ini, tidak bisa disamakan dengan kesejahtraan atau makan minum sehari-hari tetapi menyangkut “harga diri orang asli Papua”, sehingga mereka menuntut Merdeka. Jadi tidak salah kalau OPM (Organisasi Papua Merdeka) masih berisih keras meminta Merdeka dari NKRI.  Karena mereka menyadari bahwa Papua dicapblok ke dalam NKRI secra tidak sah. Alasannya jelas bahwa adanya  manipulasi politik sejak  tahun 1961 sampai sekarang. Secara hukum bangsa Papua bangsa yang berdaulaut tanahnya sendiri. Tetapi hal ini tidak mereka alami karena pengambilalihan kekuasaan ditanah ini.

Papua tanah Damai yang didengungkan “gereja” selama ini kini sudah surut. Di sana sini yang terjadi kekerasan, pembantaian, diskriminasi, ketidakadilan, perampasan kekayaan alam dan Genoside secara sistematis. Maka Papua tidak bisa kita katakan Papua adalah tanah Damai, karena bagi penulis sampai sekarang belum memiliki rasa damai. Lebih baik Papua Tanah Damai bisa diganti dengan “Papua Zona Darurat” dari pada Papua tanah Damai.

 

 Damai menurut  Budaya Papua

Sesuai dengan latar belakang di atas, pada umumnya orang Papua memiliki nilai-nilai yang menjamin dalam kehidupan budaya. Nilai ini antara lain adalah  nilai kebersamaan,  nilai solidaritas dan nilai  damai.  Dari ketiga nilai tersebut yang paling pokok adalah  nilai damai, karena dengan damai bisa membangun nilai kebersamaan dan solidaritas. Sehingga bagi mereka nilai damai bukan hal yang baru bagi orang Papua,karena telah ada sebelum pemerintah Indonesia. Artinya bahwa nilai tersebut telah diwariskan oleh leluhurnya sehingga terjadinya damai antar suku. Untuk membangun nilai damai mereka selalu saling membagi kasih kepada musuh dan leluhur mereka agar semuanya menjadi satu persaudaraan dengan melalui perang, tetapi dalam arti khusus demi kesuburan dan kedamaian dengan nenekmoyang dan alam semesta. Hal konkret  yang sering dilakukan adalah di suku Dani, yaitu mereka sering dikenal dengan suku yang gemar bertempur, tetapi dalam hal-hal tertentu pertempurang ini bertujuan demi penguasaan wilayah adat dan dengan perang segala tumbuh-tumbuhan akan mengalir kesuburan (hal positifnya), walaupun  demikian mereka tetap memiliki rasa damai. Karena damai itu menjadi tujuan bagi suku Dani dan menjadi keharusan dalam suku,karena sehabis perang antar suku cepat melakukan damai dengan musuh. Dengan cara  memberikan rokok dan dalam bentuk makan. Rokok sebagai symbol kedamaian kepada yang menjadi lawan. Demikian juga makanan seperti; sepotong daging babi, biasanya di berikan kepada musuh sebagai tanda damai. Sama halnya dengan suku-suku lain di Papua. Nilai damai sampai sekarang masih diperatekan dalam kehidupan bersama dan adat. Karena bagi mereka  damai merupakan nilai  satu-satunya, yang harus diperjuangkan oleh setiap manusia di muka bumi ini. Namun kenyataan di tanah Papua adalah tidak demikian, karena dalam setiap saat orang Papua semakin mengalami kematian secara misterius sehingga sulit dikatakan karena penyakit. Menurut hemat saya kemungkinan lain adalah disengaja dibuat secara sistematis  oleh aknum tertentu supaya orang Papua bisa menjadi punah (Genosida). Karena dalam kaiatan dengan budaya nilai damai menjadi tujuan hidup dalam setiap suku di tanah Papua dan telah ada sebelum pemerintah menginjak di tanah Papua. Baru sekarang Gereja menyuarakan Papua tanah Damai, tetapi kekerasan,pembantaian,penindasan, ketidakadilan dan perampasan hak  hari demi hari masih terus terjadi oleh kepentingan oknum tertentu dan saya tidak menuduh kepada siapa-siap. Pasti orang yang menciptakan Papua tidak damai akan tahu dan sadar perilakunya, tetapi ia bertobat lebih baik sebelum hukum Allah bertindak padanya.

Damai menurut  Gereja

Berdasarkan latar belakang di atas , bagaimana pemahaman Gereja tentang Papua tanah Damai.  Damai yang dipahami oleh Gereja adalah “damai yang universal. Damai berarti tidak ada perselisihan, penindasan, kekerasan dan ketidakadilan. Kata damai berasal dari Tuhan sendiri dan Gereja hanya melanjutkan kepada dunia, agar dunia memperoleh kedamaian dan kehidupan. Kata damai ini, telah diucapkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, saat mereka rasa takut dengan  orang-orang Yahudi: “ Damai sejahtraan bagi kamu”  (John 20:19 ). Misi Gereja adalah misi damai. Maka Gereja melanjutkan misi-Nya, kepada umat manusia karena Gereja sendiri  tidak punya misi.  Misi ini, berkembang dalam persekutuan umat beriman dan Gereja menjadi senter kehidupan. Artinya Gereja menjadi jalan keselamatan bagi umat yang tertindas itu. Sebab misi Gereja adalah misi Damai untuk menyelamatkan domba-domba-Nya yang mengalami penindasan, kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan dan perampasan hak. Sehingga Gereja hadir di dunia ini untuk mendamaikan kepada semua orang; teristimewa mereka yang ditindas dan disingkirkan . Dengan Gereja   umat  Tuhan yang menderita ini pasti akan selamat dalam   kuasa Tuhan dan Tuhan menjadi sumber damai.

Oleh karena itu,  tugas Gereja adalah  memperjuangkan dan menyelamatkan  bagi domba-domba yang menderita, agar domba-domba-Nya memperoleh kehidupan dan keadilan, karena Gereja tidak bisa menutupi diri  dengan realitas sosial.  Juga damai bukan sebatas kata kampanye di muka publik atau di media masa, tetapi damai harus dinyatakan dengan perbuatan yang nyata terhadap mereka yang tertindas. Karena seorang pembunuh juga mengerti kata damai tetapi perilaku membunuh tidak pernah hilang karena baginya tidak merasa bersalah. Orang seperti ini masih dipelihara dalam kehidupan orang Papua dan ada bersama kita, karena ia merencanakan untuk memusnakan orang Papua. Jadi tidak salah kalau ada penembakan misterius yang  terjadi di seluruh Papua dengan maksud mendapatkan proyek uang, karena tanpa perbuatan ini mereka tidak punya lahan kerja di Papua. Dengan cara ini, orang Papua kemungkina akan habis, karena bagi mereka manusia Papua tidak ada arti baginya, dari pada kekayaan alamnya ( SDA).

Damai Kepentingan Politik Indonesia

Bangsa Papua merupakan rumpun Melanesia dan ras Negroid, yang memiliki suku dan budaya beranekaragam terdapat. Semuanya utuh dan tertata secara alamiah oleh leluhur mereka. Manusia Papua dikenal dengan manusia peramu dan primitif tinggal di pesisir pantai  dan pegunungan. Orang pantei dan orang gunung sangat berbeda yaitu, adat, sistem berkebun, kebersamaan dan kepercayaan kepada roh-roh leluhur.  Memang  mereka berbeda   tetapi mereka adalah satu tungku api kehidupan,yaitu sama-sama manusia Papua. Sudah benar bahwa mereka satu,namun dengan kedatangan pemerintah Indonesia terjadilah perbedaan dan melahirkan sukuisme. Sedangkan orang Papua dulunya hidup tanpa kekurangan kini juga  menjadi miskin di atas tanahnya sendiri dengan kehadiran Negara  Indonesia. Sejak  tahun 1963 Papua secara paksa dimasukan kedalam NKRI. Di sinilah terjadinya Papua tidak damai dan timbulnya konflik awal, tapi menurut hemat saya sampai sekarang Gereja dan Pemerintah selalu menyuarahkan Papua Tanah Damai, bertujuan dibalik itu adalah “ Damai Kepentingan Politik Indonesia ”dan  “gereja” pun terlibat dan  menjadi kaki tangan pemerintah Indonesia agar wilayah Papua dengan damai bisa menguasai dan merampas kekayaan alam Papua. Saya tidak menuduh kepada siapa-siapa namun menurut analisis politik. Kalau benar “gereja” harus mengakui kesalahannya, karena cara seperti ini, pembunuhan karakter  terhadap orang Papua. Kalau tidak Papua tidak akan pernah damai dan damai hanya bersifat sandiwara saja di atas pangung penderitaan orang Papua.  Oleh karena itu, menurut hemat saya: Papua tanah Damai tulisan di depan publik sebaiknya diubah menjadi “ Papua  Sona Darurat ” dari pada kita membohongi rakyat Papua dan Masyarakat Internasional.

Damai demi kepentingan ekonomi Indonesia

Kalau kita mau menyimak akar persoalan Papua sebenarnya adalah kepentingan ekonomi selain kepentingan politik.  Untuk itu, usaha kita untuk membangun Papua tanah Damai yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Gereja di tanah Papua hal sebenarnya benar, hanya dibalik Papua  tanah damai melahirkan keenakan masyarakat yang duluhnya rajin kerja kebun kini tidak lagi berkebun dan selalu mengharapkan bantuan beras dari pemerintah (raskim). Keenakan tersebut mengakibatkan orang Papua menjadi pemalas kerja dan tidak tahun berkebun sebagai anak negeri.  Sehingga kebanyakan orang Papua membawa MAF yang berisi Porposal kepada pemerintah untuk minta bantuan dana,meminta pemekaran provinsi baru, kabupaten, distrik dan desa. Karena orang Papua merasa  enak kalau tidak bekerja keras dan menikmati hasil keringatnya sendiri. Jadi sumber persoalan  di sini adalah pemerintah, karena pemerintah tidak mendidik orang Papua dengan kerja keras sehingga kita mau paksa mereka kerja keras seperti yang diajrkan nenekmoyang mereka sangat sulit.  Orang  Papua sebenarnya kaya sumber daya alam dan segala kebutuhan manusia telah tersedia. Hanya karena  manusia Papua tidak tahu kerja maka orang lain yang datang menguasai dan merampas hak hidupnya, yaitu PT. Freeport  Papua yang kaya dengan emas dan tembaga, itu  telah diambil oleh orang lain dan orang Papua menjadi penonton dan miskin. Tetapi kita  perluh  sadar bahwa tujuan utama kehadiran negara Indonesia di tanah Papua hanya demi kepentingan ekonomi, maka damai di tanah Papua sangat tidak nyata. Karena sejarah membuktikan bahwa usaha pemerintah Belanda untuk memberikan kemerdekaan politik Bangsa Papua di wilayah Papua Barat semakin nyata pada tahun 1961.  Hal ini, lebih didorong oleh konvenan PBB tentang Dekolonisasi tahun 1960. Dalam rangka itu pemerintah Belanda melalui Menteri Luar Negeri Josep Luns meluncurkan program 10 tahun persiapan dan pemerdayaan orang Papua. Namun dengan kepentingan Ekonomi program itu segera ditanggapi oleh Indonesia melalui manuver –manuver politiknya di dunia Internasional sehingga dalam sidang Majelis PBB tanggal 28 November 1961 Indonesia berhasil menggagalkannya demi kepentingan ekonomi dan Politik Indonesia. Dengan bukti tersebut  damai yang dibangun di tanah Papua merupakan  kepentingan Indonesia, agar ia mampu menikmati kekayaan alam Papua. Dengan kekayaan  alam yang berlimpa tersebut menjadi masalah sehingga, di mana –mana ada TNI –POLRI  didatangkan disetiap wilayah perusahaan. Karena dengan kehadiran mereka banyak terjadi konflik di Papua dan bukan melindungi rakyat. Konflik ini, selalu mengatas namakan TPN-OPM,pada hal mereka yang ciptakan koflik.  Dengan konflik  ini,  tanah  Papua yang diberkati Tuhan tersebut telah menjadi  tanah nereka.  Untuk  itu, solusinya adalah dialog dan pengakuan Negara Papua.

Penutup

Dengan demikian  Papua tanah yang diberkati Tuhan tersebut terjadi banyak masalah dalam kehidupan orang Papua dan non Papua. Dari banyak masalah di atas sebenarnya hanya karena kepentingan ekonomi dan politik Indonesia, maka sangat cocok kalau Papua masih tetap tanah damai. Karena  dibalik Papua tanah damai Pemerintah Indonesia mampu membuka ruang konflik dan kekerasan mengatasnamakan TPN-OPM, maka “bernakah Papua itu damai”. Hal yang anehnya adalah Gereja menyuarahkan Papua tanah Damai, tetapi koflik terus terjadi, maka menurut hemat saya adalah Papua tanah damai bisa diganti dengan  Papua Sona Darurat.  Karena kekerasan demi kekeras terus terjadi baik kepada Orang Papua, non Papua dan juga kepada anggota TNI-POLRI.  Uuntuk menghindari semua  konflik ini sebagai solusi adalah pemerintah membuka dialog dengan bangsa Papua kemudian sekaligus memberikan pengakuan Negara Repbuplik Federal Papua Barat (NRFPB),kalau tidak kasihan orang Papua akan punah di atas negerinya sendiri. Karena Negara Papua telah ada sebelum Indonesia merdeka, maka dengan Negara yang sudah ada itu usaha pemerintah Belanda untuk memberikan kemerdekaan politik Bangsa Papua di wilayah Papua Barat semakin nyata pada tahun 1961.  Hal ini, lebih didorong oleh konvenan PBB tentang Dekolonisasi tahun 1960. Dalam rangka itu pemerintah Belanda melalui Menteri Luar Negeri Josep Luns meluncurkan program 10 tahun persiapan dan pemerdayaan orang Papua. Namun dengan kepentingan Ekonomi program itu segera ditanggapi oleh Indonesia melalui manuver –manuver politiknya di dunia Internasional sehingga dalam sidang Majelis PBB tanggal 28 November 1961 Indonesia berhasil menggagalkannya demi kepentingan ekonomi dan Politik Indonesia. Dengan kepentingan ini sampai sekarang orang Papua masih mengalami konflik di atas kekayaan alamnya.  Maka bagi saya Negara Indonesia menguasai di tanah Papua bukan untuk mendidik orang Papua melainkan mencari kekayaan alam. Dengan kondisi ini, orang Papua memintah Merdeka, Negara tidak mau memberikan. Apa alasanya pak SBY? DI manakah Hati nuranimu untuk keselamatan umat Allah? Dan bagaiman sikapnya untuk bangsa Papua?

Penulis Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi ( STFT)  Jalan Yakonde- Padang bulan. Sekarang tugas  Pastoral di Taja.

  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: