Membangun Kepekaan dalam Komunitas

24 Apr

Sandro Rangga OFM

 

Saya menulis pengalaman saya ini sebagai bentuk refleksi atas “karya” saya sebagai seorang “saudara muda” yang nota bene adalah seorang mahasiswa.

Saya memulai kisah saya ini dengan “karya” pertama saya yaitu mengurus majalah duta damai. Tak kurang sudah tiga tahun, saya mengurus majalah tersebut sejak Juli 2010. Kustos yang meminta saya secara langsung karena tidak ada yang mengurus majalah tersebut sehingga tersendat-sendat. Selain itu bertepatan dengan masa Tahun Orientasi Karya, saya juga mengajar di novisiat. Hal ini juga masihberlangsung hingga saat ini. Kadang satu mata kuliah (atau bahasa inggris atau aktualia) kadang dua mata kuliah (bahasa inggris maupun aktulia).

Pada tahun 2010 pula, saya mendapat SK sebagai anggota panitia yubileum fransiskan di Papua. Pada tahun 2011, dalam rapat para pimpinan komunitas OFM dan Regio sejayapura raya, saya dipercayakan untuk menjadi pengurus Persaudaraan Fransiskan Se-Jayapura Raya (sebagai sekretaris). Saya kemudian terpilih lagi menjadi pengurus untuk periode 2012/2013. Pada tahun 2013 ini, selain hal-hal di atas, minus anggota panitia yubileum, saya juga mengajar di seminari menengah St.Fransiskus Asisi-Waena.

Dalam menerima “karya-karya” di atas, saya selalu berusaha agar mentaati prosedur dalam hidup bersama: menyampaikannya kepada magister dan jika disetujui, menyampaikannya kepada anggota komunitas dalam rapat rumah.

Akan tetapi meskipun telah mentaati prosedur yang ada, ternyata masih saja ada kecemburuan dalam hidup berkomunitas. Rupanya benar kata Gardian Abe-Waena, Sdr.Agus Adil OFM bahwa dengan alasan apapun, kecemburuan dapat saja timbul dalam hidup bersama. Mengapa demikian?

Bertolak dari nilai kepekaan dalam hidup bersama yang saya pelajari dan saya hayati sejak postulan di Wamena, bahwasaanya kecemburuan dapat timbul kapan saja dan terhadap setiap saudara dalam hidup bersama. Kita bisa cemburu karena ada saudara yang pake hp, yang lain tidak. Kita bisa cemburu karena ada saudara yang tiap bulan selalu ada yang baru (entah pakaian atau apalah). Kita bisa cemburu karena saudara yang satu diberi tanggug jawab dan kepercayaan besar, yang lain tidak. Kita bisa cemburu karena saudara yang satu “bebas”, yang lain harus ikut kegiatan komunitas. Selain nilai-nilai seperti kepercayaan pada saudara, karya saudara sebagai karya persaudaraan, salah satu nilai yang dapat dikembangkan ialah nilai kepekaan.

Saya belajar (sejak postulat) bahwa kepekaan dibangun dari hal-hal yang kecil: peka akan kebersihan (diri saya yang tidak bersih mungkin merasa aman-aman saja namun yang lain terganggu), peka akan saudara yang belum makan (kadang ada yang lauknya begitu enak sampai-sampai yang lain tidak kebagian), ada candaan yang “bernas” (“ko bangun pagi malas sekali,” disampaikan dengan bercanda tetapi mengandung kebenaran di dalamnya).

Tatkala masih menjadi anggota komunitas Sang Surya, Sdr.Ino Ngari pun mengajarkan bagaimana peka akan hidup bersama: akan teras yang kotor dan harus disapu tanpa menunggu petugas, akan bunga yang layu dan kering karena tidak disiram, akan saudara yang bekerja sendirian dan sebagainya. Nilai kepekaan adalah senjata ampuh agar kecemburuan dalam hidup bersama dapat terus tidur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: